Entah apakah Juan berhasil tidur kemarin malam atau hanya memejamkan matanya hingga matahari terbit, Juan tidak tahu. Lelaki itu menyeret langkahnya keluar dari kamar, berharap sang bunda sudah menyiapkan sarapan di atas mejanya.
Benar saja, sebuah piring yang ditutup oleh sehelai tisu sudah siap di atas meja. Juan berjalan menuju meja makan, mendapati secarik kertas yang tergeletak di samping piring. Tingkah jadul ini sedikit membuat Juan terhibur, padahal bundanya bisa mengirimnya pesan melalui ponsel.
"bunda mau belanja dulu buat mika.
kalo ada masalah di sekolah nanti langsung telepon bunda ya, juan. bunda serius."
Juan mengangguk kecil sebagai refleks respons. Ia terduduk di kursi ruang makan, melahap sosis goreng dan nasi yang sedikit hangat. Ia menoleh ke arah pintu kamar orang tuanya, tempat Mikha beristirahat.
Semua racauan Mikha masih berputar jelas di kepalanya. Pekikan Mikha saat menegur Pak Farid masih membuat hatinya tersentak setiap kali kalimat itu terngiang. Semakin ia merasa tertekan dengan ingatan itu, semakin ia merasa bersalah. Kalau mendengarnya saja sudah membuatnya hampir gila, bagaimana dengan Mikha yang menghadapinya?
Lelaki itu mempercepat suapannya. Ia meraih bungkus roti dan botol selai sembari mengunyah suapan terakhirnya. Ia mengoles selai kacang di atas beberapa potong roti. Ia letakkan di atas piring bersih lalu ia tutup dengan tisu seperti apa yang bundanya lakukan. Terakhir, ia menulis pesan singkat di atas kertas origami miliknya untuk Mikha, khawatir perempuan itu terbangun dengan perut lapar dan sendirian.
"ini sarapannya ya, Mik. kalo lo alergi, bisa ganti ke selai lain yang ada di kulkas. semuanya baru, tinggal buka aja. kalo gak bisa, lo makan roti tawarnya dulu aja, sorry malah banyak nyuruh."
-Juan
Juan menghela napasnya, ia meninggalkan kertas itu di atas meja lalu melanjutkan kewajibannya, pergi ke sekolah. Terjaga sehari memang tidak membuatnya jatuh sakit, tetapi nyawanya hampir melayang saat lelaki itu terlelap sepersekian detik di atas motor. Pengalaman menegangkan itu membuat rasa kantuknya hilang seketika.
Juan mengusak matanya pelan di tengah langkahnya menaiki tangga menuju kelasnya di lantai tiga. Ia bersiap untuk bertingkah biasa saja, seolah tidak ada yang terjadi, seolah ia juga bertanya-tanya apa yang terjadi dengan dua orang temannya yang tidak hadir hari ini.
"Juan!"
Derap langkah yang menggetarkan lantai itu sedikit mengguncang jantung si pemilik nama. Lelaki itu menoleh ke belakang, mendapati Galang yang berlari menghampirinya. "Kenapa dah? Pagi-pagi begini," ujarnya heran.
"Ini serius Mikha kita?" tanya lelaki itu seraya menyodorkan ponselnya, menampakkan sebuah laman berita yang baru diunggah pagi ini. Sebuah berita mengenai kerusuhan di sebuah apartemen pusat kota yang disebabkan oleh penangkapan pelaku kekerasan seksual pada seorang siswi SMA.
Gambar yang diunggah diberi sensor kecuali wajah Mikha, wajah yang harusnya paling dilindungi. Informasi yang ditulis di laman tersebut hampir semuanya berbentuk dugaan mengingat belum ada laporan resmi dari pihak kepolisian, tetapi semua dugaan itu benar.
Kedua kaki Juan tidak mampu menahan beban untuk beberapa saat, lelaki itu menumpukan tangannya di pundak Galang agar lelaki itu tidak terjatuh lemas. Semua persiapannya saat menaiki tangga tadi sia-sia. Pertama kalinya Juan merasa geram dengan kemajuan teknologi. Semua orang yang berada di tempat kejadian dengan mudahnya mengunggah rekaman atau gambar ke sosial media ditambah dengan narasi yang menggiring opini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kanigara
Roman pour AdolescentsSemua orang tentu ingin memiliki hidup yang bahagia, termasuk Juan. Ia pikir hidupnya memang sudah bahagia, tapi ternyata ia hanya belum menyadari lubang hitam yang berada tepat di belakangnya dan bersiap untuk menelan semua kebahagiaan yang ia itu...
