Yang Menjadi Penggemar Putri Malu

4 0 0
                                        

kemarin aku bermain ke taman, berjalan menusuri kerikil kerikil yang ditempatkan tukang dengan asal. satu persatu kerikil menghalangi langkahku yang terseret. aduh menyusahkan. kamu tau apa yang paling menyenangkan dari melukai kaki ku dengan kerikil kecil itu? aku menemukan putri malu kesukaanmu. 

telingaku yang biasanya memang kumatikan ketika  diluar, tiba-tiba menjadi lebih sensitif dan lebih bekerja didekatmu. dengan aktif merekam pembicaraanmu didepan, kamu menceritakan sesuatu yang sangat acak. putri malu. dan itu semua terekam sampai 15 tahun kedepan. aku dengan telingaku yang mati. 

sejak hari pertama mendengarkan ceritamu, putri malu menjadi suatu keajaiban yang aku agungkan. bagaimana makhluk yang bahkan tidak punya mata dan persaan itu bisa memiliki rasa malu bahkan jika disentuh dengan halus pun. tak ayal itu menggambarkanku kadang-kadang, membayangkan sorot matamu melewatiku bahkan ketika ku sadar bahwa kamu memandang objek dibelakangku pun, aku ikut mengkerut dan mengecil layaknya putri malu. sunggul memalukan.

tapi seindah daun kecil yang bergerak halus ketika disentuh itu, seindah itu pula aku mengagumimu. geraknya bagaikan suatu efek yang mungkin hanya terlihat dimataku. dan hari ini pun, dengan mata ku yang kian berbinar, kudapati putri malu menyembul dari bebatuan kecil. mekar dan hijau, bergoyang halus terkena angin, tapi tidak semalu ketika aku menyentuhnya pelan. lucu.

dalam pikirku sudah kupetik putri malu tanpa membuatnya malu, ku pajang indah ditembok rumahku, ku tanam ulang didepan rumahku, ku bawa dalam pot kecil untuk diletakkan di meja samping tempat tidurku. kupandangi kapan dia akan malu, apakah saat aku tersenyum dan memandangnya dekat dekat? atau justru saat aku menyanyikan lagu tidur saat malam, atau justru saat aku memarahinya karena dia layu. 

Untuk KamuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang