Narendra's.
"Pak, nggak mau makan malam dulu?" Firman yang sebelumnya mengetuk sekali, muncul dari balik pintu ruangan gue.
Masih sambil menekuri dokumen peningkatan prestasi olahraga, gue menggelengkan kepala. "Skip dulu, Man. Kamu ajak makan yang lainnya aja. Saya yang traktir."
Biasanya kalau mendengar kata 'traktiran,' Firman atau Dira biasanya langsung sumringah—meninggalkan gue setelah mengucap puluhan kata terima kasih. Tapi, hari ini jadi pengecualian karena bukannya keluar dari ruangan gue, Firman justru melayangkan tatapan khawatir ke gue.
"Kenapa?" tanya gue yang sepertinya mengejutkan Firman. "Kaget amat? Kenapa? Kamu mau izin pulang cepat malam ini?"
Firman mengibaskan tangannya, "Bukan, Pak." Gue sengaja diam, menunggu Firman melanjutkan perkataannya—memberitahu gue alasan sebenarnya dari sikap nggak biasanya barusan. "Sebenarnya, dari tadi pagi, Pak Gilang ada menghubungi saya untuk menanyakan jadwal Bapak hari ini," jelasnya, gantian membuat gue kaget.
"Siapa? Gilang?" Suara keras gue dibalas anggukan panik Firman. "Kamu ada balas?" Masih berani ternyata dia nanyain gue?
"Sebelum saya balas, Pak Gilang tadi siang sempat mampir ke kantor waktu Bapak ada jadwal meeting di luar."
Gue pikir Gilang selama ini nggak punya nyali karena setelah pertengkaran kami di malam setelah acara akad nikah gue dan Adelia, gue nggak pernah lagi ketemu sama dia meski kami mendatangi acara yang sama.
Biasanya, Gilang cuma bakal menemui Adelia kalau gue lagi nggak ada di sekitaran sepupunya itu.
Masih menatap satu per satu lembar dokumen dari email yang dikirimkan Dira, gue menjawab. "You may inform him that my schedule is packed for the day."
"Tadinya, saya juga mau bilang seperti itu, Pak." Pasti ada tapinya, 'kan, ini? "Tapi, Pak Gilang-nya ternyata sudah menunggu dari 40 menit yang lalu di lobby, Pak. Bilang katanya ingin menemui Bapak."
"Ya, tinggal bilang saja saya nggak bisa ditemui. Saya sibuk," balas gue, masih memaku fokus ke arah laporan yang sedang gue baca.
Gue nggak tau benar alasan apa yang membuat Firman masih betah berada di dalam ruangan gue sementara dia punya tugas buat mengusir Gilang, sampai suaranya yang terdengar panik membuat gue mengangkat pandangan. "Pak Gilang akan menunggu sampai Bapak pulang. Tadi, saya sudah sampaikan hal yang kurang lebih sama dengan apa yang Bapak bilang."
"Ya, sudah. Biar dia tunggu sampai kerjaan saya selesai. Tapi, bilang ke dia kalau saya nggak janji juga mau menemui dia setelah kerjaan saya selesai. Saya capek." Terserah mau dibilang tantrum, gondok, dan lainnya, tapi terlepas yang menunggu itu Gilang—kalau menyangkut pekerjaan, sebisa mungkin gue nggak akan membiarkan hal lain mengganggu gue—
—minus kelakuan gue terakhir kali yang memundurkan jam meeting hanya karena Adelia.
Sampai segitunya, ya?
Gue buru-buru ke Cibubur—rumah nyokap-bokap gue—bukan karena mendengar kalau Adelia membuat masalah, tapi lebih ke perasaan khawatir kalau Adelia terlibat masalah.
Sampai sekarang—kalau mendadak keinget—gue juga kadang masih suka heran sendiri. Nggak ada alasan jelas yang bisa membuat gue sampai mematahkan prinsip yang sudah gue buat waktu itu.
"Kalau dibilang cinta, sih, belum. Kalau suka, iya. Nyaman, iya. Bahagia, iya. Kurang dikit lagi aja, udah nggak ketolong lagi lo, Ndra."
Itu yang dibilang Jatmika waktu kami mengobrol di acara keluarga beberapa saat lalu, sesuatu yang bahkan nggak seberapa gue perhatikan karena sibuk melihat Adelia yang tengah bercanda dengan keponakan dan sepupu-sepupu gue.
KAMU SEDANG MEMBACA
DISCONNECTED (COMPLETED)
Genç Kız Edebiyatı[note : dilarang membagikan atau merepost cerita saya di menfess base twitter.] disconnected /ˌdɪskə ˈ nɛktəd/ : not connected to something. Nothing matters to them except the other person's perception of themselves. Achievement, success, intelligen...
