Hari hari jalan yang kutempuh tak lagi sama, hampir mirip dengan menyusuri suatu jalan yang sudah kamu hafal. berjalan normal bak autopilot tapi juga tak ada lagi rasanya. Hidup hanya berjalan sebagaimana mestinya, memenuhi hak hidup dengan bernapas dan makan.
Bahkan makanan mahal yang dulu aku idam-idamkan sekarang pun tak berasa. Hambar, tak ada nikmatnya. Hidup berjalan hanya untuk memenuhi rutinitas, setelah itu pikiranku kosong, tak ada kenangan yang ingin aku ingat, dan tiap hari rasanya jalan di tempat.
Tiap hari melihat kamu dengan jalan yang terlihat ringan, jalan yang terlihat indah. Kadang bahkan tiap saat rasa iri itu datang. Entah dengan sepatumu yang selalu cerah, entah dengan selera fashionmu yang selalu percaya diri, entah dengan gaya bicaramu yang lancar dan diplomatis.
Malu, aku malu dengan alas kakiku yang sobek sana sini, dengan selera fashionku dengan baju longgar berwarna gelap itu, dengan pemikiran lamban dan bahasa yang belibet. Aku kecil dan selalu mengecil. Bagaimana sesama manusia seberbeda itu? Kamu dengan kelengkapanmu, aku dengan kekuranganku.
Tak ada lagi rasa penasaran, tak ada lagi rasa antusias. Berjalan saja dengan datar. Tak ada perubahan sama sekali. Sampai kapan harus begini? kan hidup saja cuma sekali, masa seumur hidup akan begini, hanya berjalan tak ada nikmatnya sama sekali.
Aku tau hujan masih biarkan aku hidup untuk suatu hal yang harus dilakukan, entah itu hal yang menarik, entah itu aku masih harus dimanfaatkan untuk mempermulus jalan orang lain. Rasanya kalimat dimanfaatkan pun sangat tidak layak, aku setidak beruguna ini, apa yang perlu dimanfaatkan pun tak ada.
KAMU SEDANG MEMBACA
Untuk Kamu
PoesíaUntuk kamu yang merasakan banyak rasa aneh saat menjadi manusia
