Wooyoung menatap langit-langit kamar. Ia menyesali perkataannya yang berkata mesum untuk membuktikan cintanya itu pada San, sekarang tubuhnya benar-benar terasa hancur, terlebih selangkangannya.
Wooyoung mengalihkan pandangannya melihat San yang hanya tersenyum dengan seperti idiot itu disana. Sungguh, tidakkah seharusnya dia meminta maaf padanya?
"Aku benar-benar mencintaimu sayang."
"Aku merasa jika aku harus membuktikan perasaanku lagi padamu sekarang."
San meringis sakit karena Wooyoung yang mencubit perutnya cukup kuat, tapi ia abaikan rasa sakit itu dan kembali menarik Wooyoung kedalam pelukannya.
Wooyoung hanya bisa merasa kesal tanpa bisa berbuat banyak. Ia menyembunyikan wajahnya pada dada San, ia begitu lelah. Wooyoung mencoba untuk kembali tidur.
"Sayang."
"Um?"
"Aku akan pergi bertanding malam nanti, bagaimana menurutmu? tidakkah kamu rindu menonton pertandingan diatas ring?"
"Tidak."
San menatap Wooyoung yang masih setia menutup matanya disana. Ia perlahan mengusap pipi Wooyoung, betapa cantiknya Wooyoung, ia jadi kembali terangsang.
"Ayolah sayang."
"Tidak."
"Hm– jangan bilang jika kamu masih mencintai adikku yang bodoh itu?"
"Apa maksudmu?"
"Kamu tak ingin karena takut teringat adikku bukan? aku sangat cemburu."
Wooyoung hanya diam tak menjawab. Ia sibuk mencari posisi ternyaman untuknya bisa kembali tidur, ia terlalu lelah karena perbuatan San semalaman, bodohnya dia malah berkata seperti itu padaku sekarang.
"Bodoh– aku hanya mencintaimu."
"Tak ada adikmu atau orang lain, hanya kamu."
Wooyoung mendengus kesal mendengar San terkekeh dan terus menekan-nekan pipinya dengan jari telunjuknya itu. Jika seperti ini San terlihat seperti anak kecil.
"Baiklah, aku akan menemanimu malam nanti, tapi ingat jangan kalah."
—
Seperti bernostalgia saat dulu Wooyoung melihat Han bertanding, sekarang San lah yang diatas sana. Mereka mirip, tapi entah mengapa San terlihat lebih tampan disana.
Dulu Han hanya memikirkan tentang apa yang ingin dia makan, hanya makanan yang dapat membuatnya semangat sampai akhirnya dia memiliki perasaan padanya.
Han ya? dulu ia begitu merasa kehilangan saat Han pergi sampai ia ingin mati juga, tapi Han kembali menyelamatkannya untuk yang kedua kalinya dari sebuah kematian.
Dan sekarang, dengan tak tau dirinya, ia malah mencintai San lebih dari ia mencintai Han dulu. Sungguh, ia benar-benar merasa konyol, tapi bagaimana, San memang tipeku.
"Sayang, apa yang kamu lihat? lihatlah kemari, kekasihmu ada disini!"
Wooyoung merona malu setelah apa yang dikatakan San dengan cukup keras, itu membuat semua mata tertuju padanya. Sial, dia benar-benar membuatnya malu.
San terkekeh gemas melihat Wooyoung menatapnya kesal, dengan rona merah diwajahnya dia begitu menggemaskan, ia sangat ingin menciumnya sekarang juga.
"Hei, apa kau mengabaikanku bodoh? kau pikir kau bisa menang dariku?"
"I will defeat you and get a kiss from my pretty lover. You idiot."
Wooyoung semakin dibuat merona setelah San mengeluarkan kata-kata bodoh seperti itu. Sial, apa yang San pikirkan sampai dia berkata seperti itu didepan banyak orang.
Setelah itu mereka bertanding, beberapa pukulan mengenai San tapi hasilnya tetap San lah yang memenangkan pertandingan. Wooyoung menatap San yang tersenyum manis padanya, tapi senyuman itu terlihat cabul baginya, ia tau apa yang dia pikirkan.
"WOOYOUNG!"
"Aku mencintaimu sampai aku ingin sekali memberikan susu sebanyak-banyaknya untuk membuktikan sebanyak apa cintaku!"
Wooyoung benar-benar tak bisa berkata apapun lagi mendengar kalimat itu dari San. Ia paham betul apa yang dimaksud San dengan susu yang dia katakan. Sungguh–
"Da– DASAR BODOH!!!"
KAMU SEDANG MEMBACA
DJANGO : Sanwoo/Woosan
FanfictionWooyoung memungut kucing liar yang ia temui dipinggir jalan, ia menjadikannya sebagai petinju lepas untuk dapat menghasilkan uang dan San rela melakukan apapun untuk Wooyoung karena munculnya perasaan pada managernya itu. - San : Dominant Wooyoung :...
