"Gimana kemarin sama adeknya Arlan?" celetuk Stefa di tengah-tengah kegiatan menulisnya.
Mereka sedang di kelas ngomong-ngomong. Sibuk mencatat tugas yang diberikan guru. Iya, setelah upacara bendera tadi, Bu Julia menginfokan di grup kelas bahwa ia tidak bisa mengajar karena cuti menjelang persalinan. Alhasil kelas 11 IPS 4 diberikan tugas yang nantinya harus dikumpul di ruang guru.
Amora yang tadinya sedang men-scroll ponsel untuk mencari jawaban jadi meletakkan benda pipih itu. "Woahh, lu pada harus tahu! Adeknya Arlan cantik banget asliii!" ucapnya heboh.
"Wajar 'kan, Arlan-nya aja cakep gitu," komentar Jihan yang duduk menghadap Amora. Sengaja memutar kursi agar berhadapan dengan dua temannya itu, begitu juga dengan Gisell. "Tapi masih cakepan cowok gue sih," lanjutnya kemudian terkekeh.
"Ini kalau Bara denger, bisa ngereog karena salting dia," tanggap Gisell sambil terkekeh.
Jihan ikut terkekeh. Bara yang memang sering menunjukkan sifat childish-nya, bertemu dengan Jihan yang kental dengan sifat keibuan. Klop sudah. Tapi sebenarnya Bara tidak se-childish itu kok. Dia kalau sudah mengeluarkan sifat tegasnya, Jihan sampai tidak berani membantah.
"Udah-udah, balik ke topik awal. Terus kemarin ngapain aja bareng Arlan sama adeknya?" tanya Jihan. Mulai kepo sebenarnya.
"Emm ya gitu, main di timezone bareng. Erin ngajakin gue tanding permainan basket yang tinggal masuk-masukin bola itu loh."
"Anjir! Elu 'kan noob kalau masalah begituan," sela Stefa.
Amora sedikit merengek, "yaa makanya itu."
"Terus lu tolak?" tanya Gisell.
"Engga lah, dia ngajaknya antusias banget gitu. Awal-awal emang ketinggalan jauh sih poinnya. Tapi habis itu dibantuin Arlan makanya skor akhirnya jadi sama," ceritanya diakhiri dengan kekehan.
"Ciee, dibantuin-nya gimana tuh??" tanya Jihan dengan nada menggoda. Sukses membuat wajah Amora memerah dengan senyum yang tak bisa ditahan.
"Hehe, dia 'kan berdiri di belakang gue. Terus tangan-nya ituin tangan gue buat masukin bola ke ring," jelas Amora. Cewek itu kemudian menjatuhkan wajahnya yang tertutupi telapak tangan ke meja sambil bergumam tidak jelas. Salting tentu saja kalau mengingat kejadian itu.
Stefa jadi menepuk-nepuk pipinya sendiri. "Anjir-anjir! Kebayang sumpah. Aaaa pengen jugaa," rengeknya kemudian.
"Ciee iri. Amora udah punya gebetan, elu kapan?" ledek Gisell sukses membuat tangan Stefa terulur untuk menabok cewek itu.
Amora mengangkat kepalanya lagi, kini menoleh pada Stefa. "Elu jadi deketin Darell nggak kemarin?"
"Lah, naksir Darell?" heran Jihan.
"Iya, dari sebelum kemarin dia udah cerita. Katanya ketemu cogan pas di bandara. Eh ternyata yang dimaksud tuh Darell," ungkap Amora membuat Gisell dan Jihan mengangguk.
"Eh?" Jihan seperti teringat sesuatu. "Darell itu cowok yang lu taksir waktu SMP? Iya 'kan? Temen lu sama Elang," tanyanya memastikan.
Amora mengangguk. "Tapi sekarang udah enggak kok. Tahu nggak sih, kayak lama-lama hilang aja gitu perasaannya. Terus juga gue mikir, mungkin dulu dia nggak jawab apa-apa waktu gue confess tuh karena dia pengennya cuma temenan aja. Makanya sekarang gue juga udah nggak mau ngungkit-ungkit itu lagi kalau lagi sama Darell," jelas Amora mendapat anggukan dari ketiga temannya.
"Yaudah berarti deketin aja, Stef. Kelihatannya baik tuh anak," ujar Jihan.
"Si Darell kemarin flirting mulu ke Stefa gue lihat-lihat," ungkap Gisell. Ia kemarin memang menjadi saksi saat Darell beberapa kali memanggil Stefa dengan sebutan 'princess' ataupun mengucapkan kata-kata manis pada temannya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wednesday [Haruto]
Fiction généraleMora pernah berpikir, andai saja hari Rabu kala itu dirinya langsung pulang ke rumah sehingga tidak menyaksikan kejadian yang membuat hatinya sesak. Andai saja hari Rabu kala itu hatinya cukup kuat sehingga tidak jatuh pada pesona Arlan. Andai saja...
![Wednesday [Haruto]](https://img.wattpad.com/cover/296650613-64-k351027.jpg)