Tuan yang tak bertuan
Kadang rinduku memang tak selalu sampai
Tuan jauh dari peraduan
Diri hilang dibawah rembulan
Tuan yang bangun saat pagi menjelang
Diri masih terlelap dalam keheningan
Nyatanya terlambat sebentar
Tak ada kita berjumpa di lain waktu
Tuan sudah siap berseragam
Diri masih hilang dalam bayangan
Malu kian malu, sayang
Tuan sudah bercucuran
Diri juga begitu, tuan
Panas siang ditutup penghangat dari malam
Tuan rembulan sudah datang
Kian kelam kian temaram
Rinduku pada tuan kian menjadi kelam
Pekat kian pekat dalam pikiran
Tuan sudah terlelap dalam rehat
Hidupku baru dimulai dalam gelap
Napas siangku memberat dibawah rembulan
Nyanyian sendu tak sampai tuan
Tak sampai untuk mengantarku ke alam
Tuan sudah mulai berkelana
Diri juga ikut berkelana
Mata tuan sudah memberat
Tapi mata ini justru kian membuka tak bersyarat
Tuan, sesak dan kian berat pikir ini
Dalam dan makin tenggelam
Lantai dingin ini bertambahlah dingin
Sendiri, tenggelam, dalam
Tuan, tubuh ini kian tersedot kedalam
Sangat menyesakkan
Dan, hidup ini dimulai
Dibawah rembulan
Rinduku kian dalam
KAMU SEDANG MEMBACA
Untuk Kamu
PoetryUntuk kamu yang merasakan banyak rasa aneh saat menjadi manusia
