Wooyoung terus menatap kearah pintu berharap jika San cepat pulang, tapi penungguannya seolah sia-sia, sudah lebih dari 2 hari San pergi bersama Hongjoong.
"Hei, berhentilah khawatir bodoh, mereka akan kembali dengan selamat."
Wooyoung melirik Yeosang dengan Jongho disana yang sedang bermain catur. Ia tak khawatir, ia hanya takut jika San tak akan kembali lagi dan pergi meninggalkannya.
Yeosang mulai menatap Jongho yang hanya menggedikkan bahunya tak peduli. Ia menghela nafasnya pelan, Wooyoung, dia terlalu mengkhawatirkan si kucing liar itu.
"Bukankah lebih baik kita mengatakannya pada Wooyoung?"
"Apa maksudmu? kau tau jika San hyung akan marah."
"Ugh sial– hanya saja aku tak ingin melihat Wooyoung mengkhawatirkan orang lain."
"Lakukanlah sesukamu, aku tak ingin ikut campur."
Yeosang memutar bola matanya malas. Ia menatap papan caturnya dan ternyata ia sudah kalah, menyebalkan. Yeosang berjalan menghampiri Wooyoung disana.
"Kau–"
"Aku sudah mengetahui semuanya."
Yeosang mengerutkan dahinya mendengar ucapan Wooyoung, apa yang dia maksud dengan mengetahui semuanya? jangan bilang Wooyoung sudah tau kebenarannya?
Wooyoung menatap Yeosang yang terkejut disana. Ia bahkan belum mengatakan apapun, lalu apa yang membuat dia terkejut sekarang? Wooyoung menghela nafasnya.
Ia bersandar pada tembok menatap langit atap disana. Ia terus membohongi dirinya sendiri dengan mengatakan jika San yang sekarang adalah seseorang yang selama ini ia kenal, tapi ternyata semua itu salah.
Hari dimana ia membawa San ke tempat Seonghwa hyung, ia tak benar-benar pergi tapi ia menguping pembicaraan mereka berdua, bahkan setelah mengetahui semua itu, ia masih tetap membohongi dirinya.
Han– dia lah yang selama ini bersamanya, seseorang yang begitu ia cintai. Dan ia bertemu dengan seseorang yang mirip dengan orang yang begitu ia cintai, Han.
Dia adalah San– saudara kembar Han atau kakak kandung Han, mereka terlihat begitu mirip, ia bahkan tak melihat sedikitpun perbedaan dari keduanya. Tatapannya.
Benar, tatapan mereka berdua berbeda. Han memiliki tatapan yang begitu lembut, tapi San meskipun San menatapnya dengan lembut, ia melihat jauh didalam matanya, San menyimpan begitu banyak kebencian.
Ia sudah mengetahui kebenarannya, tapi mengapa? mengapa ia masih tetap ingin bersama San meskipun ia tau jika dia bukanlah seseorang yang ia cintai dulu.
Bahkan meskipun ia tau, ia ingin memeluk San dengan begitu erat, bersama San ia merasa terhubung dengan Han. Ia juga ingin berbagi kehangatan dengan San.
Wooyoung menggepalkan tangannya. Saat mengetahui hal tersebut, dada nya terasa sakit mengetahui jika orang yang ia cintai sudah benar-benar mati, tapi kehadiran San juga mengobati rasa sakit di dada nya ini.
Mungkin itu lah alasan mengapa ia tetap memilih bersama San meskipun ia tau jika dia bukanlah seseorang yang dulunya ia cintai. San bisa mengobati rasa sakitnya.
Wooyoung mulai memejamkan matanya. Han– akankah dia marah jika mengetahui hal ini? mengetahui jika ia mencintai saudara kembarnya sendiri, memalukan.
"Apa kau akan benar-benar marah padaku?"
"Siapa yang akan marah padamu hm?"
Wooyoung langsung membuka matanya melihat San tepat dihadapannya sekarang. Sejak kapan dia ada disini? ia melirik pada Hongjoong yang juga sudah kembali.
San tersenyum tipis dan mengusap pipi Wooyoung. Ia menatap Wooyoung yang masih terdiam disana dan mengecup bibir Wooyoung. San berbisik pada Wooyoung.
"Sepertinya kamu sudah menyadari sesuatu, sayang?"
KAMU SEDANG MEMBACA
DJANGO : Sanwoo/Woosan
Fiksi PenggemarWooyoung memungut kucing liar yang ia temui dipinggir jalan, ia menjadikannya sebagai petinju lepas untuk dapat menghasilkan uang dan San rela melakukan apapun untuk Wooyoung karena munculnya perasaan pada managernya itu. - San : Dominant Wooyoung :...
