Side Story 5

2.2K 175 7
                                        

Jim mengedarkan pandangannya mencari kemana perginya Wobin, pandangannya terhenti saat melihat seseorang yang begitu tak asing baginya. Bukankah itu San?

"San!"

Jim mengerutkan dahinya karena San tak berbalik berhenti, apa dia tak mendengar panggilan darinya? Jim berlari mendekati San yang berjalan cukup cepat disana.

"Hei San, apa yang kau lakukan disini? aku pikir kau benar-benar tak ingin keluar?"

Han cukup terkejut saat tiba-tiba ada yang merangkulnya. Siapa? dia memanggilku dengan nama San, kakak– apa dia mengenal San? ia harus cepat bertanya padanya.

"Apa kau mengenal San?"

"Tentu saja aku mengenalmu bodoh, aku–"

Belum sempat Jim melanjutkan ucapannya itu, Wobin sudah terlebih dahulu menarik tangannya menjauh dari San. Sial, ada apa dengan semua orang hari ini sebenarnya.

"Maaf, temanku sedang mabuk, dia salah mengenalimu."

"Apa kau bilang? aku tak mabuk sialan!"

"Sudahlah ayo pergi."

"Tapi bagaimana dengan San?"

Han menatap kepergian kedua orang itu. Mereka mengenal San, ia tak begitu yakin apa San yang dimaksud adalah kakaknya atau bukan tapi ia berharap jika itu benar.

Ia benar-benar merindukan San, San tak pernah menerima kehadiranku, ia merasa begitu sedih akan kenyataan itu, ia sangat ingin San mengakuiku sebagai saudaranya.

Ia selalu mengagumi San karena San, dia adalah segalanya bagiku, ia bahkan lebih menyayangi San dibandingkan dengan kedua orangtuanya, tapi mengapa? kenapa San berniat untuk membunuhku juga??

Meskipun ia tau itu, ia tak bisa membenci San dan ia lebih membenci dirinya sendiri sekarang. San tak menyayangiku karena ia gagal menjadi adik yang diinginkan San.

"Aku benci menjadi diriku sendiri... aku benci namaku–"

"Tak ada lagi Han di dunia ini."

"Aku adalah San– Choi San."

"Itu benar aku San– yang akan menyayangi adikku Han."

















"San!!"

"Apa yang kau lakukan sialan."

San menatap Wobin yang terengah-engah disana. Apa yang orang bodoh ini pikirkan sebenarnya? dan mengapa juga dia berlari seperti dia habis dikejar polisi.

"Aku– aku bertemu adikmu San, dia masih hidup."

San membulatkan matanya terkejut saat mendengar perkataan Wobin. Han, bocah bodoh itu, dia selamat dari kebakaran? bagaimana bisa dia? tapi apa ini? perasaan aneh apa ini? mengapa ia merasa lega?

Perasaannya bercampur aduk. Ia marah dan kesal karena Han tak mati bersama kedua orangtua sialan itu, tapi di satu sisi ia juga merasa senang dan lega dengan kabar itu.

"San? apa kau baik-baik saja?"

San tersadar dari lamunannya menatap Wobin yang duduk dihadapannya sekarang. Ia tak baik-baik saja, perasaan aneh ini, ia tak menyukainya, ia benci perasaan ini.

San mulai menyesap rokoknya menatap langit-langit berbintang diatas sana. Han– perasaan ini, ia tak pernah benar-benar membenci Han, ia menyayangi adiknya itu.

Hanya saja perasaan iri dan cemburu terus menghampiri hatinya saat ia melihat Han mendapatkan perhatian dari kedua orangtuanya, ia cemburu melihat hal itu.

Ia bahkan iri saat melihat Han mendapat semua yang dia inginkan. Karena perlakuan yang berbeda dari kedua orangtuanya, ia jadi membenci Han, ia menyimpan rasa iri dan cemburu pada Han dibalik kata benci.

"Benar-benar konyol, baiklah mari kita lihat sampai mana keberuntunganmu itu berakhir Han."

















Han meraba perutnya yang terus berbunyi sedari tadi, ia lapar tapi ia tak memiliki uang sepersen pun. Ia biasanya membantu orang-orang dan akan mendapatkan uang.

Han menatap sekelilingnya, mengingat ini sudah hampir tengah malam tak ada siapapun, tapi seharusnya banyak preman yang berkeliaran disini sekarang.

Ia mengalihkan pandangannya saat ia mendengar suara kucing dari arah sampingnya. Ia menatap kucing itu yang sedang mengorek-ngorek sampah disana.

"Aku juga lapar, tapi tak mungkin jika aku memakan sampah."

Han menghela nafasnya pelan, bukankah seharusnya tadi ia mengikuti kedua orang itu? mereka berdua mengenal San, ia ingin bertemu dengan San, tapi ia juga takut.

Han mulai mengalihkan pandangannya saat ia mendengar ada suara langkah kaki disana, ia dapat melihat seseorang yang sedang berjalan sendirian dari arah sana.

Tapi pandangannya tertuju pada makanan yang sedang dia makan sekarang, itu membuatnya semakin lapar, haruskan ia mengambil paksa makanan itu darinya.

Wooyoung sedikit mengerutkan dahinya karena ia terus ditatap tanpa henti oleh pria yang sedang duduk berdampingan dengan kucing kotor itu disana.

Wooyoung mulai menyeringai, ia berjalan mendekati pria tersebut dan mendudukan dirinya disamping pria itu. Untuk sesaat ia sadar jika dia terus menatap makanannya.

"Kau mau?"

"Tidak."

"Kalau begitu aku akan membuangnya."

Wooyoung sedikit terkejut saat tiba-tiba pria itu merebut sandwich yang ingin ia lempar tadi. Ia menatap pria itu yang dengan lahap memakan sandwich nya.

"Berhenti menatapku."

"Tidakkah itu keterlaluan untukmu berkata dingin pada seseorang yang sudah memberikanmu makanan?"

"Aku tak meminta makanan darimu, kau berniat membuangnya."

Wooyoung terus menatap wajah pria itu, dia juga menatapnya dengan datar, tapi tak bisa dipungkiri jika dia terlihat sangat tampan dengan banyakan memar disana.

Han membulatkan matanya terkejut saat pria yang tak ia kenali itu tiba-tiba saja mencium bibirnya sekarang dan ciuman itu bertahan cukup lama tanpa lumatan.

Wooyoung tersenyum tipis melihat wajah terkejut darinya, ia mulai melepaskan ciumannya. Bahkan dia terlihat lebih menggemaskan dibandingkan kucing itu.

"Siapa namamu?"

DJANGO : Sanwoo/WoosanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang