29

26 2 1
                                        

"Kalau begitu saya juga ikut, Bu."

Keheningan melanda hingga Bu Riani menanggapi permintaan Juan. "Saya hanya butuh Sa—"

"Saya butuh Juan, Bu," sela Sakhi, mengundang beragam tanggapan dari teman sekelasnya. Beberapa dari mereka merasa muak dengan kegaduhan pagi hari ini, beberapa dari mereka tidak peduli, beberapa dari mereka senang karena waktu terus berjalan sehingga jam belajar mereka berkurang.

"Ya sudah, Sakhi dan Juan, ikut saya ke ruangan saya," ucap Bu Riani final.

Juan hendak melangkah dari tempatnya, tetapi langkahnya terhenti saat orang di sampingnya menahan lengannya kencang. "Ceritain ke gue nanti," bisik Januar.

Juan mengangguk pelan seraya melepas genggaman Januar. Ia menyusul Sakhi yang sudah berjalan lebih dulu meninggalkan kelas, menyamakan langkahnya dengan perempuan itu sehingga berjalan berdampingan. Ia melirik ke arah Sakhi, mendapati perempuan itu sudah bercucuran keringat dan tidak bisa berhenti meregangkan jari jemarinya.

"Tenang aja," bisik Juan lalu meninggalkan senyumnya sekilas.

Kini mereka terduduk di kursi yang cukup nyaman, berhadapan dengan kepala sekolah SMA Belamour, Riani Pramoedya. Wanita berhijab hitam serta gamis hitam mengkilap itu terdiam sebentar memandangi dua muridnya.

"Sebenarnya saya hanya ingin berbincang dengan Sakhi, tapi saya memaklumi kalau Sakhi butuh teman di sini." Wanita itu melempar senyum hangat. Bu Riani memang tidak pernah menunjukkan sikapnya yang tegas, tetapi hal itu tidak menutup kenyataan bahwa mendapatkan panggilan ke ruang kepala sekolah adalah hal yang paling menyeramkan.

"Apa kamu tau lebih tentang keadaan Mikha? Saya perhatikan kamu lumayan dekat sama Mikha, 'kan?" tanya Bu Riani, menatap lurus Sakhi.

Sakhi mengangguk. "Saya tau, Bu. Sebenernya saya minta Juan untuk ikut karena Juan yang lebih tau tentang keadaan Mikha. Mikha yang minta tolong ke Juan buat lindungin dia dari—"

Perempuan itu menghentikan kalimatnya saat ia merasakan kakinya diinjak cukup kencang oleh Juan. Tanpa melirik ke arah Juan sedikitpun, Sakhi mencoba berpikir ulang untuk memperbaiki kalimatnya.

"Dari?" Bu Riani menunggu lanjutan kalimat Sakhi.

"Maaf memotong, Bu. Saya boleh tanya sedikit sebelum Ibu dan Sakhi bahas ini?" ujar Juan sambil mengangkat tangannya sejajar dengan telinganya. Bu Riani memberikan Juan kesempatan untuk bertanya. "Pak Yudha mengajar di sini sampai kapan, Bu?"

"Minggu ini hari terakhir dia mengajar, kenapa?" balas Bu Riani sedikit heran. Heran karena pertanyaan tidak penting itu ditanyakan sekarang dan heran karena dua murid di depannya memberi respons yang berlebihan.

Juan mengatur napasnya, ia mengangguk kecil. Ia menoleh ke arah Sakhi, memberi izin untuk melanjutkan kalimatnya yang tadi tanpa diubah. Tangannya merogoh ponsel di saku celananya, bersiap untuk menunjukkan semua informasi yang ia miliki.

"Saya izin lanjut, Bu." Sakhi berdeham guna melegakan tenggorokannya. "Mikha selama ini minta tolong ke Juan buat lindungin dia sama Renata dari Pak Yudha."

Bu Riani yang semula bersandar ke kursinya mendadak terduduk tegak, cenderung condong ke arah Sakhi dan Juan. "Maksud kalian? Kenapa kalian sebut Renata?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 13, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

KanigaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang