16

1K 71 2
                                        

Hari itu Yui tiba-tiba bersemangat dan sesekali dadanya berdebar. Senyum Yui tanpa sadar terukir sendiri saat bekerja di salon. Mengingat akan bertemu Karin, rasanya seperti akan pergi kencan saja.

"Habu, aku titip salon padamu. Aku akan kembali sebelum jam tutup salon ... Kalau aku belum kembali, kau bisa bawa kunci salonnya." Yui berpesan pada Habu, lalu segera keluar salon saat Karin mengirimkan sebuah pesan Line padanya.

Karin

Di depan salon.

Sekarang sudah jam tiga sore. Waktu janjian mereka bertemu.

Di depan salon, mobil sedan hitam milik Karin terparkir di sisi jalan. Semakin dekat ia dengan mobil itu, jantungnya semakin berpacu cepat.

Aduh ... aku kenapa sih?

Ia pun masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi samping pengemudi yang diisi Karin. Wanita itu mengenakan jaket kulit sepinggang berwarna hitam, baju rajut ketat dengan kerah tinggi berwarna krim dan celana jeans high waist. Senyum simpulnya terukir.

"Kau tidak bekerja ya?" Tanya Yui selama mobil melaju menuju Shinjuku.

"Hari ini studioku tutup awal." Sahut Karin.

"Aku pikir sedang libur."

"Studioku libur di hari Jumat dan saat-saat hari besar saja."

Yui manggut-manggut.

"Salonmu bagaimana liburnya?"

"Hari Selasa libur dan di hari-hari besar juga."

"Sayang sekali libur kita tidak sama." Canda Karin. "Kalau sama, aku mungkin bisa mengajakmu kencan."

Yui mendengus mengejek. "Siapa juga yang ingin kencan denganmu, huh?"

Kemudi diputar Karin, mobil berbelok dari jalan raya ke sebuah jalan lebih kecil. Kemudian mobil berhenti di depan bangunan kotak bertingkat empat yang dihimpit gerai-gerai. Mereka pun keluar dari mobil.

"Rumahku di lantai empat." Kata Karin saat Yui memandang bangunan sederhana tersebut. "Lantai satu tempat reservasi, kasir, dan ruang tunggu. Lantai dua ruang foto. Lantai tiga sebagian tempat foto juga dan sebagian lainnya sebagai tempat mencetak foto. Lalu yah ... tempat tinggalku."

Di samping bangunan, ada tangga yang menghubungkan setiap lantai. Jadi bila ingin berpindah ke suatu lantai, harus keluar ruangan dulu.

"Capek ya mau naik ke lantai empat?"

"Tidak kok." Sangkal Yui.

Ia sebenarnya sudah biasa turun-naik tangga saat masih muda dulu. Tempat tinggalnya dulu bahkan di apartemen tanpa lift di lantai lima.

Mereka pun mulai menapaki setiap anak tangga.

"Hikari sering mengeluh setiap kali datang kemari." Karin bercerita. "Dia bilang takut terpeleset karena anak tangganya terlihat licin dan kakinya terasa sengal karena dia selalu kemari dengan high heels. Aku pikir kau juga begitu. Apalagi sekarang kau pakai but dengan hak tinggi."

"Setidaknya sepatu butku lebih aman menaiki tangga seperti ini." Ujar Yui. "Tapi tanggamu memang bikin ngeri."

Yui memandang ke bawah tangga besi dicat putih yang agak berkarat itu renggangnya cukup lebar hingga bila melihat ke bawah tubuhmu seakan bisa lolos di celah tersebut.

"Kau tidak berniat membeli gedung baru? Tangga ini dan gedungmu tampak tua loh."

Karin yang di depannya pun sedikit berbalik badan.

"Gedung ini letaknya cukup strategis. Jalannya ramai dilewati orang-orang. Lagipula gedungnya tidak terlalu buruk ... Aku berpikir akan merenovasinya sedikit setelah pernikahanku beres."

ColdTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang