DIS-CURTAIN CALL

44.5K 2.6K 1K
                                        

[ Listen to Delaney Bailey— Love Letter From The Sea to The Shore while reading for better experience. ]

"When I'm at this place, I always have a pleasant feeling—something nice and warm." Sasmaka mengulurkan tangan ke dalam mobil, membantu teman wanitanya untuk ikut keluar dari dalam sana begitu mobil yang mereka tumpangi masuk ke halaman depan rumah.

"It appears clear since seeing you smile like this is unusual."

Jawaban dingin bernada sinis itu berhasil membuat Sasmaka terkekeh geli. Ia menatap genggaman tangan mereka—sesuatu yang jarang sekali terjadi—ketika mereka berdua berjalan memasuki rumah.

Wanita berambut panjang itu mengarahkan pandangannya ke arah seisi rumah sembari bergumam pelan, "Rumahnya keliatan bersih untuk ukuran tempat yang sudah nggak pernah ditinggali lagi."

Langkah keduanya terhenti di ruang tengah. "Aku ada bayar orang yang rutin datang ke sini untuk bersih-bersih." Sasmaka mengangguk, menyetujui ucapan lawan bicaranya ketika membicarakan kebersihan rumah ini.

"Did you also renovate this house?"

Sasmaka menggeleng lalu menganggukan kepalanya, "Ada beberapa bagian yang memang harus direnovasi karena dasarnya sudah tua, dan bagian lainnya masih sama seperti dulu," jelasnya sambil mengambil duduk di sofa ruang tengah.

"Kelihatan masih bagus soalnya," komentarnya yang lagi-lagi disetujui Sasmaka. "Some sections of this house look familiar."

Bukannya ikut memperhatikan objek yang dibicarakan, Sasmaka justru memaku pandangannya ke arah wanita yang kini memandangi keseluruhan area ruang tengah dengan bersedekap di hadapannya.

Senyumnya makin melebar mendengar ucapan barusan. "Mbak masih ingat?"

"Nggak terlalu." Meski jawaban yang keluar tidak sesuai harapannya, Sasmaka tetap mengulas senyum lebarnya. "Ada beberapa yang aku liat dari foto aja. Tapi, begitu datang ke sini ternyata keliatan persis—nggak berubah sama sekali."

Sasmaka mengangguk. Memang ada beberapa bagian di rumah ini yang tidak diubah dan untungnya tidak memerlukan renovasi juga—kalaupun ada perubahan, bukan perubahan besar-besaran juga yang diperlukan.

"Unlike you, I recall everything vividly, including our first meeting here."

"Setelah berpuluh- puluh tahun berlalu? I have no doubt in your brilliant mind."

Sasmaka tertawa, "Nggak ada hubungannya kali, Mbak." Ia lalu mengedikkan kedua bahunya bersamaan. "It's just that our meeting is so hard to forget," lanjutnya, berhasil membuat wanita yang kini berjalan pelan meninggalkan ruang tengah menggelengkan kepala seraya tertawa kecil.

"Keluargamu gimana?" Pertanyaan yang terlontar begitu pintu penghubung dari area dapur ke taman belakang membuat langkah Sasmaka yang hendak menyusul terhenti. "Masih belum bisa?"

Melanjutkan langkah perlahan, kepala Sasmaka menggeleng. "Sudah dibantu sama Om dan Pakde, tapi masih sama susahnya. Jadi, ya..." Kedua bahu pria itu mengedik, menyusul berdiri di samping wanitanya di pinggir taman.

"Are you upset with them?"

Pertanyaan itu mungkin terhitung sudah keseribu kalinya ditanyakan orang-orang pada Sasmaka mengenai perlakuan yang didapatkannya dari keluarga besarnya.

Dan Sasmaka akan selalu memberikan jawaban yang sama. "Enggak."

"Selama ini aku nggak pernah tanya alasannya." Ya, dan Sasmika benar-benar penasaran karena selama menjalin hubungan, pasangannya terlihat tidak tertarik dengan masalah yang membelit antara dirinya dan keluarga besarnya. "Tapi, beneran kamu nggak masalah sama perlakuan keluarga kamu? You're not trying to keep it all together by yourself, are you?"

DISCONNECTED (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang