Narendra's.
Setelah melipat sajadah dan meletakkannya ke badan kursi, gue kembali berjalan menuju ke ranjang—bergelung tepat di samping Adelia yang masih terlelap.
Tangan gue melingkar di perut wanita itu, mengusap punggungnya perlahan. Beberapa kali Adelia keliatan bergerak nggak nyaman, mungkin karena perih—sesuai pengakuannya tadi waktu mengeluh tentang punggungnya yang terasa sakit.
Sesampainya di Bali, gue dan yang lain langsung pergi ke resort—tempat gue dan Adelia melangsungkan resepsi secara private malam nanti—setelah mampir ke salah satu rumah sakit untuk memeriksakan bekas luka yang didapat Adelia.
"Ndra..."
Tangan gue berhenti mengusap, menatap Adelia yang berusaha membuka matanya. "Tidur. Masih jam 5, kamu nggak sholat, kan?"
Sayangnya, Adelia masih sama keras kepalanya. Ia menggeleng pelan, melepaskan pelukan tangan gue yang melingkari perutnya. Memang dia mau ke mana subuh-subuh begini, di saat dia baru istirahat sebentar?
Gue menjauhkan tubuh, membiarkan Adelia duduk di atas ranjang. "Mau ke mana? Ini masih subuh, Bu," kata gue, membantu Adelia merapikan rambut panjangnya yang berantakan.
"Nggak bunyi?" Alis gue berkerut, menatap iPhone yang ditunjuk Adelia. "Ada telpon nggak tadi?"
Baru aja gue mau bilang kalau gue nggak tau, waktu Adelia akhirnya memutuskan untuk memeriksanya sendiri.
"Kenapa, sih?" Gue sempat melihat wajah panik Adelia sebentar, sebelum akhirnya dia bernapas lega.
Adelia kembali meletakkan iPhone-nya di atas meja di samping ranjang kami, sebelum kembali merebahkan tubuhnya di sampingku. "Takut kalau Mama atau Ayah telpon," katanya dengan suara yang teredam guling yang dipeluknya.
Dia pantas khawatir.
Ini Adelia ada sama gue—jujur, gue nggak bisa ngebayangin gimana paniknya wanita itu kalau sampai gue tinggalkan sendirian di Jakarta.
Yang harus dia hadapi bukan cuma orang tuanya aja, tapi orang tua gue juga. Apa yang bisa Adelia bilang? Suaminya semalam pergi ke Bali karena gondok?
Sekali aja gue salah langkah...
Tangan gue terulur lagi mengusap punggung Adelia, "Masih perih?" Adelia menggeleng. "Nggak usah khawatir soal itu. Aku sudah kasih kabar ke Ibu sama Bapak kalau kita berangkat ke Bali lebih cepat dari jadwal semula."
Bahkan, sebelum Adelia sampai gue lebih dulu menghubungi Ibu dan menitipkan pesan yang sama ke Bapak juga, termasuk ke orang tua Adelia.
"Ngantuk, Ndra..."
Gue bilang juga apa? "Kan, tadi udah dibilang tidur aja, Bu."
"Thank you." Tangan gue masih bergerak mengusap punggung Adelia di saat gue dibuat kebingungan sendiri. "Terima kasih karena sudah mau ajak aku untuk ikut kamu ke Bali tadi malam," lanjutnya terdengar lirih.
What should I call my stupid behavior last night?
Mendengar sendiri pengakuan dari Bapak, Ayah, dan Gilang kemarin pagi—I was already emotional, so I chose not to discuss it with Adelia. Dan, gue tau keputusan gue itu bisa aja semakin memperumit situasi di antara Adelia dan keluarganya.
Sampai gue ketemu Adelia di lounge-pun, gue masih belum tau harus bersikap seperti apa ke wanita yang hari ini resmi menjadi istri gue itu.
Apa yang gue dengar dari Gilang soal dia yang menjual cerita sedih ke gue, berhasil mengusik pikiran gue.
Gue nggak tau harus percaya atau nggak soal cerita-cerita yang pernah dibagi Gilang ke gue setelah dengar kalau semuanya memang 'sengaja' dilakukan.
Sampai akhirnya, gue menemukan lebam-lebam di tubuh Adelia—pertama kali melihatnya dengan mata gue sendiri—waktu kami menyempatkan untuk memeriksa keadaan Adelia ke rumah sakit sebelum pergi ke resort.
KAMU SEDANG MEMBACA
DISCONNECTED (COMPLETED)
Genç Kız Edebiyatı[note : dilarang membagikan atau merepost cerita saya di menfess base twitter.] disconnected /ˌdɪskə ˈ nɛktəd/ : not connected to something. Nothing matters to them except the other person's perception of themselves. Achievement, success, intelligen...
