"Jadi lu sekarang mau berusaha buat ngeyakinin Amora?" tanya Eric pada Arlan untuk memastikan.
Mereka sedang berada di kelas. Sebelumnya Eric tadi sempat bertanya tentang sejauh apa hubungan temannya itu dengan Amora sekarang. Makanya Arlan menceritakan kejadian kemarin Minggu sewaktu di mall.
"Iya," jawab Arlan.
Eric mendecih sekilas. "Tapi kok masih sering ketemuan sama Nessa?" celetuknya.
"Kalau kemarin-kemarin 'kan karena gue jenguk Mama-nya yang di rumah sakit."
"Iya-in dah. Lu sebenernya niat nggak sih anjir sama Amora?" Eric malah geram sendiri.
Arlan menghela napas lelah. "Lu tahu sendiri jawaban gue."
"Iya, tapi anjir lah! Lu masih sering jalan sama Nessa, nyet!"
"Gue enggak."
"Oke, nggak jalan sama Nessa. Tapi ketemuan sama Nessa," koreksi Eric. "Gimana konsepnya elu pengen ngeyakinin Amora sedangkan lu sendiri masih sering ketemuan sama mantan? Gue kalau jadi Amora udah say good bye sih," lanjutnya.
"Gue udah nggak ada apa-apa sama Nessa, Ric."
"Kalau nggak ada apa-apa ya nggak usah nemuin tuh cewek lagi lah. Amora pasti langsung mikir yang enggak-enggak karena gimana pun juga lu dulu pernah jalin hubungan sama Nessa. Lu harus pilih salah satu buat diperjuangin. Kalau emang niat sama Amora, berhenti peduli ke Nessa. Kalau lu nggak bisa berhenti peduli ke Nessa, ya udah lepasin Amora. Biar dia sama si anak baru itu," ujar Eric panjang lebar.
"Enak aja tuh anak kalau balik-balik langsung bisa dapetin Amora," desis Arlan.
"Ya makanya itu, monyetkuu! Perjuangin Amora dan jauhin Nessa. Lu nggak terima 'kan kalau Amora jadian sama Darell?"
"Nggak lah," jawab Arlan langsung.
"Oke, sip! Sekarang mana ponsel lu? Biar gue blokir nomor Nessa terus gue hapus kontaknya." Eric kini menengadah. Menunggu Arlan untuk memberikan ponsel padanya.
Arlan jadi mengernyit. "Ngapain, anjir?"
"Biar lu nggak chat-an sama Nessa lagi lah!" jawab Eric nyolot.
Arlan berdecak, " gue bisa ngontrol diri gue sendiri."
Eris mendengus. "Alah, nggak percaya gue sama lu."
"Terserah. Yang penting gue udah tahu apa yang perlu gue lakuin," balasnya kemudian berdiri. Hendak keluar kelas untuk mengikuti upacara karena sedari tadi sebenarnya sudah diburu-buru oleh Sasa agar segera menuju lapangan.
Eric juga jadi ikut beranjak, menyusul Arlan dan menggeplak belakang kepala cowok itu. "Makasih-nya mana, njing? Udah baik gue mau kasih pencerahan biar kisah cinta lu nggak terus-terusan amburadul."
Arlan mengumpat sekilas karena sedikit terkejut dengan geplakan yang mendarat di kepalanya. "Ye, thanks, nyet!"
Mereka kemudian mulai masuk ke area lapangan. Bergabung dalam barisan kelasnya. Karena Arlan dan Eric termasuk siswa yang tinggi, makanya keduanya ikut berbaris di bagian depan.
Tak lama setelah itu, anggota organisasi PMR juga masuk ke area lapangan dan berbaris di belakang barisan utama kelas-kelas. Menyebar dan menempatkan diri masing-masing.
"Dih, kok kita kebagian tempat yang panas sih?" gerutuan Amora terdengar di antara suasana lapangan yang masih sedikit ramai.
Walaupun posisinya berada di belakang barisan utama, tapi tempat Amora berdiri sekarang memang terpapar langsung oleh sinar matahari. Padahal beberapa temannya yang lain mendapat tempat yang lumayan teduh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wednesday [Haruto]
Fiction généraleMora pernah berpikir, andai saja hari Rabu kala itu dirinya langsung pulang ke rumah sehingga tidak menyaksikan kejadian yang membuat hatinya sesak. Andai saja hari Rabu kala itu hatinya cukup kuat sehingga tidak jatuh pada pesona Arlan. Andai saja...
![Wednesday [Haruto]](https://img.wattpad.com/cover/296650613-64-k351027.jpg)