"Gue gak mau pulang."
"Gue pulang juga besoknya gue bakal dibuang."
"Nasib gue emang gak jauh dari tempat sampah."
Juan menelan semua kalimat itu seolah itu semua merupakan obat paling pahit yang bisa menyembuhkan rasa sesaknya. Rasa leganya terasa seperti dosa besar. Bagaimana bisa ia merasa lega setelah menemukan Mikha dalam keadaan seperti ini?
"Ada gue, Mik." Juan menumpukan tangannya di atas pintu mobil yang sengaja ia buka supaya tidak engap. Ia memalingkan wajahnya dari Mikha, ia yakin perempuan itu sangat tidak nyaman dengan keberadaannya walaupun dirinya adalah teman yang sudah susah payah menyelamatkannya.
"Juan."
"Iya, Mik?" balas Juan, tetap memalingkan wajahnya.
"Maaf ya udah ngerepotin lo. Kita gak kenal deket, tapi lo segininya buat nolongin gue." Mikha masih menundukkan kepalanya, menahan isak tangis yang ia rasa tidak penting untuk ditunjukkan.
"Namanya temen, Mik."
"Nanti ... jagain yang lain juga ya." Mikha mengembuskan napasnya berat. "Jagain Sakhi juga," lanjutnya sedikit tersendat.
Juan mengangguk. "Iya, Mik."
Isak tangis Mikha semakin terdengar jelas. Ia ingin melontarkan semua yang ingin ia katakan, berharap tidak ada yang mengganjal hatinya. Ia ingin meninggalkan semua tanpa ada rasa sesal. Ia ingin berbicara, tetapi mulutnya tidak sanggup.
"Maafin gue ya, Juan. Lo jadi punya temen kayak gue."
"Maafin gue karena lo jadi harus ngalamin ini." Ia mengedipkan matanya berkali-kali, menahan agar tidak terjatuh. "Udah ya, Mik. Gue gak pegang minum, kalo gue udah punya air minum nanti gue bolehin lo buat ngomong lagi. Nanti gue dengerin sampe selesai, tenang aja."
Mikha menyeka air matanya yang tak kunjung reda. Ia melirik sekilas ke arah Juan, lelaki itu juga tidak bisa membendung air matanya. "Renata ... dia di mana sekarang?" tanya Mikha. Tidak berharap untuk dijawab, ia yakin Juan juga tidak tahu.
"Gimana kalo ortu dia juga kayak gue? Dia pulang ke mana?" lanjut Mikha.
"Lo sendiri pulangnya ke mana, Mikha?" balas Juan pahit. Sudah cukup ia membiarkan Mikha menganggap dirinya sendiri sebagai sampah. Ia tidak sudi membiarkan pikiran itu melekat di kepala Mikha lebih lama lagi.
Mikha menghela napasnya. "Gue kan beda sama Renata, lo tau sendiri dia gimana."
Langkah besar Pak Farid mengakhiri percakapan mereka. Pria itu sedikit tersengal, tetapi masih bisa mengatur napasnya. "Saya sudah dapat lokasi teman kalian, saya berani jamin teman kalian akan selamat. Sekarang kita pulang."
"Selamat menurut Bapak itu gimana? Menurut Bapak saya ini selamat atau enggak?"
Kompak Juan dan Pak Farid menoleh ke arah Mikha. Pak Farid lantas mengepalkan tangannya, menyesal dengan kalimat yang baru ia lontarkan. Juan pun tidak bisa menghindari kepahitan yang ia rasakan saat mendengar ucapan Mikha.
"Saya minta maaf atas ucapan saya. Sekarang saya akan mengantar kalian ke pos polisi Sukasari. Orang tua kamu ada di sana, Mikha."
Juan mendesis gemas mendengar ucapan Pak Farid yang sangat fatal. Jemarinya berkutik, berusaha menengahi Mikha dan Pak Farid yang entah sejak kapan beradu argumen seperti guru dan murid terpintar di kelasnya. Mikha menolak untuk bertemu orang tuanya, sedangkan Pak Farid percaya orang tua adalah sosok yang Mikha butuhkan saat ini.
"Pak, sebagai polisi apa gak bisa turutin permintaan saya? Saya ini korban loh, Pak." Mikha mengambil napasnya beberapa kali, menyadari apa yang baru ia katakan. "Saya ini korban kekerasan seksual, Pak! Mau ditaro di mana muka saya kalo ketemu orang tua saya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Kanigara
Fiksyen RemajaSemua orang tentu ingin memiliki hidup yang bahagia, termasuk Juan. Ia pikir hidupnya memang sudah bahagia, tapi ternyata ia hanya belum menyadari lubang hitam yang berada tepat di belakangnya dan bersiap untuk menelan semua kebahagiaan yang ia itu...
