13. Terjebak Tawuran.

324 15 2
                                        

•••

Seminggu belakangan, Jein mendadak bertransformasi jadi ninja. Dia rela jalan memutar menembus semak-semak dan rute memutar yang bikin betis pegal demi menghindari kawasan Fakultas Teknik.

Semua ini gara-gara Royce. Sumpah, cowok itu seremnya sudah level horor! Royce meneror teman-teman Jein, bahkan sampai membentak Dani di koridor. Sementara Keagan—sang dalang utama di balik kekacauan hidup Jein—malah menghilang bak ditelan bumi tanpa pernah bertanya kabar Jein sejak insiden menggemparkan di lorong medisin.

Masalah makin runyam saat Royce berhasil mendapatkan nomor WhatsApp Jein. Pesan ancamannya singkat tapi bikin merinding: "Hari ini gue bakal nemuin lo." Siapa yang gak panik coba? Semua orang di kampus tahu siapa Royce, anak Sipil garang yang berteman dekat sama Anca—biang kerok Fakultas Mesin. Alasan mereka berdua belum diproses DO dari kampus adalah karena keduanya berprestasi dalam cabang olahraga.

"Lo ngapain di sini, njir?!" seru Dani heboh begitu melihat Jein menyusup masuk ke dalam kelasnya.

"Ya masuk kelas lah!" bisik Jein panik.

Dani berdecak gemas. "Gila lo! Royce masih nyariin lo, sejam lalu dia ke sini bareng rombongannya!"

Bulu kuduk Jein langsung berdiri. "Buset, bawa rombongan? Mau demo?!"

"Dia emang udah agak freak," cerocos Dani. "Dia beda sama cowok lain, dia itu gay—"

"Danielle!" Jein refleks menepuk mulut Dani. "Suara lo bisa dipelanin dikit gak?!"

Dani menepis tangan Jein. "Biarin aja! Biar semua orang tahu preferensi seks—"

"Dani, please!"

"Oke, fine!" Dani mengalah, lalu merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah buku catatan bersampul hitam tebal dengan tulisan nama Keagan Ong. Dani menyodorkannya ke Jein. "Nih, dari Kak Keagan."

Jein melongo. "Kok bisa di lo?"

"Gue gak tahu romansa rumit kalian berdua ya, tapi kemarin dia nyamperin gue cuma buat nitipin ini." Dani mengarahkan buku itu ke wajah Jein. "Katanya, ini rangkuman materi buat lo biar gak ketinggalan kelas, plus... gara-gara Royce nerror lo."

"Dia gak nerror gue—"

"Dia ngirim pesan penuh ancaman, Jein!" potong Dani gemas. "Harus nunggu lo masuk bangsal IGD dulu baru lo sebut itu teror?!"

"Ya gak gitu juga..."

Dani mengusap wajahnya frustrasi. "What the actual fuck is going on between you, Keagan, and Royce?!"

"Gue belum cerita ke lo, ya?"

"Ya iyalah, pe'a! Gue gak akan nanya kalau lo udah cerita!"

"Panjang ceritanya. Intinya, Kak Royce itu suka sama Kak Keagan—"

"Dan Kak Keagan sukanya sama lo?" tebak Dani kilat.

"Bukan suka—"

"Yaudah, Kak Keagan ada rasa sama lo!" putus Dani. "Makanya dia ngasih buku catatan itu!"

"Kak Keagan gak suka sama gue, Dani—"

"Lo tuh gak peka—"

"Gak, Dani! Gue tahu betul cara dia natap gue. Gue gak bodoh kayak lo yang gak bisa membedakan mana cowok yang beneran suka sama yang cuma memanfaatkan situasi!"

"Bicara lo agak menyayat hati ya..." ringis Dani.

"Whatever, Dan." Jein buru-buru memasukkan buku tebal itu ke dalam tasnya.

"Tapi dengerin gue dulu!" seru Dani tak mau kalah. "Seluruh angkatan dari maba sampai senior tahu kalau Kak Keagan itu pelitnya minta ampun soal rangkuman materi! Catatannya itu paling akurat se-fakultas, bahkan dosen aja sering nyuruh mahasiswa minta rangkuman dia. Tapi gak ada satu pun orang yang dikasih! Naah, sekarang, gak ada angin gak ada tsunami, dia ngasih 'kitab suci limited edition' itu ke elo. Apa namanya kalau bukan bucin?!"

Diary Keluarga Bahagia - REVISICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang