San menghela nafasnya berat, setelah berdebat cukup lama dengan Wooyoung, dia kembali mengabaikannya, bahkan dia juga terus menatap tajam kearahnya.
Ia tak mengerti dengan sikap Wooyoung padanya sekarang, itu membuat ia semakin berharap jika ia dapat memiliki Wooyoung dengan sikapnya itu.
Wooyoung mengerutkan dahinya saat rokok yang sedang ia hisap itu tiba-tiba diambil paksa oleh San dan ini pertama kalinya ia melihat San merokok.
"Apa yang kau lakukan?! kembalikan itu!"
"Berhentilah bersikap seolah kau cemburu Wooyoung, itu membuatku kesal."
Wooyoung menghiraukan ucapan San dan mencoba untuk kembali merebut rokok miliknya dari tangan San, tapi San dengan cepat menjauhkan rokok itu darinya.
"Kau tau aku mencintaimu, tak bisakah kau berhenti membuatku berharap?"
"Omong kosong! memang apa yang kau miliki sampai kau berani mencintaiku?!"
Wooyoung menatap San yang hanya berdiam diri disana dan tak menjawab perkataannya barusan, dia bahkan tak memiliki apapun untuk bisa dibanggakan.
"Lihat? kau tak memiliki apapun San."
"Jadi berhentilah berharap pada khayalan kecilmu itu."
San mulai mengalihkan pandangannya dari Wooyoung dan ia memilih untuk menyesap rokoknya, perkataan Wooyoung sedari tadi semakin membuatnya kesal.
Dan yang lebih membuatnya kesal adalah ia tak dapat membalas perkataannya karena ia memang tak memiliki apapun, bahkan Wooyoung yang membantunya.
"Sialan."
—
San menatap punggung Wooyoung dihadapannya itu, ini sudah satu minggu sejak mereka berdebat waktu lalu dan semuanya kembali seperti semula.
Wooyoung masih terus mengabaikannya, bahkan tak jarang dia hanya memberikan ia uang untuk membeli makan sendiri, tak seperti dulu mereka akan pergi bersama.
Mungkin ia memang tak seharusnya berharap pada Wooyoung, dia juga pasti menginginkan pria yang lebih baik, bukan sepertinya yang tak memiliki apapun.
"Wooyoung!"
Wooyoung mengalihkan pandangannya pada seseorang yang memanggilnya barusan dan itu berhasil membuat ia terkejut saat tau siapa orang tersebut.
"Apa kamu tak merindukanku sayang?"
San mengerutkan dahinya saat mendengar panggilan yang dilontarkan pria itu pada Wooyoung dan tentu itu juga membuatnya sangat cemburu sekarang.
Wooyoung mendorong tubuh Mingi untuk menjauh saat dia berniat untuk memeluknya, ia tak mengerti mengapa dia ada disini sekarang dan bagaimana bisa.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Hm? tentu untuk bertemu denganmu."
Mingi mulai mengalihkan pandangannya saat ia merasa ada seseorang yang sedari tadi menatap tajam padanya. Ia menatap pada seseorang yang berdiri disana.
Ia sempat mendengar ada petarung baru yang dibawa oleh Wooyoung, mungkin yang mereka maksud adalah pria disana. Dia tak terlihat kuat menurutnya.
"Jadi kau sudah menemukan anjing baru?"
"Dia tak terlihat lebih baik dariku."
Mingi juga salah satu orang dibantu oleh Wooyoung, tapi karena memang sudah menjadi sifat Wooyoung saat dulu ia kalah ia langsung dibuang begitu saja.
Ia juga sempat mencintai Wooyoung tapi karena obsesi Wooyoung pada uang itu membuat ia kesal sampai ia terus-menerus mengacaukan pertandingannya.
"Dan bisa dibilang aku juga terobsesi pada Wooyoung sekarang."
Wooyoung sedikit mengerutkan dahinya melihat Mingi yang menyeringai dengan menatap pada San disana, ia yakin jika dia sedang merencanakan sesuatu sekarang.
Ia menarik tangan San dan berjalan pergi meninggalkan Mingi yang disana, tapi langkah kakinya terhenti karena Mingi yang menahan tangannya itu.
"Mau bertanding? aku dan anjingmu itu."
"Aku akan memberikan berapapun yang kamu inginkan jika anjingmu menang."
"Tapi jika dia kalah, kau harus kembali padaku Wooyoung."
KAMU SEDANG MEMBACA
DJANGO : Sanwoo/Woosan
FanfictionWooyoung memungut kucing liar yang ia temui dipinggir jalan, ia menjadikannya sebagai petinju lepas untuk dapat menghasilkan uang dan San rela melakukan apapun untuk Wooyoung karena munculnya perasaan pada managernya itu. - San : Dominant Wooyoung :...
