Narendra's.
"Tulang lo emang udah tua, Ndra!" Tawa Jatmika membuat gue menahan kesal di dalam hati. "Pake lagak lo nge-gendong Adelia segala!"
Mau ngatain balik, tapi apa yang dibilang dan ditertawakan Jatmika memang fakta. Jadi, gue bisa apa sekarang?
"Mau ke rumah sakit? Masih sakit banget, ya?" Gue berdecak menahan malu, waktu Adeli juga ikut menghampiri gue yang tadi dibopong Jatmika dan Katon ke salah satu kursi setelah gue mengalami cedera kecil saat bermain rugby tadi.
Salah satu tangan gue memijat pelan pinggang gue yang kemungkinan patah setelah menggendong Adelia hanya karena gue nggak mau kalah dari timnya Jatmika, dan merelakan uang puluhan juta milik gue beralih ke rekening tim lainnya.
Asli, gue malu!
Gue menengadahkan kepala, mencoba menikmati rasa sakit luar biasa yang masih terasa sampai sekarang—meski permainan sudah dihentikan sekitar 40 menit yang lalu.
Tubuh gue berjingkat, bergerak nggak nyaman saat tangan Adelia menggantikan tangan gue untuk memijat pinggang gue pelan. "Apa mau dikompres aja? Ini, tuh, kayaknya kamu keseleo, deh, Ndra." Adelia ikut mendesis waktu gue meringis menahan sakit barusan.
"Nggak." Gue tau rasanya keseleo, dan apa yang gue rasakan sekarang rasanya lebih parah dari sekedar keseleo. "Kayaknya patah, deh, Bu, pinggangku..."
Sayangnya, gue lupa lagi ada di mana. Keseriusan sekaligus niat menggoda gue ke Adelia langsung jadi bahan ledekan sahabat-sahabat gue yang memang masih berdiri nggak jauh dari kursi yang gue duduki.
"Patah katanya?"
"Anaknya, pinggangnya rontok, Bu. Saking tuanya berarti!"
"Ibu... Narendra pinggangnya sakit, Bu..."
Ya, 'kan, emang mereka ini nggak ada bedanya sama bocah!
Gue melirik ke arah Adelia yang hanya mengulas senyum segan—mungkin dia malu dan nggak tau harus bereaksi macam apa sekarang—sebelum Katon dan Algis membubarkan kerumunan dengan makanan enak yang katanya sudah mereka coba.
"Kalau sakitnya sampai se-lama ini, kayaknya pinggangmu beneran patah, deh, Ndra." Dengan raut wajah serius, Adelia menghentikan pijatannya di pinggangku.
Lucu banget, sih...
Gregetan gue jadinya!
Baru aja gue mau menanggapi Adelia dengan guyonan lain, teriakan Laras dari kejauhan membuat gue memejamkan mata sambil menghela napas panjang. "Aduh, padahal tadi udah romantis banget, loh, Mbak! Sayang, sih, pasangannya Mbak udah tua, coba dapet yang mudaan dikit—minta gendong sampai ke Jakarta juga diladenin demi istri tercinta," ledeknya begitu berdiri bersebelahan dengan Adelia.
"Itu suami apa kuda lumping, kuat bener?"
Celetukan heboh gue disambut tawa heboh Adelia dan Laras. Gue nggak tau selucu apa omongan gue barusan, tapi ngeliat Adelia ketawa membuat hati gue lega bukan main.
"Hai."
Ternyata Adelia bisa tertawa selebar itu, ya?
Ada sesak yang tiba-tiba merambati hati gue begitu gue menyadari sosok Adelia yang sebenarnya. Bagaimana dia bisa menahan semuanya sendirian—pretending to be fine when she is not—selama berpuluh-puluh tahun tanpa sedikitpun cela bagi orang lain untuk tau yang sebenarnya.
Kalau kami nggak dijodohkan, mungkin sampai sekarang gue akan selalu melihat Adelia sebagai salah satu anak konglomerat yang hidupnya bahagia karena berkecukupan.
KAMU SEDANG MEMBACA
DISCONNECTED (COMPLETED)
ChickLit[note : dilarang membagikan atau merepost cerita saya di menfess base twitter.] disconnected /ˌdɪskə ˈ nɛktəd/ : not connected to something. Nothing matters to them except the other person's perception of themselves. Achievement, success, intelligen...
