4

6K 595 11
                                        

"Makanlah dengan perlahan San, tak akan ada yang mengambilnya darimu."

Wooyoung menggelengkan kepalanya saat melihat San yang tak mendengarkan apa yang ia katakan barusan, dia terlihat seperti orang yang tak makan satu bulan.

San berhenti memasukkan makanannya itu kedalam mulutnya saat Wooyoung tiba-tiba mengusap ujung bibirnya disana. Ia menatap bingung kearah Wooyoung.

"Kau bahkan makan seperti anak kecil."

Wooyoung mengambil sisa makanan yang menempel di ujung bibir San. Wooyoung tersenyum pada San, ia merasa senang San berhasil memenangkan pertandingannya.

"Apa ada bagian tubuhmu yang terasa sakit? katakan padaku."

"Di pinggang kanan."

San mulai kembali memasukkan potongan daging kedalam mulutnya. Tak hanya sakit bahkan ia merasa jika itu membengkak, tapi ia tak peduli karena ia sangat lapar.

"Apa kau menyesal dengan semua ini?"

"Tidak, aku bahkan dapat melakukannya lagi jika itu bisa menghasilkan uang."

"Itu bagus, kau harus ikut aku sekarang."

San mengangguk menjawab perkataan Wooyoung. Ia tak pernah menyesali apapun kecuali saat ia kehilangan sesuatu yang sangat berharga untuknya.

Dan itu sudah pernah ia rasakan saat ia kehilangan semua anggota keluarganya, ia masih merasa menyesal karena tak bisa menyelamatkan mereka dari kematian.

"Apa kamu sudah kenyang? aku akan mengobatimu."

"Aku masih lapar."

"Apa?! tapi kamu sudah menghabiskan dua porsi daging sendirian."

"Aku tak bisa memakan lebih?"

Wooyoung sedikit tersentak saat melihat San yang seperti memelas disana, ia tak menyangka jika San masih merasa lapar bahkan dengan dua porsi daging besar.

"Baiklah, tapi hanya satu porsi saja."

Setelah Wooyoung menunggu cukup lama saat San menghabiskan makanannya itu, ia benar-benar tak menyangka jika San dapat menghabiskan semuanya sendirian.

Dia juga sangat fokus dengan makanannya itu sampai dia seringkali mengabaikan dirinya. Tapi meskipun begitu, ia dapat melihat San beberapa kali meringis pelan.

"Sudah bukan? ayo pulang."

















San menatap Wooyoung yang sangat berhati-hati saat mengobatinya disana, ia tak pernah mengobati lukanya sekalipun dan itu berhasil membuatnya senang.

"Kau memiliki kekasih?"

Wooyoung menatap mata San disana, karena memang ia sedang mengobati wajah San membuat jarak antara wajahnya dan San benar-benar dekat.

"Mengapa? kau menyukaiku?"

San tersentak saat tiba-tiba Wooyoung mendudukan dirinya itu dipahanya, tidakkah posisi seperti ini terlihat aneh. Apa yang sebenarnya dia pikirkan.

Bahkan dengan senyumannya itu, dia terlihat seperti sedang menggodanya, itu berlebihan. Meskipun ia tak pernah tertarik dengan hubungan sesama jenis.

"Tapi jika seperti ini, aku mungkin bisa..."

"Aku tak memiliki kekasih dan tak akan pernah karena aku hanya menyukai uang. Kenapa kau bertanya itu?"

Wooyoung tersenyum tipis melihat San yang menggelengkan kepalanya disana, entah ini perasaannya saja atau memang ada sesuatu yang menegang sekarang.

"Bisakah kau turun? aku mengantuk."

"Kau tak berhak mengaturku."

San menggelengkan kepalanya, ia tak bisa seperti ini dengan seseorang yang baru ia kenali. Apakah Wooyoung menyadarinya. San sedikit melirik pada Wooyoung disana.

"Aku lelah, jangan menggangguku."

San mengerutkan dahinya saat melihat Wooyoung yang mengerucutkan bibirnya itu, sekarang apa yang membuatnya cemberut, apakah ia berkata terlalu kasar.

Wooyoung memeluk San dan bersandar pada bahunya, ia sebenarnya tak terlalu suka dengan bau besi dari tubuh San, entah mengapa tercium bau besi darinya.

"Apakah San juga bekerja di bengkel?"

"Tak bisakah kau bersikap lebih lembut padaku? aku sudah membantumu."

San menghela nafasnya. Itu benar, ia tak boleh bersikap kasar pada seseorang yang sudah membantunya, terlebih sekarang ia akan tinggal bersama Wooyoung.

"Maaf..."

Wooyoung menyeringai, sebenarnya ia tak terlalu tersinggung dengan itu semua tapi ia suka saat melihat ekspresi wajah yang dibuat oleh San, itu menggemaskan.

Ia menatap San yang terlihat bersalah itu disana dan ia mulai menangkup wajah San dengan mengecup bibirnya. Mungkin ia akan bermain dengannya sebentar.

"Apa kamu tau, tak baik tidur saat kamu baru saja selesai makan."

"Lalu?"

"Bagaimana jika kita bermain sebentar? aku rasa ada yang menengang disana."

San terkejut dengan ucapan Wooyoung dan ternyata dia menyadarinya, tapi bagaimana bisa. Itu tak terlalu menegang dan seharusnya dia tak menyadarinya.

"Tidak, aku tetap akan tidur."

San sedikit mengerutkan dahinya melihat Wooyoung yang menatapnya dengan tatapan kesal disana, apakah ia yang sudah membuat Wooyoung kesal sekarang.

"Apa kau tau, selain kekalahan, aku juga tak menyukai penolakan."

DJANGO : Sanwoo/WoosanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang