*
Untuk yang kesekian kalinya Amora menghidupkan ponsel yang ia taruh di laci meja. Hanya untuk menilik jam yang rasanya sangat lambat berjalan.
14.38
Mora menghela napas. Kini menopang dagu dengan tangan dan kembali menghadap papan tulis. Berlagak memperhatikan Pak Kasmin yang masih asik menjelaskan mata pelajaran sejarah sambil sesekali menulis di papan tulis.
Masih sekitar dua puluh menit lebih bel tanda pelajaran berakhir akan berbunyi. Tapi hampir sepertiga dari murid di kelas 11 IPS 4 sudah meletakkan kepala pada meja.
Mengantuk, belajar sejarah di jam terakhir sebelum pulang sungguh sangat membuat mereka ingin tidur. Bahkan ada yang benar-benar terlelap dengan nyamannya. Hingga ketika bel berbunyi, barulah mereka secara otomatis menegakkan badan dan mengemasi barang-barang.
"Baik anak-anak, karena bel sudah berbunyi, materi selanjutnya akan Bapak sampaikan di pertemuan minggu depan. Bapak cukupkan sekian, selamat sore."
Kelas mulai rusuh begitu Pak Kasmin keluar. Grasak-grusuk ingin segera keluar dari kelas. Begitu juga dengan Elang yang sudah menarik tangan Amora menuju pintu.
"ELANG JANGAN KABUR, PIKET WOY!! Mora, Elang jangan dibiarin kabur dulu!"
Teriakan Sheren dari belakang kelas membuat Amora menghentikan langkah. Kini balik menahan tangan Elang untuk tetap berada di kelas.
"Oh iya elu 'kan piket hari ini," celetuk Mora yang memang baru ingat kalau ini hari Selasa, jadwal Elang untuk piket kelas.
"Anjir lu mah, gue ajak kabur biar cepet balik juga," gerutu Elang.
Sheren menghampiri mereka berdua. "Thanks, Mor. Nih, Lang. Gantian nyapu." Cewek itu menyodorkan sapu pada Elang yang diterima dengan ogah-ogahan.
"Gue nyapu kelas sendirian??" tanya Elang yang merasa tidak terima jika dirinya di-babu-in begini.
"Itu lohh sama Oca. Lu nyapu bagian situ tuh, yang sebelah kanan udah disapu Oca." Sheren menunjuk barisan meja di sebelah kiri.
"Terus lu ngapain? Nggak piket? Wahh anjir curang lu!"
"Mana ada, piket lah. Ini lagi mau bersihin papan tulis." Cewek itu bergegas mengambil penghapus papan tulis dan membersihkan bekas coretan Pak Kasmin.
Belum sempat melayangkan protes kembali karena merasa tidak adil, Amora lebih dulu menyela.
"Nggak usah banyak protes deh, Lang. Tuh Oca udah hampir selesai piketnya! Elu mulai nyapu aja belum. Buruan sana!" Didorongnya bahu lebar Elang agar cepat menuju belakang kelas.
Elang dengan terpaksa menurutinya. "Iya-iya, lu tunggu di depan kelas aja gih," ucap Elang lalu mulai menyapu dari barisan belakang menuju ke depan.
Tak perlu diperintah dua kali, Amora bergegas keluar. Kini mendudukkan diri pada kursi panjang di depan kelas. Cewek itu mengedarkan pandangan, melihat masih ada beberapa siswa yang lalu-lalang.
"Oit, Mor!" seruan dari arah lapangan membuat Mora menoleh. Didapatinya Eric berjalan menghampiri. "Belum pulang lu? Nungguin siapa?" tanya si cowok begitu sampai di depan Amora.
"Kalau udah pulang ya nggak bakal di sini kali. Nungguin Elang tuh, lagi piket." Amora menunjuk sekilas ke arah kelasnya menggunakan dagu.
"Ooh, kirain nungguin Arlan. Soalnya tuh anak udah keluar dari tadi, ya gue mikirnya bakal jalan sama lu."
"Idihh, apaan kok langsung mikir ke gue?" tanya Mora sambil terkekeh.
Eric kini ikut duduk di samping Mora. "Secara kan si Arlan lagi deketin lu. Yakin deh gue kalo tuh anak beneran naksir sama lu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Wednesday [Haruto]
Narrativa generaleMora pernah berpikir, andai saja hari Rabu kala itu dirinya langsung pulang ke rumah sehingga tidak menyaksikan kejadian yang membuat hatinya sesak. Andai saja hari Rabu kala itu hatinya cukup kuat sehingga tidak jatuh pada pesona Arlan. Andai saja...
![Wednesday [Haruto]](https://img.wattpad.com/cover/296650613-64-k351027.jpg)