Wooyoung terbangun dari tidurnya, ia mulai mengusap matanya, entah mengapa ia menangis dan hatinya begitu terasa sakit sekarang, ia tak bisa mengingatnya.
"Apa aku bermimpi? itu seperti nyata."
Wooyoung beranjak dari duduknya dan membangunkan Junho disana, sudah saatnya dia bertarung tapi mengapa dia malah terus tertidur. "Menyebalkan."
Pertandingan antara Junho dan Jaeyun tak berjalan dengan lancar, itu cukup membuat Wooyoung kesal karena Junho kalah dari Jaeyun, padahal dia lemah.
"Sialan, bisa-bisanya kau kalah!!"
"Tapi lawannya terlalu kuat, aku–"
"Kau yang terlalu lemah sialan!"
Wooyoung sedikit mengerutkan dahinya, ini seperti tak asing baginya, ia seperti pernah berada di posisi seperti ini sebelumnya, apakah ini hanya kebetulan.
Ia sedikit menggelengkan kepalanya pelan mungkin ia terlalu kelelahan dan lagi ia malah harus menerima kekalahan akibat pria tak beguna dihadapannya itu.
Wooyoung memilih pergi meninggalkan Junho yang masih terduduk di aspal. Ia merasa aneh, apa karena kehidupannya memang selalu berjalan seperti ini.
Wooyoung masuk kedalam supermarket kecil yang ada di ujung sana, beruntung ada supermarket disini, ia sudah sangat lapar karena belum makan apapun.
"Hmm tapi aku sedang diet, mungkin aku akan membeli sandwich saja."
Ia berjalan keluar dari supermarket itu setelah selesai membayar sandwich nya dan ia kembali berjalan di gang kecil ini untuk sekedar mencari angin malam.
"Ini menyebalkan karena aku harus mencari kucing baru."
Langkah Wooyoung terhenti saat ia melihat ada seorang pria bersama seekor kucing disana, apa yang mereka lakukan disana dan mengapa pria itu terlihat kesal.
Ia berjalan mendekat pada pria itu dan lagi langkahnya terhenti saat tatapan mereka bertemu. Jantungnya juga tiba-tiba berdetak dengan cepat sekarang.
"Tidak, ini bukan tentang keseharianku yang terjadi berulang-ulang."
"Tapi ini kilas balik dari kehidupanku."
"San, orang yang aku cintai. Aku bertemu dengannya disini dulu."
Air mata Wooyoung tiba-tiba keluar begitu saja saat ia melihat wajah San disana. Mengapa ia harus mengalami kilas balik dari kehidupannya. Ini menyakitkan.
"Mengapa kau membuang makanannya?"
Wooyoung tersadar dari pikirannya dan melihat San yang memungut sandwich miliknya yang terlepas dari tangannya itu yang jatuh ke aspal disana.
Wooyoung tak bisa menahan tangisnya, rasanya benar-benar menyakitkan saat ia sadar jika ia tak bisa lagi bersama dengan San karena ini semua hanya kilas balik.
"Apa kau menangis karena aku mengambil makananmu? berhentilah menangis."
Wooyoung menggelengkan kepalanya dan mengusap air matanya itu. Tak peduli ini hanya kilas balik atau khayalannya tapi ia tetap bersama San sekarang.
San membulatkan matanya terkejut saat pria yang tak ia kenali itu tiba-tiba saja mencium bibirnya sekarang dan ciuman itu bertahan cukup lama tanpa lumatan.
Wooyoung terkekeh pelan melihat wajah terkejut dari San, ia mulai melepaskan ciumannya. Bahkan ini benar-benar sama persis saat dulu San terkejut seperti itu.
"Siapa namamu?"
"Mengapa kau tiba-tiba menciumku?"
"Karena kamu menggemaskan."
Wooyoung terus menatap San, meskipun ia dapat bersama San disini tapi tak bisa dipungkiri jika hatinya masih terasa sakit dan ia tak bisa menahan air matanya.
Wooyoung tak benar-benar bisa menahan air matanya itu, ia kembali menangis. Wooyoung langsung memeluk San dengan erat melampiaskan rasa rindunya itu.
Wooyoung terkejut saat San tiba-tiba membalas pelukannya, ini seharusnya tak terjadi di kehidupannya sebelumnya. Apa karena ia tak bersikap seperti seharusnya.
"Aku mencintaimu Wooyoung."
Tangisan Wooyoung semakin menjadi saat mendengar kalimat itu keluar dari mulut San. Wooyoung mengeratkan pelukannya pada San, ia tak ingin San pergi darinya.
"Aku mencintaimu San, jangan pergi."
KAMU SEDANG MEMBACA
DJANGO : Sanwoo/Woosan
FanfictionWooyoung memungut kucing liar yang ia temui dipinggir jalan, ia menjadikannya sebagai petinju lepas untuk dapat menghasilkan uang dan San rela melakukan apapun untuk Wooyoung karena munculnya perasaan pada managernya itu. - San : Dominant Wooyoung :...
