"Pergilah Wooyoung, aku mencintaimu."
Wooyoung menatap bingung pada San. Apa yang dia maksud, kenapa dia menyuruhnya untuk pergi. Wooyoung menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia tak ingin pergi.
"Tidak San, aku ingin bersamamu, aku–"
Wooyoung membulatkan matanya terkejut saat San melepaskan pelukannya itu dan mendorongnya. Ia jatuh kedalam lubang putih menatap San yang tersenyum disana.
"Tidak– San... aku ingin bersamamu."
Wooyoung perlahan membuka matanya. Aku menatap langit-langit ruangan tersebut yang berwarna putih dan aku juga mulai mencium bau obat yang cukup menyengat.
Dimana ini? apa aku ada dirumah sakit? Tak mungkin, jelas aku sudah mati. Tapi kenapa, Wooyoung menatap seseorang yang tertidur disampingnya itu, siapa dia?
Wooyoung mengangkat tangannya, ada infus yang tertempel disana. Jadi aku benar-benar dirumah sakit, kenapa aku harus selamat? aku ingin bersama San.
Tanpa sadar aku mulai menangis, kenapa San harus mendorongku untuk pergi, aku tak mau disini, untuk apa aku hidup jika San tak bersamaku. Aku tak mau, aku ingin–
Wooyoung menatap infus ditangannya itu. Ia mulai memegang selang infusnya, aku harus kembali ke sisi San, aku memilih mati karena aku ingin terus bersama San!
Wooyoung mengerutkan dahinya karena ada seseorang yang menahan tangannya saat ia berniat untuk mencabut selang infus tersebut. Ia menatap seseorang itu disana.
"Dokter disini sudah bersusah payah untuk menyelamatkanmu, jangan berpikir konyol."
"Seonghwa hyung?"
Wooyoung mulai menarik tangannya. Apa peduliku jika mereka sudah bersusah payah menyelamatkanku! kenapa mereka tak menyelematkan San, kenapa hanya aku!
"Aku tak peduli!! aku ingin bersama San! aku akan kembali pada San!"
Seonghwa merasa tak tega saat melihat Wooyoung yang putus asa itu disana, dia benar-benar mencintai San sampai dia memilih mati untuk tetap bersama San.
Aku benar-benar terkejut saat menemukan Wooyoung tak sadarkan diri didalam van dengan memeluk San yang sudah tak bernyawa, karena luka nya masih baru aku membawa Wooyoung ke rumah sakit.
Tapi karena pendarahannya yang parah, dokter kesulitan untuk menyelamatkan Wooyoung karena tak ada stok darah yang sama dengan golongan darah Wooyoung.
Dan beruntungnya tuhan masih memihak pada Wooyoung karena ada seseorang yang mau mendonorkan darahnya itu dan aku sangat berterimakasih pada orang tersebut.
Tapi sepertinya Wooyoung tak menyukai kehidupannya sekarang karena San sudah tak bisa diselamatkan. Bagaimanapun juga aku akan tetap menjaga Wooyoung.
"Aku sangat yakin jika San ingin kamu tetap hidup Woo."
Wooyoung mulai mendudukan kepalanya dan air matanya kembali menetes. Benar, San yang menyelamatkanku, tapi aku memilih mati agar tetap bisa bersama San.
"Apa yang bisa aku lakukan jika kamu tak ada disampingku San..."
—
Hari berlalu begitu cepat, sudah 1 bulan sejak aku keluar dari rumah sakit dan aku masih seringkali memikirkan San, meskipun aku sudah mulai terbiasa tanpa adanya San.
Tapi entah kenapa aku masih menangis setiap malam karena memikirkan San dan itu membuat Seonghwa hyung khawatir padaku, bahkan dia juga tidur denganku.
Wooyoung menghela nafasnya pelan. Aku merindukan San, biasanya San akan membuatku kesal setiap hari tapi sekarang hariku benar-benar terasa sangat tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
DJANGO : Sanwoo/Woosan
FanfictionWooyoung memungut kucing liar yang ia temui dipinggir jalan, ia menjadikannya sebagai petinju lepas untuk dapat menghasilkan uang dan San rela melakukan apapun untuk Wooyoung karena munculnya perasaan pada managernya itu. - San : Dominant Wooyoung :...
