Semua orang tentu ingin memiliki hidup yang bahagia, termasuk Juan. Ia pikir hidupnya memang sudah bahagia, tapi ternyata ia hanya belum menyadari lubang hitam yang berada tepat di belakangnya dan bersiap untuk menelan semua kebahagiaan yang ia itu...
Baru saja Juan meletakkan ranselnya di samping meja, lengannya sudah ditarik paksa oleh Mikha untuk berbicara empat mata di dekat lift sekolah. Menurutnya itu tempat paling aman karena tidak ada murid yang berlalu lalang di daerah sana. Lagipula sekarang masih jam tujuh kurang, hanya siswa-siswi kelewat rajin yang sudah tiba di sekolah.
"Emang muka gue keliatan kayak orang yang bakal nurut aja apa? Gila ya, tu orang!" Amarah Mikha semakin menjadi-jadi, perempuan itu masih ingat jelas pesan gila yang ia terima kemarin malam. Ia yakin Juan paham dengan rasa frustrasinya.
"Gue tau, lo pasti kesel banget sama beliau, Mik ... yang penting kita jangan panik dan jangan gegabah juga ...." Juan mengarahkan kedua tangannya ke arah Mikha, memberikan gestur agar Mikha menenangkan dirinya.
"Beliau? Lo masih ada respect buat nyebut tu orang pake beliau?" tanya Mikha dengan raut wajah yang pahit.
Juan memalingkan wajahnya seraya memijat pelipisnya, menyesali kalimat yang ia ucapkan. Ia sebenarnya sudah memiliki rencana kasar di kepalanya, tetapi ia tidak yakin apakah rencananya akan berjalan lancar atau malah membuatnya terjebak dalam masalah baru.
"Lo setuju gak kalo kita laporin ini ke kepsek? Langsung tembak aja kepsek, gak usah ke bu Wenda," ujar Juan setengah berbisik.
"Enggak, Juan. Menurut gue, tu orang pasti ada ordalnya di sini, bahkan bisa jadi ordalnya lebih gede dari bu Riani. Logika aja, gak mungkin ada orang berani macem-macem kalo gak punya backingan," cecar Mikha tanpa ampun.
"Ya coba aja dulu, apa salahnya?" debat Juan.
"Kalo bu Riani tau, otomatis gue sama lo kena. Gue gak tau keluarga lo gimana, tapi yang pasti, keluarga gue bisa jadi gila gara-gara ngira anaknya yang mulai duluan. Gak semua orang tua di dunia ini punya logika dan sayang sama anaknya, Juan."
Juan mengangguk pasrah, sedikit tertampar dengan ucapan Mikha. Mau bagaimanapun ia tidak bisa seenaknya bergerak tanpa memikirkan nasib orang lain. Melihat Mikha yang lebih percaya dengan dirinya dibanding orang tuanya sendiri membuatnya yakin kalau ia memang satu-satunya orang yang Mikha percaya.
"Mik."
Mikha mengangkat dagunya sekilas, bermaksud mempersilakan Juan untuk lanjut berbicara. Ia mendapati Juan menyuruhnya untuk mendekat serta membungkuk ke arah lelaki itu. melihat Juan yang menjadi lebih waspada dengan sekitar, Mikha juga mengikuti apa yang Juan lakukan.
"Gue punya satu rencana yang kalo berhasil, kita bisa selesain masalah ini tanpa harus ada satu orang pun yang tau kecuali kita," ujar Juan penuh penekanan di setiap katanya. "Tapi, kalo gagal, gue bisa di DO dari sekolah ini."
Mikha terkesiap mendengar kalimat penutup yang Juan lontarkan. "Enggak! Itu juga gue gak mau! Kalo lo kena DO, selanjutnya pasti gue karena gue yang bikin lo tau tentang masalah ini."
Juan menghela napasnya. "Oke, gue ralat. Kita bisa di DO." Ia mengeluarkan ponselnya sebelum Mikha menyeburnya dengan semua dugaan di kepala perempuan itu. "Gue gak akan kasih tau rencana gue di sini karena gue gak mau ngambil risiko, tapi gue kasih gambaran dulu ke lo."
"Yaudah, mana?" balas Mikha ketus.
Baru saja Mikha memposisikan tubuhnya lebih dekat dengan Juan, suara dentingan lift memekakkan telinga mereka. Sudah terlambat untuk melarikan diri, Juan dan Mikha memilih untuk menerima nasib ditegur oleh siapapun guru yang akan keluar di balik pintu besi itu.
Empat mata yang menatap ke arah lift kompak terbuka lebar mengetahui siapa yang ada di dalam lift itu. "Sakhi!"
Mengabaikan suara mereka yang menggema di setiap sudut lorong, tangan mereka lebih dulu spontan menarik lengan Sakhi, Mikha menarik lengan kiri dan Juan menarik lengan kanan. Sedangkan orang yang bersama dengan Sakhi menatap mereka heran.
"Sakhi belum bayar hutang ke kalian, kah?" tanya orang itu dengan kekehan kecil.
Perempuan berambut sepundak itu ikut tertawa kecil. "Gak tau nih, Pak. Saya juga kaget tiba-tiba ditangkep gini," ujarnya menanggapi gurauan pak Yudha, pria yang mengizinkan Sakhi untuk menaiki lift yang seharusnya hanya boleh digunakan oleh guru dan staff di sekolah.
Tanpa berpamitan ataupun salam, Mikha dan Juan kompak menggeret Sakhi menjauh dari Pak Yudha. Ke mana tujuannya mereka tidak menentukan itu, yang penting mereka tidak merasakan kehadiran pria itu. Tanpa berunding pun mereka berdua sudah sepakat untuk membeberkan apa yang terjadi kepada Sakhi demi keselamatan perempuan itu.
"Guys, kalian kenapa? Ada urusan apa sama gue?" tanya Sakhi melempar tatap dari Juan ke Mikha dan kembali lagi ke Juan berulang kali. Wajah dua orang di hadapannya lebih dari sekedar pahit. Sorot mata mereka seolah menusuk Sakhi tepat di jantungnya.
"Pak Yudha menurut lo orangnya gimana?" tanya Juan, meredam rasa geramnya. Ia sudah membayangkan teknik bela diri apa yang akan ia keluarkan jika suatu saat nanti pria itu macam-macam dengan Sakhi.
Sakhi terdiam sejenak. "Biasa aja. Ya ... friendly sih lumayan. Mungkin karena masih muda."
Mikha menghela napasnya seraya menggeleng pelan. "Sakhi, lo itu orang pertama yang peduli sama gue. Jadi, gue juga sepeduli ini sama lo."
Sakhi tertawa kikuk. "Kalian mau ngomong apa sih aslinya?"
Mikha merogoh ponselnya. Ia membuka aplikasi catatan dan menuliskan kalimat yang tidak bisa ia sampaikan melalui mulutnya. Ia melirik sekilas ke arah Juan, lelaki itu tidak menyanggahnya sama sekali, pertanda mereka berdua sudah menyetujui langkah ini.
"Baca ini dalem hati dan jangan overreact, bahaya," pinta Mikha seraya menyerahkan ponselnya kepada Sakhi.
Sakhi membaca kata demi kata yang Mikha tulis di ponselnya. Matanya semakin melebar saat menemukan kata yang seharusnya tidak berdampingan dengan nama gurunya. Ia menemukan nama lain yang seharusnya tidak berdampingan dengan kata-kata yang ia temukan.
Setiap kalimat memeras kedua matanya untuk mengeluarkan air mata, dibiarkan menggenang di kelopak matanya hingga tidak bisa dibendung lagi. Ia menundukkan kepalanya, tidak sanggup untuk bersitatap dengan Mikha ataupun Juan.
"Maaf ya ... gue gak tau kalian ngelewatin ini semua. Gue minta maaf ... gue terlalu bodoh-"
Belum selesai kalimatnya, tubuhnya sudah dipeluk erat. Sangat erat hingga Sakhi semakin merasa bersalah karena seharusnya ia yang memberikan pelukan itu untuk temannya. Ia membebaskan tangannya yang semula terjebak dalam pelukan lalu membalas pelukan Mikha.
"Justru lo yang nolongin gue. Kalo lo gak jadi temen gue, gue gak akan tau Juan orangnya gimana dan gak akan kepikiran buat minta tolong ke dia."
Tangisan Sakhi semakin kencang. Perasaan hangat mendadak berubah menjadi getir. "S-Sakhi, gue gak apa-apa kok, tenang aja. Ada Juan juga yang bantuin gue," ujar Mikha sembari menepuk-nepuk punggung Sakhi pelan. Ia melirik ke arah Juan yang hanya bisa menahan pintu pantry agar tidak dibuka secara tiba-tiba.
Sakhi perlahan melepaskan pelukannya. "Terus gimana? Kalian udah tau harus apa? Gue bisa bantu apa?"
"Kalo kalian ada waktu, gue mau bahas sesuatu abis pulsek nanti," sahut Juan. Lelaki itu melempar tatapannya ke arah Sakhi. "Jangan maksain diri ya, Sak. Ini bakal lebih gila dari apa yang lo bayangin."
《《《 》》》
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.