26

38 6 0
                                        

"Juan kenal Mikha sama Renata?"

Dua nama itu masuk ke telinganya lalu memompa kencang seluruh darah di tubuhnya. Ia menoleh ke arah bundanya yang tengah berdiri di pinggir meja makan sembari memandangi ponselnya.

Juan mengangguk. "Kenapa, Bun?"

"Orang tuanya nanyain di grup parent, belum pulang juga jam segini," jelas Kirana. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Tidak pernah ada kegiatan sekolah yang diizinkan untuk berjalan lewat dari jam enam sore.

"Mereka deket gak, Juan? Mungkin mereka masih main bareng gitu? Kalo iya, bunda coba jelasin di grup nanti," lanjut Kirana getir. Ia sangat khawatir dengan dua anak itu seakan mereka adalah anak kandungnya sendiri.

Juan menggeleng. Kedua tangannya yang sedikit gemetar mencoba untuk tetap stabil untuk membuka ponselnya, mencoba menghubungi Mikha walaupun hasilnya sesuai dengan yang ia duga, tidak ada respons apa pun. Ia membaca ulang semua pesan dari Mikha, berharap mendapatkan secercah harapan untuk mengetahui keadaan perempuan itu sekarang.

Ia membuka gambar hasil tangkapan layar, terdapat pesan dari Pak Yudha yang mengirim lokasi di mana pria itu berada. Sayangnya Mikha tidak mengirim lokasi itu sehingga Juan tidak bisa mengetahui kemungkinan di mana pria itu berada. Ini bukan tuduhan asal, Juan sangat yakin Mikha dan Renata sedang dalam bahaya.

"Bun, Juan keluar sebentar ya." Lelaki itu mendorong kursinya kasar, membiarkan tubuhnya bergerak lebih dulu mengambil jaket, powerbank, serta dompetnya lalu dimasukkan ke dalam tas yang melingkar dari pundak lalu ke pinggangnya. Untuk beberapa saat ia tidak bisa mendengar suara sang bunda yang melarangnya untuk keluar.

"Juan, nurut sama bunda!" Teguran terakhir itu menggema di setiap sudut rumah. Teguran pertama yang Juan dapatkan seumur hidupnya. Teguran pertama yang akan ia bantah saat itu juga.

"Bunda, yang tau keadaan Mikha sama Renata itu cuma Juan. Mereka yang minta tolong ke Juan supaya Juan bisa selamatin mereka. Juan sekarang hampir gagal, Bunda."

"Selamatin dari apa, Juan?" lirih Kirana lemas. Ia tidak ingin kehilangan permatanya yang lebih dari berharga. "Bunda sayang sama Juan bukan berarti bunda izinin semua hal yang Juan lakuin, apalagi yang bahaya kayak gini."

Juan menghela napasnya. Ia menyerahkan ponselnya yang masih membuka ruang pesan dirinya dan Mikha kepada bundanya. "Sekolah Juan kecolongan. Ada guru yang setega ini sama muridnya, sama temen Juan."

"Juan mau lapor polisi, Juan janji gak akan hilang, Bun. Juan bakal terus kabarin Bunda. Juan bakal pulang hari ini. Gak akan lewat dari jam 12 malam. Gak usah bilang ayah, ayah kan lagi di luar kota, nanti ayah gak bisa tidur."

Wanita itu diam membeku, tidak percaya dengan apa yang ia lihat di ponsel anaknya. Ia menyeka air matanya kasar. "Ya sudah kalau gitu, hati-hati, Nak."

Juan mencium punggung tangan bundanya, meninggalkan rumahnya dengan gemuruh di benaknya. Tanpa persiapan, tanpa latihan, tanpa rencana, lelaki itu menghubungi Pak Farid, berharap pria itu mengangkatnya dalam hitungan detik.

"Malam, dengan saya, Farid Suryawan, anggota satuan-"

"Pak Farid! Saya butuh Bapak, sekarang! Tolong datang ke tempat kita ketemu waktu itu, di rumah kosong!" seru Juan di tengah ia menunggu ojek online yang ia pesan datang. Pak Farid tidak menjawab panjang, hanya satu kata "iya" lalu telepon terputus.

Angin malam meniup kupluk jaket Juan agar tidak bisa duduk tenang membungkus kepalanya yang mungkin saja kedinginan. Lelaki itu tidak khawatir dengan apa pun selain keselamatan Mikha dan Renata. Ia harus menemukan mereka malam ini atau semuanya terlambat.

KanigaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang