DIS-30-Icing On The Cake

23.9K 2.3K 835
                                        

Adelia's.

It reminds me of fireworks.

Meledak-ledak, menyilaukan, dan.... menyenangkan.

Napasku memburu, serupa dengan napas Narendra yang kini wajahnya bisa kulihat dengan jelas.

"I agree that this should be done more frequently," bisikan Narendra tepat di depan bibirku, membuat mataku terpejam.

Padahal, apa yang aku ucapkan tadi bukan soal ini... Baru saja aku ingin menjelaskan, Narendra kembali menghapuskan jarak sempit di antara kami.

Perutku rasanya melilit saat di sela tautan bibir kami, Narendra tertawa kecil seraya mengeratkan rangkulannya di pinggangku.

Mataku menangkap keseluruhan wajah Narendra, juga ulasan senyumnya ketika ia menjauhkan wajahnya. "I can't seem to stop myself." Napas pria itu sama berantakannya dengan degup jantungku sekarang. "Tapi, kayaknya kita memang harus berhenti karena mereka berisik banget," lanjutnya memasang senyum geli di antara riuh siulan dan makian di sekitar kami.

Perasaan macam apa ini?

Jarak kami masih sedekat tadi, meski Narendra bilang kami harus berhenti tapi dia sama sekali tidak berusaha melepaskan diri dariku. Tubuhku bergerak tidak nyaman saat merasakan usapan lembut Narendra di pinggangku. Dilihat dari tatapannya, aku tahu kalau pria itu sengaja melakukannya.

"What exactly are you doing?" tanyaku di sela napasku yang masih tersengal. Salah satu tanganku yang tadinya bertengger di bahu pria itu ikut menahan tangan Narendra yang masih berada di pinggangku.

Mataku mengerjap cepat saat Narendra menghapuskan jarak kami, mencuri kecup di bibirku beberapa kali. "Isn't this weird?"

Kepalaku bergerak mundur, merasakan bibir Narendra yang bersentuhan dengan bibirku ketika ia bertanya barusan. "Apanya yang aneh?" tanyaku, menelan saliva kelat di bawah tatapan Narendra.

"Ini semua," jawabnya membuat keningku mengernyit. "We had a fight not long ago, and you and I don't seem right for each other. And now look at us..."

Aku kesulitan bernapas mendengar bisikan Narendra tepat di depan wajahku. Dengan mata terpejam, aku menganggukan kepala menghasilkan tawa berat Narendra sebelum aku merasakan kecupan lain mendarat di bibirku berulang-ulang.

"That is exactly how you feel. Do you have any idea how I feel?" tanyaku balik di sela kecupan Narendra.

Pria yang sudah resmi menjadi suamiku sejak kemarin itu kelihatan terkejut sebelum ia menangkup sisi wajahku dengan salah satu tangannya. "So, how do you feel? What do you think about our relationship now?"

"Aku masih takut."

Kejujuranku barusan membuat Narendra tersenyum sembari menganggukan kepalanya—tentu hal itu mengejutkanku. "That is perfectly reasonable. Your emotions are correct. because I'm experiencing the same fear right now," jawabnya, membalasku dengan kejujurannya juga.

Jadi, begini rasanya dipahami?

Jadi, begini rasanya bisa berbagi cerita dengan Narendra—sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan selama ide perjodohan membayangi kami berdua?

"Kamu yang sekarang ini... juga bikin aku takut, Ndra," bisikku pelan, merasai tangan Narendra mengusap pelan punggungku.

Perubahan sikapnya, soal penerimaanku yang terkesan biasa-biasa saja soal hubungan kami sekarang membuatku tidak bisa lepas dari segala macam pemikiran buruk.

Alunan lagu kembali berubah, mendadak suasana ikut menjadi hening di sekitar kami.

Narendra menurunkan tatapannya agar bisa bertemu dengan kedua mataku. "Kalau dari awal kamu nggak gengsi-gengsian begitu, mungkin kamu sudah ketemu sama 'aku,' Bu." Narendra mengulas senyumnya saat tidak mendapatkan reaksi apa pun dariku. "This is also one of my efforts to accept the situation we are both in right now."

DISCONNECTED (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang