Adelia's.
"Dibanding aku—yang dari kecil susah nurut—Narendra bisa dibilang 'anak emas' Bapak dan Ibu karena nggak pernah membantah mereka. Sekolah harus di sini, berperilaku harus begitu, pencapaian yang didapatkan harus sebanyak ini. Kalau itu aku, atau orang lain, udah gila kali kami, Mbak. Tapi, Narendra nggak. Mungkin karena udah terbiasa, dan dia juga menikmati apa yang dia dapat dari usahanya."
"Kasian, ya?" kataku tanpa sadar, membuat Waya yang duduk di kursi depan mobil tertawa—terdengar janggal.
"Dia nggak menderita, loh, Mbak. Ngapain dikasihani?" tanya Waya balik dengan nada sarkas tapi entah kenapa aku merasakan perasaan lain dari Waya waktu mengucap barusan. "He enjoys everything he gets from working hard to be our family dog, as I told you."
Aku memang belum lama mengenal Waya, tapi sejak mengenalnya, adik Narendra ini punya kesan yang baik. Dia mungkin pernah kesal dan menjelek-jelekkan Narendra—sebatas olok-olokkan antara adik dan kakak—belum separah yang seperti aku dengar barusan.
Tanganku terulur ke depan, melewati kursi Waya untuk menepuk bahu pria itu pelan untuk menegur caranya membicarakan Narendra.
"Padahal, baru aja 2 hari lalu lo nangis-nangis! Goblok banget emang!"
Gumaman Waya membuatku mengerutkan kening. Siapa yang dimaksud pria itu? "Gimana, Ya? Kamu ngomongin siapa?" tanyaku membuat keadaan mobil langsung berubah hening.
Setelah beberapa saat, Waya berdecak, "Suami Mbak, lah. Siapa lagi?" jawabnya dilengkapi dengkusan lain.
Narendra?
Pria yang seharian ini mengabaikanku?
Pria yang meninggalkanku beberapa jam lalu untuk pergi ke Bali sendiri?
Pria yang beberapa saat lalu memukuli Gilang tanpa alasan yang jelas menangis beberapa hari sebelum pernikahan kami?
"Isn't it hard to believe?" Kepalaku mengangguk. "Awalnya, aku juga kaget waktu liat dia begitu untuk pertama kalinya. Narendra yang aku kenal, nggak pernah takut sama apa pun. Dulu dia pernah kena hajar sama Bapak juga diem-diem aja. Yesterday was the first time I saw him cry (though he was trying hard not to), as well as him feeling scared.
"Dibanding terhibur karena bisa mengolok-olok Narendra, aku malah ikut merasa takut karena menemukan satu sisi manusiawi yang selama ini aku kira nggak pernah dia punya sebelumnya." Aku tidak tahu persis bagaimana ekspresi yang dibuat Waya sekarang, cuma aku bisa mendengar helaan napas panjangnya.
Mendengar cerita dari Waya, entah kenapa dadaku merasa sesak.
Harusnya aku bersyukur, harusnya aku senang, karena Narendra benar-benar merasa takut—sesuai dengan keinginanku sebelumnya—ketika bersangkutan dengan pernikahan kami yang dianggap enteng olehnya.
Seseram apa Narendra membayangkan menjalani pernikahan bersamaku?
"Iya, Pak? Ini kami lagi on the way sama Pak Waya dan Ibu juga, Pak. Oke, Pak. Baik." Duduk di sebelahku, obrolan Dira dengan orang yang aku duga Narendra membuatku dan Waya sama-sama menoleh ke arah wanita itu.
Sama penasarannya, Waya mendahuluiku untuk bertanya. "Narendra yang telepon, Dir? Bilang apa dia?"
"Bapak sudah dapat tiketnya. Sekarang sedang menunggu di Blue Sky Premier Lounge, Pak, Bu," jawabnya sambil menatap ke arahku.
Keberangkatan kami ke Bali yang dijadwalkan besok siang, mendadak berubah tengah malam begini secara tiba-tiba. Ketika Dira datang sambil mengetuk pintuku dan memintaku untuk bersiap-siap pergi menuju airport, aku sebenarnya belum benar-benar sadar karena pertengkaran kecilku dengan Narendra sebelumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DISCONNECTED (COMPLETED)
ChickLit[note : dilarang membagikan atau merepost cerita saya di menfess base twitter.] disconnected /ˌdɪskə ˈ nɛktəd/ : not connected to something. Nothing matters to them except the other person's perception of themselves. Achievement, success, intelligen...
