DES-19-Shilly-Shally

19.5K 2K 543
                                        

Narendra's.

"Ini beneran Bapak mau makan siang di sini?"

Gue menatap logo McDonald's yang bisa gue liat dengan jelas dari dalam mobil, mempertanyakan pertanyaan yang sama di dalam hati.

Kenapa gue lebih percaya kalau gue sedang dikerjai sekarang?

Dira, Firman, dan Hilman nggak bisa menyembunyikan raut herannya waktu mengikuti langkah gue memasuki restaurant cepat saji yang sangat jarang gue datangi itu. Sesampainya di dalam, gue mengedarkan pandangan—mencari seseorang dibalik undangan nggak masuk akalnya waktu gue mengajaknya pergi makan siang hari ini.

"Lewat sini, Pak." Hilman sepertinya orang pertama yang tahu siapa sebenarnya orang yang gue temui siang ini karena dia dengan sigap mengarahkan jalan buat gue dan lainnya.

"Macet, nggak?" Jatmika dan wajah cengengesannya yang sudah lama nggak gue liat makin ngebuat gue kesal setengah mati. "Bapak kalian mukanya serem banget. Kerjaan lagi banyak, ya? Atau kalian ada kena rumor korupsi lagi?"

Menikah ternyata nggak ngebuat Jatmika sedikit lebih waras... "Jangan ngomong yang aneh-aneh, deh!" Gue langsung merinding kalau ada yang ngomong soal rumor-rumor korupsi begini.

Jatmika tertawa geli, dia menyuruh Dira dan lainnya untuk memesan makanan lebih dulu. "Saya yang traktir. Tenang aja. Makan yang kenyang. Atasanmu galak soalnya," katanya sambil mendorong bahu Firman untuk segera memesan makanan.

Gue dan Dira sempat saling berpandangan. Mungkin wanita itu kebingungan, sebelum gue akhirnya menganggukan kepala.

"Bapak gimana? Mau pesan apa?" Sebelum memesan makanan, Firman sempat menanyakan menu yang gue pesan.

Sejak memutuskan buat hidup sehat—atau lebih tepatnya kesadaran gue karena gue udah makin tua—gue udah nggak pernah lagi konsumsi makanan model fast food beginian.

"Bapak kalian diet. Mana mau dia makan beginian? Nggak cocok, lah, sama image-nya yang garang itu! Udah, sana, pada pesen makanan dulu! Kalau Bapak kalian mau makan, nanti biar dia pesan sendiri." Lagi-lagi Jatmika mengambil momentum gue buat meladeni asisten-asisten pribadi gue.

Begitu Firman, Dira, Hilman, dan Abdi pergi memesan makanan, gue langsung memaki pelan Jatmika yang duduk berseberangan dengan gue. "Lo kalau mau ngerjain, ya, liat-liat tempat, lah, Jat! Gue butuh ngomong serius, lo malah nggak bisa diajak kerja sama gini." Akhirnya gue memuntahkan kekesalan gue.

Harusnya gue curiga soalnya Jatmika setuju-setuju aja waktu gue ngajak dia ketemuan, dan mempertimbangkan keusilannya yang masih belum ilang meskipun udah tua begini.

Waktu Abdi tanya apa alamat restaurant yang gue tuju benar, harusnya gue udah heran dari sana. Gue sendiri nggak terlalu memperhatikan waktu Jatmika mengirim share loc ke gue yang langsung gue forward ke Abdi.

Di kursinya, Jatmika cuma bisa nyengir. "Sorry, lah, Ndra. Itu, tuh..." Gue mengikuti arah telunjuk Jatmika yang mengarah ke arah playground. "... Radhika tau kalau lagi nggak sama Mamanya, dia minta diajakin ke sini dan gue udah janji sebelum berangkat ke Jakarta kemarin," ujarnya membuat gue menatap anak laki-laki Jatmika yang kini sedang berlarian menuju perosotan.

Ngeliat gimana anak laki-laki berusia 7 tahun itu berteriak riang, mana bisa gue marah kalau begini?

"By the way, itu apa? Buat gue bukan?" Gue menatap 'sesuatu' yang ditunjuk Jatmika—yang sejak tadi gue pegang dan baru saja gue letakkan di atas meja.

Ini salah satu alasan gue ngajak Jatmika ketemu waktu tau dia lagi ada di Jakarta. Gue menggeser undangan itu ke hadapan Jatmika yang kini melebarkan senyumnya, "Nggak usah pura-pura clueless, deh," kata gue menyindir kehebohan yang ditunjukan Jatmika.

DISCONNECTED (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang