DES-15-On the Fence

17.5K 2K 127
                                        

Narendra's.




"Sejauh ini belum ada berita yang di up ke media, sih, Ndra."

Penuturan Jeremy lewat sambungan telepon membuat gue baru bisa bernapas lega. "Gue minta tolong lo handle yang ini juga, ya, Jer? Bisa bahaya kalau sampai ada rumor yang nggak bener soal Adelia."

"Santai aja, sih, Ndra. Firman juga udah ngehubungin gue, dia bilang kalau dia yang handle langsung korban-korbannya di sana. Kalau udah dapat konfirmasi dari Firman soal next stepnya, gue bakal kabarin media-media yang lain buat nggak terima berita soal Adelia—sesuai sama instruksi awal dari lo."

Kalau informasi yang gue dapat se-detail ini, gue bisa bener-bener percaya kalau masalah ini seenggaknya sudah bisa diatasi dengan baik lewat orang-orang kepercayaan gue.

Sebelum menyudahi obrolan bersama Jeremy yang memang gue hubungi begitu tahu kalau Adelia mengalami kecelakaan, gue juga sempat menanyakan progress mengenai berita korupsi yang menyangkut nama instansi gue yang masih ramai dibicarakan di beberapa portal media.

Jeremy bilang gue nggak perlu lagi memikirkan soal itu, karena timnya dan Pak Edgar sudah menemukan jalan keluar setelah gue getol menghubungi Pak Darmawan akhir-akhir ini.

Gue dengar Jeremy tertawa pelan di seberang sambungan, "Sekarang mending lo fokus sama calon Ibu Besar aja, Ndra. Masa-masa PDKT begini memang biasanya banyak ujiannya," katanya memberitahu gue seakan-akan dia punya pengalaman di masalah percintaan begini.

Apa Jeremy nggak keliru, ya?

Yang pernah gue denger itu kalau mendekati masa pernikahan memang banyak ujiannya. Lah, ini kenapa jadi masa PDKT yang dia singgung?

Tapi, kalau mau diingat-ingat lagi, apa yang dibilang Jeremy barusan memang nggak salah juga, sih...

"Eh, tapi, Ibu Besar keadaannya gimana?" Pertanyaan Jeremy barusan berhasil membuat gue memaki pelan, teringat soal Adelia.

Meminta waktu sebentar dari Jeremy, gue menjauhkan iPhone dari telinga. "Ibumu belum keluar juga, Di?"

Abdi yang duduk di belakang kemudi menggelengkan kepalanya pelan, "Belum, Pak. Tadi saya sempat liat Mbak Dira, cuma tadi masuk lagi ke dalam klinik," jawabnya, membuat gue kembali memperhatikan klinik yang Adelia kunjungi untuk mengantarkan korban kecelakaan yang dia buat.

"Keadaannya, ya..." Saking paniknya, gue justru nggak memeriksa keadaan Adelia tadi sebelum dia turun dari mobil gue. "Gue nggak tau," sambung gue dengan nada pelan.

Jeremy terdengar berseru kaget. "Hah?"

Setelah menerima kabar kalau Adelia kecelakaan, gue bener-bener takut setengah mati. Gue bahkan sempat ngebentak Abdi karena menyetir terlalu lama.

Saat itu yang ada di pikiran gue cuma gimana caranya berita tentang kecelakaan yang dibuat Adelia nggak sampai ke telinga media. That is not for me, tapi buat Adelia sendiri.

Gue nggak akan bisa membayangkan seberapa chaosnya keadaan kalau berita ini sampai ke media. Cerita Gilang soal perlakuan Ibu Kanaya dan Pak Jaelani ke Adelia-lah yang ngebuat gue mendadak berubah 'kasar' waktu liat Adelia—tanpa masker—memasuki mobil gue tadi.

"Bukannya lo bilang lo ada di Surabaya, ya, Ndra?" tanya Jeremy kebingungan.

Baru aja gue berniat menjawab pertanyaan Jeremy, mata gue menangkap sosok Adelia, Dira, Firman, dan Hilman berjalan keluar dari klinik.

Tanpa bicara apa pun, gue memutus sambungan telepon bersama Jeremy dan segera memasang masker sebelum turun dari mobil.

Waktu gue berjalan menghampiri mereka, gue bisa liat Dira menggelengkan kepalanya kayak mewanti-wanti gue supaya nggak membuat masalah.

DISCONNECTED (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang