Adelia's.
"Kebayanya tadi cantik banget, Bu. Cocok sama Ibu!"
Pujian Dira yang tidak berhenti seusai aku melakukan fitting tadi berhasil membuatku lelah karena harus menahan senyum.
Di kursi penumpang, aku menganggukan kepala. "Saya juga suka sama kebayanya," komentarku menyetujui ucapan Dira.
"Desainnya Ibu Elok memang bagus-bagus, ya, Bu," komentar Dira, masih belum mau berhenti memuji.
Untuk yang satu itu, aku sepenuhnya setuju. Saat Ibu Narendra mengusulkan nama Ibu Elok Harjanti sebagai desainer kebayaku untuk acara akad dan resepsi pernikahan, kata setuju langsung keluar dengan mudah.
Siapa memang yang tidak mengenal salah satu desainer kebaya terkenal itu? Semua desain kebayanya terkenal sampai ke kancah internasional. Karyanya dijuluki karya yang ekslusif, bukan hanya karena bahan dan desainnya saja tapi juga karena Ibu Elok tidak menjual kebayanya ke sembarang orang.
Hanya ada beberapa selebritis dan politikus yang berbangga hati pernah memakai kebaya buatan Ibu Elok. Mama adalah salah satu orang yang pernah ditolak Ibu Elok ketika akan memesan kebaya untuk menghadiri salah satu acara peresmian usahanya beberapa tahun lalu.
Mengetahui sulitnya mendapatkan kebaya Ibu Elok tentu membuatku bersemangat ketika Ibu Narendra mengatakan kalau Ibu Elok bersedia membuatkanku kebaya untuk acara pernikahan.
Perasaan sedihku karena hanya aku sendiri saja yang terlibat dalam persiapan pernikahan ini jadi sedikit terobati.
"Warna kebayanya juga cantik banget, Bu! Cocok sama kulit Ibu." Pujian lain keluar dari bibir Dira bersamaan dengan tepukan tangannya.
Aku tidak lagi bisa menahan tawa melihat tingkah Dira, "Dari awal semuanya saya serahkan ke Ibu Elok. Cuma warna aja yang ngikutin request dari saya."
"Itu tadi warna kebaya akadnya cream bukan, sih, Bu? Atau coklat?" tanyanya lagi.
"Warnanya parchment, Dir," jawabku membuat Dira bergumam panjang.
Sebelum bertemu dengan Ibu Elok, Mama lebih dulu menyuruhku untuk berdiskusi dengan Mbak Farah—color dress specialist—supaya bisa menentukan warna yang cocok dengan kebaya yang akan kugunakan nanti.
Tadinya, Mbak Farah mengatakan kalau warna putih akan sangat cocok untuk kebaya akadku, tapi aku memintanya untuk mencari warna lain—selain warna putih—yang masih cocok untukku. Dan, dari sanalah Mbak Farah muncul dengan warna parchment yang ia bilang akan membuat tampilanku terlihat bersinar.
Dari kursi depan, suara Dira kembali terdengar. "Kenapa Ibu hari ini nggak ngasih tahu ke saya kalau mau fitting kebaya, sih, Bu? Tahu gitu, 'kan, saya bisa atur jadwal Bapak buat nemenin Ibu."
Dan mendapatkan gelar menyusahkan dari Narendra?
No. Thanks!
"Cuma fitting aja. Bapak kalian, 'kan, lagi sibuk juga." Setelah mempersiapkan semuanya sendirian, pergi fitting sendiri bukanlah hal yang harus dibesar-besarkan juga. "Asal waktu akad nggak mangkir aja," gumamku pelan, membuat keadaan di mobil langsung berubah hening seketika.
I seem to have made things awkward once more...
Melihat Dira dan Hilman sama-sama diam, aku hanya bisa menghela napas panjang. Rasanya keadaan akan makin buruk jika aku memaksa untuk menyambung obrolan kami tadi.
Mungkin karena lelah dan kesal, aku jadi tidak mengontrol ucapanku sendiri.
Meskipun mencoba berpikir positif, aku tetap merasa kesal dan sedih ketika mengingat fakta kalau persiapan pernikahan ini aku lakukan sendirian.
KAMU SEDANG MEMBACA
DISCONNECTED (COMPLETED)
Chick-Lit[note : dilarang membagikan atau merepost cerita saya di menfess base twitter.] disconnected /ˌdɪskə ˈ nɛktəd/ : not connected to something. Nothing matters to them except the other person's perception of themselves. Achievement, success, intelligen...
