Lagi
sudah berapa kali ku ingatkan. Tentang bagaimana caranya menjaga sebuah hati yang tersusun akan tiap memori.
sudah berapa gores yang kau simpan dalam kecilnya tubuhmu. Sudah ribuan ?
Jika kau memang tak mendengarkan suara kepalamu sendiri, maka rasakanlah. Luka basahmu kembali tergores.
Satu kotak galaksi memang tanpa sepi yang menemani, kian hari kain ramai orang mengunjungi. Bukan tentang bagaimana orang meninggalkan setumpuk sampah tiap pagi.
Aku yang kian hari kian malas meratapi, terlalu lelah mengajari pada sebuah organ lunak yang keras kepala.
Aku akan berpesan pada diriku sendiri.
Wahai diriku yang aku hormati, kau terlalu keras belakangan ini. Maafkan aku yang tak tau diri. Memaksamu memeras hati.
Wahai diriku yang aku benci. Mohon sadarkan diri. Tolong berhenti berharap pada yang tak pasti. Bukan apa apa. Aku takut kau terluka lagi.
Kian lama aku kian paham akan satu dua luka yang tertanam dengan pasti. Dia terlalu tangguh untuk ku cabut bahkan ku tumbangkan dengan kaki.
Bulan hari ini bukan tentang sepi, dia ditemani lampu yang menggantung didahan bagian barat bersama mentari.
Bukan seperti diri yang kian kusesali. Tentang rasa yang tak mau pergi walau aku menghendaki.
Mungkin aku meminta satu potong maaf malam ini. Ditemani satu cangkir kopi dengan asap yang membumbung tinggi.
Harapku kian besar tentang kamu. Kian hari selalu ku tunggu diteras sambil menyesap cangkir teh tiap pagi.
Aku adalah tentang hati yang tak mau berkompromi. Bukan seperti pesawat yang berhenti di kota pembawa air mata menuju tanah pribumi. Tentang perahu yang berdiam membatu di gunung rinjani.
Aku mengemis maaf pada kamu. Tentang betapa besar harapku untuk menggenggam tanganmu.
Mungkin kau tak peduli betapa keras hati yang kecil ini bagai menopang berat makhluk di kolong langit yang sepi.
Aku yang bersalah, terlalu berharap pada kamu yang memang senyum secerah matahari pagi. Pada sampah ini, pun pada seorang bidadari.
Maaf, jika kadang dirimu yang tak tau masuk dalam mimpi seorang buruk seperti ini. Berperan menjadi pangeran yang memang pantas, tapi harus bersanding dengan pelayan pribadi.
Maaf, jika selalu kau masuk dalam angan dan bayang kotorku ini. Hidup dengan menggandeng tangan mulusmu dengan tangan kotor dan kasar milikku sendiri.
Aku memang tak satu tangga denganmu. Jauh berada dibawah.
Tapi, satu kali lagi. Bolehkan aku melanjutkan anganku yang tertunda ?
Satu kali ini saja, setelah itu akan ku tahan sekuat hati.
Jika seketika aku menginginkanmu lagi. Maka maaf, aku akan berkata khilaf. Karena aku tak mampu menahan otakku sendiri.
Terlalu liar bayangmu dalam mimpiku. Hidup bersama satu taman bunga penuh tanpa ada jalan untuk menapaki.
Maaf, kau mungkin harus masuk kembali dalam mimpiku malam ini.
Aku sudah berusaha keras dengan tubuh ringkih ini. Tapi dia terlalu kuat untuk menyeretmu masuk kembali.
Lalu setelah hari ini, kembali.
Tubuh kecilku ini meratapi, betapa bodoh aku kemarin. Mencoba lagi dan lagi membawamu pergi. Walau dalam anganku sendiri.
Aku terluka kembali
Karena terlalu berharap pada cerita yang ku karang sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Untuk Kamu
PuisiUntuk kamu yang merasakan banyak rasa aneh saat menjadi manusia
