5

6K 544 16
                                        

"Kau tau, selain kekalahan, aku juga tak menyukai penolakan."

San dapat melihat tatapan marah dari Wooyoung sekarang, untuk sesaat ia sadar jika Wooyoung adalah orang yang egois dan ia memang tak berhak menolaknya.

Meskipun ia hidup ditempat yang buruk dan tak pernah merasa takut pada apapun tapi tak bisa dipungkiri jika ia takut pada Wooyoung yang sedang marah sekarang.

"Kita bermain yang lain saja."

"Sudahlah kau membosankan."

Wooyoung beranjak dari pangkuan San dan mulai menidurkan dirinya disamping San. Ia sebenarnya ingin terus menggoda San, hanya saja dia membuatnya kesal.

San mulai menatap Wooyoung yang memunggunginya disana, apakah ia sudah benar-benar membuat Wooyoung marah, tapi ia takut jika Wooyoung merasa jijik.

San menghela nafasnya pelan. Ia baru mengenali Wooyoung, ia tak boleh terlalu terbawa perasaannya dan yang harus ia lakukan hanyalah mendapatkan uang.

Ia mulai menidurkan dirinya juga dan menutup matanya, karena ia memang tidur terlentang, ia cukup terkejut saat Wooyoung tiba-tiba saja memeluknya.

Sudah lama sejak terakhir kali ia dipeluk oleh seseorang dan hanya Wooyoung yang mau memeluknya sekarang, karena orang yang ia maksud adalah keluarganya.



















Wooyoung menggeliatkan badannya dan mulai membuka matanya itu, hal yang pertama ia lihat adalah wajah San yang masih tertidur dihadapannya.

Ia bahkan tak sadar jika selama ia tidur, ia terus memeluk San, tapi itu mengejutkan karena San juga memeluknya sekarang. Ia jadi penasaran tentang kehidupan San.

"San, bangun."

Wooyoung mengerutkan dahinya melihat San yang malah memunggunginya sekarang, benar-benar menyebalkan. Ia langsung menepuk-nepuk pipi San disana.

"Bangunlah!"

"Aku akan merasa lapar jika aku bangun."

"Kau bukan gelandangan lagi sekarang, jadi cepatlah bangun."

San dengan cepat membuka matanya. Apa yang dikatakan Wooyoung benar, ia sudah mempunyai uang dan ia tak perlu merasa khawatir jika ia akan kelaparan nantinya.

Tapi tetap saja ia masih merasa ngantuk, sudah lama juga ia tak bangun sepagi ini, ia selalu sengaja tidur cukup lama karena ia akan merasa lapar jika ia bangun.

"Apa yang akan kita lakukan sepagi ini?"

"Membeli sarapan dan kita akan langsung pergi ke kota sebelumnya."

San menatap Wooyoung yang pindah ke depan untuk menyetir, ia merasa jika Wooyoung adalah orang yang baik, itu lah mengapa dia mau membantunya.

"Apa pinggangmu masih sakit?"

"Sudah jelas itu tak akan sembuh hanya dalam satu malam."

"Jika aku menyuruhmu bertanding nanti malam, apa kau dapat melakukannya?"

San memegang bagian pinggangnya yang masih terasa sakit. Tanpa dia bertanya, ia memang harus melakukannya, mengingat Wooyoung tak suka penolakan.

Tapi jika lawannya nanti memukul bagian pinggangnya itu juga akan membuat memar dipinggangnya semakin parah, ia harus menghindari serangannya nanti.

"Jika kau tak bisa, tak masalah."

"Aku bisa, aku akan melakukan apapun yang kamu suruh."

"Bahkan jika aku menyurumu untuk melakukan sex bersamaku sekarang?"

San tentu terkejut dengan apa yang dikatakan Wooyoung barusan. Apa yang dia maksud, apakah itu candaan atau dia memang serius dengan ucapannya itu.

Wooyoung sedikit melirik San dari kaca spion, dia terlihat sangat terkejut dan itu sangat menggemaskan. Entah apa yang dipikirkan San, dia terlihat kebingungan.

"Bukankah melakukan sex dengan sesama jenis itu terlihat aneh?"

"Kau bahkan belum mencobanya."

"Aku tak ingin mencobanya, itu aneh."

"Sepertinya kau lupa jika kau menegang hanya karena aku duduk dipangkuanmu."

"Itu berbeda dengan melakukan sex, aku menengang tanpa sebab."

"Kau hanya berasalan."

San terdiam dan ia menatap Wooyoung disana, ia tak bisa melihat ekspresinya dengan jelas, tapi ia masih bisa melihat Wooyoung yang sedang menyeringai.

Tapi Wooyoung tak terlihat marah karena ia menolaknya, mungkin dia memang bercanda dengan ucapannya itu barusan, ia tak seharusnya berpikir terlalu jauh.

"Mengapa Wooyoung terus menggodaku."

DJANGO : Sanwoo/WoosanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang