Narendra's.
"Pak, mau dipesankan makan siang apa? Siang ini, Bapak bakal stay di kantor, 'kan, ya?"
Firman yang ikut memasuki ruangan gue bertanya, ia menunjuk ke arah luar—memberitahu gue kalau dia siap mengantar kalau gue punya planning lain siang ini.
Memilih duduk di kursi, gue menumpu dagu dengan salah satu tangan sambil memperhatikan laman chatting gue bersama Adelia. "Ibumu kapan balik ke Jakarta, sih, Man?"
"Nanti sore, Pak. Jam 5. Dira dan Hilman nanti yang akan menjemput di bandara selama Bapak meeting bersama DPR setelah makan siang ini," jawabnya memberikan detail soal jadwal gue, mungkin Firman takut gue mendadak mangkir kerja hari ini.
Kepala gue mengangguk, sebelum ini Dira sudah memberitahu gue soal jadwal kerja hari ini sejak pagi tadi. "Terus, Ibumu kapan baliknya?" Helaan gue keluar panjang. Gue mengalihkan pandangan ke arah Firman yang masih berdiri di depan meja gue.
"Hari minggu, Pak. Senin siang Ibu ada jadwal mengajar." Jawaban yang diberikan Firman sama sekali nggak bisa membuat hati gue puas.
Cuma 4 hari? Setelah 1 bulan lebih kami nggak ketemu sama sekali?
Ya, sesuai apa yang pernah gue bicarakan bareng Adelia, wanita itu memilih tetap menetap di Surabaya mengajar sebagai dosen seperti sebelumnya. Setelah acara resepsi kami di Bali, Adelia nggak memperpanjang cutinya dan langsung kembali ke Surabaya setelah memindahkan beberapa barangnya ke rumah gue yang ada di Jakarta.
Sebelumnya, kami nggak pernah berdiskusi soal jadwal pertemuan kami selama masa long distance marriage ini. Gue cuma sempet bilang kalau Adelia bisa datang kapan pun—selama dia punya waktu—ke Jakarta dan begitu juga sebaliknya.
Apa semuanya berjalan dengan lancar?
Well, soal orang tua kami udah bisa, lah, ditebak gimana kelanjutannya, 'kan? Bokap marah besar karena Adelia nggak mau memilih di antara 2 pilihan yang pernah dia kasih dan mengadu ke orang tua Adelia yang makin murka waktu tau kalau anaknya nggak bisa 'beradaptasi' dengan keluarga gue.
"Kamu bisa paksa dia, Ndra! Kamu suaminya! Adelia makin lama memang makin nggak bisa diatur!"
Gue cuma bisa meringis karena nggak habis pikir dengan apa yang baru aja gue dengar dari bibir mertua gue.
Mama keliatan gusar, sambil berjalan mondar-mandir ia mencoba menghubungi Adelia yang memang sudah pulang ke Surabaya waktu gue memutuskan untuk memberitahu orang tua kami soal pilihan pekerjaan yang dipilih Adelia.
"Nggak diangkat! Ke mana, sih, dia ini jam segini?" Mama menghentakkan kakinya kesal sementara wajahnya berubah merah karena menahan amarah.
Di sofa ruang tengah rumah keluarga Gaharuda, gue cuma bisa menghela napas panjang selagi memijit pelipis pelan. "Ma," panggilan gue barusan berhasil menarik perhatian Mama. "Saya sebagai suami Adelia sama sekali nggak keberatan dengan pilihannya untuk menetap di Surabaya dan soal Adelia yang tetap memilih bekerja sebagai dosen. Kalau ini soal Bapak, biar nanti Narendra yang urus."
Jauh sebelum perjodohan gue dan Adelia, gue sudah tau kalau Mama begitu menyukai gue. Sering di beberapa kesempatan, Mama terang-terangan mengatakan kalau dia ingin gue menjadi menantunya yang gue anggap sebagai candaan ringan waktu itu.
Mungkin karena alasan itu atau alasan lainnya, Mama nggak lagi meributkan soal Adelia yang tetap tinggal di Surabaya setelah menikah dengan gue.
Soal Bapak?
Karena ini orang tua gue sendiri, gue lebih tau cara mainnya—cara supaya Bapak nggak lagi ikut campur masalah yang berkaitan dengan pernikahan gue.
KAMU SEDANG MEMBACA
DISCONNECTED (COMPLETED)
ChickLit[note : dilarang membagikan atau merepost cerita saya di menfess base twitter.] disconnected /ˌdɪskə ˈ nɛktəd/ : not connected to something. Nothing matters to them except the other person's perception of themselves. Achievement, success, intelligen...
