DES-18-Raise Red Flags

16.9K 1.9K 208
                                        

Adelia's.

"Bukannya, kemarin Mbak bilang nggak bisa datang, ya?"

Aku bisa mendengar nada curiga dari ucapan Laras melalui sambungan telepon barusan. "Iya. Ini aku mendadak ambil cuti karena memang ada keperluan lain di Jakarta, sih, Ras."

Berangkat ke Jakarta dengan perasaan tidak karuan, aku tidak berharap harus menghabiskan waktuku untuk meladeni 'penyelidikan' Laras yang memang selalu merasa curiga.

"Terus, ini Mbak Adel mau datang juga ke Gala Premiere film-nya Chika?" tanya Laras terdengar tidak jelas karena suara berisik di seberang.

Kenapa? Memangnya aku nggak diperbolehkan untuk datang di saat beberapa minggu lalu Chika membagikan undangannya di grup chatting kami?

"Syahma juga datang, Mbak," lanjutnya sambil berdecak. "Yakin, mau datang?"

Berjalan sambil menyeret koper keluar dari terminal 1B, aku mengernyitkan kening mendengar pertanyaan Laras. "Kan, aku ke sana mau ketemu sama Chika. Apa hubungannya sama Syahma, Ras?" tanyaku balik.

Ketika aku bilang aku mau datang ke Gala Premiere Film yang dibintangi Chika, I'd only come to congratulate her before leaving. Aku sama sekali nggak memiliki niatan untuk berlama-lama di sana karena kedatanganku ke Jakarta punya tujuan penting lainnya.

"Terserah Mbak Adel, sih." Kenapa Laras terdengar kesal waktu menjawab barusan? "I honestly don't want to hear her nonsense about Narendra in front of me; all I know is that it's a bluff."

Ah, itu alasannya?

Dari tempatku sekarang, aku bisa melihat Pak Drajat—supir keluarga kami—melambaikan tangan.

Sepertinya, bukan cuma Laras yang merasakan perasaan malas dan kesal ketika harus mendengar bualan Syahma soal kedekatannya bersama Narendra—aku pun merasakan perasaan yang sama.

Rasanya memuakkan ketika tahu Syahma melakukannya dengan sengaja karena ada aku di sekitarnya.

"I also don't want to see you remain silent in front of Syahma, as if it doesn't bother you when Syahma or others secretly laugh at you." Nada berapi-api Laras masih bisa kudengar melalui airpods yang kupasang di kedua telingaku ketika Pak Derajat menuntunku untuk segera masuk ke mobil.

Laras pasti memanggilku gila kalau aku bilang aku sama sekali tidak terganggu soal itu, 'kan, ya?

Terlepas dari perlakuan yang aku dapatkan dari Ayah dan Mama karena Syahma—yang lebih mirip pengganggu bagi mereka—sosok Syahma sama sekali tidak berpengaruh banyak untukku pribadi.

Syahma tidak punya 'sesuatu' yang membuatku merasa kalau dia harus kuperhatikan baik-baik. To be more specific, her level is much lower than mine. That's why Syahma's presence never bothered me.

"Biarin aja, lah." Jawaban yang sama untuk kesekian kalinya keluar dari bibirku. "Nggak penting juga," lanjutku bersamaan dengan mobil yang dikendarai Pak Drajat mulai melaju.

"Mungkin itu beneran nggak penting buat Mbak Adel, tapi karena diamnya Mbak Adel itu yang ngebuat Syahma ngelunjak!"

Oh, my dear... if you truly care about that, you can at least make an effort to defend me in public so that I can have some faith in you...

Kalau saja aku tidak ingat tentang hanya dengan mereka, aku bisa merasa punya tempat yang tinggi—mungkin sudah lama kutinggalkan mereka.

Aku cuma bisa tertawa kecil, meningkahi kepalsuan yang ditunjukkan Laras. "Nanti acara gala premiere nya jam berapa, ya, Ras? Mau langsung ketemu di sana aja, apa kalian ada janjian kumpul dulu?" tanyaku, mengalihkan topik pembicaraan kami.

DISCONNECTED (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang