DIS-24-Trouble and Strife

18.8K 2K 328
                                        

Adelia's.

Jadi, begini rasanya?

Kosong.

Hampa.

Apa perempuan lain juga merasakan perasaan yang sama seperti yang aku rasakan? Tentu tidak, kan?

Mereka—perempuan lain—tidak akan pernah merasakan perasaan semacam ini ketika menikah dengan pria yang mereka cintai dan mencintai mereka.

Setelah saksi mengucap kata "sah" dan ketika Narendra mencium tanganku—meramaikan sorakan para tamu, kenapa aku tidak merasakan apa pun selain perasaan takut yang berusaha aku kubur di hari yang 'orang tua' kami sebut istimewa ini?

"Senyum, Del!"

Di kursi depan, berderet Aline, Nana, dan Sintya yang hadir sambil meneriakkan namaku sambil menarik kedua sudut bibir mereka dengan telunjuk, menyuruhku untuk membuat ulasan yang sama lebarnya di bibirku.

"Sebentar aja, Bu..." Narendra berbisik di telingaku, tangannya memegangi buku nikah yang bergetar di tanganku. "Setelah foto, salaman sama tamu, kita bisa balik langsung ke kamar," katanya masih belum melenyapkan senyum yang aku lihat sejak masuk ke dalam ballroom Primland Hotel Jakarta sebelum akad dimulai.

Sebentar lagi, Lia...

Berusaha supaya senyumku tidak terlihat terulas paksa, aku meluruskan tatapan ke arah fotografer sambil memegang buku nikah bersama Narendra yang terlihat lebih santai berdiri bersisian denganku.

Setelah melakukan beberapa pose, mulai dari ketika aku mencium tangan Narendra dan ketika pria itu mencium keningku, aku masih harus menahan senyum agar tetap terulas ketika menyalami para tamu yang sudah datang.

Nyatanya 'sebentar' yang disinggung Narendra berubah menjadi berjam-jam setelahnya. Aku lupa dengan fakta kalau bapak mertuaku merupakan mantan Presiden yang tentu saja punya banyak list tamu yang diundang ke pernikahan anak sulungnya, belum lagi melihat pekerjaan Narendra sebagai tamu—seingatku dia meminta sekitar seribu dua ratus undangan untuk kenalannya saja.

"I'm happy for you!" Laras memekik riang sambil memelukku erat. "Nggak nyangka banget! Mbak cantik banget!" pujinya begitu pelukan kami terlepas.

Di sebelahku, Narendra mendengkus. "You're lengthening the line behind you!"

Protesan Narendra ternyata tidak mempengaruhi mood baik Laras, buktinya wanita itu masih memegangi lenganku sama senangnya seperti sebelumnya. "Yang kayak begini mending dikurang-kurangin, deh. Masa' udah jadi suami, kelakuannya masih belum juga berubah?" ucapnya, mencoba menjaili Narendra.

Di belakang Laras, Nana juga ikut tertawa pelan sambil mendorong bahu wanita itu untuk berjalan maju.

"Hai,"

Aku bergerak merentangkan tangan, memeluk Nana lebih dulu—memeluk banyak kesempurnaan yang aku inginkan secara serakah.

"You look stunning today," pujinya setelah aku melepas pelukan kami. "Kayaknya, baru kemarin kita berangkat kuliah barengan, tapi sekarang lo udah jadi istri orang aja." Kedua mata Nana terlihat berkaca-kaca saat melemparkan candaan barusan.

Bibirku sudah bergetar, tapi aku merasakan remasan pelan di pinggangku. "Thank you for coming, ya, Na, Gis!" Narendra membalas pelukan Algis yang sejak tadi berdiri di belakang tubuh Nana.

Selain karena suara alunan musik yang terdengar cukup keras, aku jadi tidak bisa mendengar pembicaraan Algis dan Narendra yang sepertinya terlihat cukup serius sebelum Algis melemparkan senyumnya kepadaku.

Melihat kejanggalan yang jelas di wajah Narendra, aku berbisik pelan, "Kamu kenapa?"

Mengulas senyum, Narendra menggelengkan kepala—kembali menyambut tamu yang mau menyalami serta mengucapkan selamat kepada kami.

DISCONNECTED (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang