"Lo udah izin pulang telat belom ke ortu lo?" tanya Mikha.
Sebenarnya terlambat untuk menanyakan hal itu mengetahui sekarang mereka sudah duduk manis di depan ruko kosong dekat sekolah mereka. Satu-satunya tempat di mana tidak ada seorangpun yang peduli dengan apa yang mereka lakukan, meskipun banyak siswa Belamour yang berlalu lalang.
"Udah, diizinin kok," jawab Sakhi seadanya. Ia masih sibuk membaca pesan antara Mikha dan Pak Yudha yang sudah berjalan kurang lebih tiga minggu dihitung hingga hari ini.
Membaca tiap pesan gila yang dilontarkan pria itu membuat darah Sakhi mengalir dua kali lebih cepat hingga terkadang rasa nyeri timbul di dadanya. Ia kecewa sekaligus marah. Ia tidak terima Mikha mengalami hal seperti ini disaat orang tuanya pasti memilih SMA Belamour karena SMA itu salah satu SMA terbaik di kota ini, tapi apa yang didapat tidak seperti yang diharapkan.
Semuanya berawal dari ruang seni, tempat yang semula Mikha anggap tempat paling nyaman untuk menjadi dirinya sendiri, menunjukkan bakat serta mendapatkan dukungan yang melimpah dari teman-temannya. Pada satu hari itu, tidak pernah Mikha menduga apa yang terjadi padanya.
Perbincangan ringan tentang keseharian Mikha, hobi Mikha, hingga makanan kesukaan Mikha lama kelamaan terbawa arus yang begitu kencang menuju perbincangan yang membuat seluruh tubuhnya ingin pergi dari sana selamanya.
"Bawa Renata ke tempat saya atau kamu yang saya bawa ke tempat saya."
Kalimat itu tidak bisa berhenti berputar di kepala Mikha. Perempuan itu harus bertarung dengan segala akhir yang buruk sebelum tidurnya. Dalam mimpinya pun perempuan itu harus dihantui pria yang mengancam akan merusak dirinya.
Tidak ada jalan yang tepat. Mikha tidak bisa menolak, tetapi juga tidak bisa menjalankan perintah Pak Yudha. Ia tidak ingin menjadi korban, tetapi juga tidak ingin mengorbankan orang lain.
"Mik, lo gak apa-apa?"
"Mik, ada gue sama Sakhi. Tenang aja."
Mikha mengerjapkan matanya, mendapati ia sedang menunduk dengan kedua tangan menutup telinganya. Napasnya tersengal dan berat, mencuri perhatian Juan dan Sakhi. Jari Sakhi yang menyentuh pundak Mikha sesekali pun tidak berhasil menyadarkan Mikha, perempuan itu terlalu kalut dengan pikirannya.
"Sakhi ... gue gak ... gue gak mau begini terus," lirih perempuan itu, mengacak rambutnya panjangnya pelan.
Sakhi mengangguk paham. Perempuan itu melingkarkan lengannya di pundak Mikha, membawanya ke dalam rangkulannya dan menepuk pelan pundaknya lalu kepalanya. Ia yakin Mikha sudah tidak mampu menerima kata-kata, Mikha hanya butuh tempat bersandar.
"Juan, yang mau lo omongin tadi, omongin sekarang aja," lanjut Mikha. Ia tidak ingin mengulur waktu, sehancur apa pun dirinya, ia harus terus maju menyelesaikan masalah ini, dan menyelesaikan kehidupan Pak Yudha.
Juan membungkukkan tubuhnya sedikit, mendekatkan dirinya ke arah Sakhi dan Mikha. "Gue kemaren baru aja ketemu polisi yang lagi patroli karena kasus orang hilang ini." Ia mengeluarkan ponselnya dan mengarahkan layarnya ke arah dua orang di sampingnya. "Gue punya nomor beliau dan gue rasa beliau bisa nolongin kita."
Mikha menghela napasnya berat. "Yakin? Dia minta bayaran gak? Sepuluh atau seratus?" tanyanya skeptis. Ia melirik ke arah Sakhi, mendapati perempuan itu merogoh dompetnya. "Juta ya, juta. Bukan ribu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Kanigara
Teen FictionSemua orang tentu ingin memiliki hidup yang bahagia, termasuk Juan. Ia pikir hidupnya memang sudah bahagia, tapi ternyata ia hanya belum menyadari lubang hitam yang berada tepat di belakangnya dan bersiap untuk menelan semua kebahagiaan yang ia itu...
