Narendra's.
Sebelum gerbang rumah dibuka, gue lebih dulu turun—mengejutkan Firman yang langsung mengikuti gue berjalan terburu-buru memasuki rumah.
Di depan teras, gue menemukan Waya dan Jatmika sedang mengobrol santai.
"Lah, beneran dateng?" Sama seperti Firman tadi, Waya menatap gue dengan raut terkejut.
Rasanya, pengen gue tonjok ini 2 bocah yang malah cengar-cengir ngeliatin gue datang ke acara keluarga yang sebenernya nggak bisa gue datangi.
Jatmika tertawa terbahak-bahak, membuat sepupu-sepupu gue lainnya menaruh perhatian ke arah kami. "Mas Bucin udah datang?" godanya yang gue hadiahi pelototan tajam dari mata gue.
Waya yang berdiri di sebelahnya tertawa lebih keras lagi, sambil melempar tatapan geli ke arah gue.
Jauh-jauh dari Jakarta ke Cibubur dengan menunda agenda meeting—which is not my style—karena informasi yang diberikan Waya, gue sama sekali nggak mengharapkan disambut manusia-manusia semacam Waya dan Jatmika yang nggak akan berhenti ngegoda gue sebelum mereka puas.
Bertolak pinggang menatap Waya dan Jatmika muak, gue menendang pelan kursi yang diduduki Waya dan membuat adik gue itu langsung terdiam. "Gue nggak punya waktu buat ngeladenin kalian. I came here instead of going to the meeting I was supposed to attend, and your laughter makes me feel like I'm wasting my time right now."
Memutar kedua bola matanya malas, Jatmika malah mendengkus. Ini anak mana pernah mau dengerin gue? "Serius amat, sih, Bapak Menteri?" katanya yang nggak gue ladeni.
"Beneran?" Meskipun terlihat malas, Waya menganggukan kepala. "Di mana orangnya? Siapa yang ngundang?" tanya gue penuh emosi karena nggak menyangka kalau apa yang dibilang Waya tadi bukan bercandaan.
"Ibu tercinta lo yang mengundang." Jatmika ikut menyahut. "Orangnya ada di dalam," tambahnya sambil mengedik ke arah pintu utama.
Kerjaan gue udah banyak, ada beberapa masalah di kantor, dan sekarang ketambahan ini. Gue hampir aja misuh-misuh dan ngebanting iPhone waktu denger Waya ngomong kalau Syahma datang ke acara keluarga.
Begini, loh, kalau orang sehat akalnya pasti mikir soal konsekuensi dari setiap tingkah dan perilakunya, kan? Apa ancaman gue sebelumnya sama sekali nggak dianggap serius sama Syahma? Apa gue perlu merealisasikannya, supaya Syahma percaya?
Dan, sekarang denger dari Jatmika kalau ternyata nyokap sendiri yang ngundang Syahma, tuh, bikin gue makin nggak habis pikir! Gimana bisa coba? Padahal, nyokap tau soal seberapa besar masalah yang ditimbulkan Syahma sebelum ini, dan masalah itu berpengaruh langsung ke keluarga kami yang jadi bulan-bulanan target wartawan.
"Mbak Lia, sih, biasa-biasa aja." Waya mengedikkan bahunya, tau alasan sebenarnya yang ngebuat gue datang ke sini.
Jatmika menatap gue, memberikan gestur supaya gue masuk ke dalam rumah. "Luarnya baik-baik aja, nggak tau yang dirasain gimana, 'kan? Samperin dulu. Terus, sekalian lo ngobrol sama nyokap-bokap lo sekalian yang lagi berantem di lantai 2. Baru, deh, lo ke sini buat gue godain," ucapnya sambil mengedipkan salah satu matanya genit.
Daripada buang-buang tenaga ngeladenin Jatmika, gue memilih buat berjalan memasuki ruang tengah. Seperti dugaan gue, kehadiran gue langsung disambut heboh keluarga lainnya.
Bisa dibilang, gue memang jarang banget ikut acara keluarga begini karena selalu terbentur jadwal kerja.
Mulai dari keponakan sampai sepupu tiba-tiba ngerubungin gue. Mulai dari minta uang—padahal kalau mau diingat, gue nggak pernah nggak ngasih mereka duit tiap bulannya—sampai yang minta gendong, keadaan di rumah langsung chaos waktu tau gue datang.
KAMU SEDANG MEMBACA
DISCONNECTED (COMPLETED)
Chick-Lit[note : dilarang membagikan atau merepost cerita saya di menfess base twitter.] disconnected /ˌdɪskə ˈ nɛktəd/ : not connected to something. Nothing matters to them except the other person's perception of themselves. Achievement, success, intelligen...
