Dominic menyeringai samar, menyeruput pelan kopi panasnya. Dominic menahan dirinya untuk tidak tertawa saat melihat raut wajah kesal Aurora yang entah mengapa membuat dirinya semakin bersemangat untuk mengusili Aurora.
"Kenapa mateku tampak kesal, hu?" Dominic mengangkat alisnya, menatap Aurora yang sedang bersandar di kursi, melipat kedua tangannya di dada dan menatap tajam Dominic.
"Sudah?"
"Sudah? Kita baru saja duduk dan belum ngobrol sama sekali. Apanya yang sudah?" Dominic menyeringai, menatap gadis mungil di hadapannya yang tampak manis dengan jeans overall nya.
"Aku tidak tau apa maumu, D. Tapi aku tidak nyaman saat semua mata mencuri pandang ke sini. Dan satu lagi, kenapa kau minta ditraktir di cafe milik Della? Ada banyak resto di kota ini, bukan? Kau sepertinya sengaja mencari perhatian." Aurora mendengus kasar, menatap malas ke arah Dominic.
"Bagaimana jika ini adalah salah satu cara dari seorang alpha menunjukkan kepemilikannya atas lunanya?" Dominic tertawa pelan, matanya menyapu ke seluruh sudut cafe. Dominic berdehem pelan saat menyadari tatapan mata pengunjung lain terarah ke meja mereka, tampak penasaran.
"Lagipula ini cafe terbaik di sini dan aku sudah berjanji dengan mom untuk bertemu di cafe ini. Anggap saja saat ini kita sedang hang out menunggu mom selesai dengan kegiatannya." Dominic menjawab santai, kembali menyeruput kopi panasnya. "Minumlah, mate."
"Berhenti memanggilku dengan sebutan mate, D"
"So what I should call you? My Luna?"
"D!" Aurora mendesah jengah. Rasanya ia ingin mengambil kayu dan memukul kepala Dominic.
"Bukankah sebenarnya ini bisa jadi hubungan timbal balik yang menguntungkan?" Dominic menatap Aurora. Hati kecilnya tidak memungkiri bahwa Aurora memiliki daya tarik tersendiri yang cukup kuat sebagai seorang wanita dan daya tarik Aurora bahkan bisa mengusik dirinya yang enggan menjalin hubungan dekat dengan wanita manapun.
"Saling menguntungkan? Bagaimana bisa?" Aurora meraih kasar gelas berisi mango smoothie nya, mengaduk aduk isinya dengan sendok.
"Kau bisa mendapatkan alur kisah yang lebih menarik untuk novelmu dan aku juga bisa memberi kesan yang berbeda di mata warga." Wajah Dominic terlihat serius.
"Kesan apa?" Aurora mengerutkan alisnya, berpikir.
"Bahwa aku juga bisa mengencani seorang gadis dan aku tidak seperti yang dipikirkan oleh warga."
Hening
"Wait, D." Wajah Aurora tampak serius, "Jangan bilang kalau warga menganggap dirimu itu adalah penyuka sesama jenis?"
"Maybe, karena aku memang tidak pernah menanggapi wanita yang mendekatiku. Kecuali dirimu." Dominic mengulas senyum, "Seharusnya kau bangga."
"Pfff......" Aurora tergelak lebar, mengabaikan tatapan penasaran dari pengunjung cafe lainnya.
"Ada yang lucu?" Dominic mengerutkan alisnya, menatap tajam ke arah Aurora yang masih sibuk tertawa.
"Aku tidak merasa bangga jika penyuka sesama jenis mendekatiku hanya karena ingin mengubah pendapat orang lain." Aurora tersenyum miring, menatap Dominic dari atas ke bawah.
"Aku bukan penyuka sesama jenis." Dominic merendahkan suaranya, memajukan tubuhnya, "Aku sudah membuktikannya. Jika aku penyuka sesama jenis, aku pasti enggan menciummu, mate. Wanna try again?"
"Jangan coba coba melakukannya lagi, D. Aku tidak akan segan segan memukulmu walau kita sedang berada di cafe." Aurora mendesis dingin, penuh ancaman.
"Aku suka mate yang galak." Dominic menyeringai, menarik tubuhnya mundur, kembali bersandar di kursi, "Mom!" Dominic mengangkat tangannya, melambai.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Secret Behind You
RomanceMenjadi putri satu satunya dalam keluarga besar Ramiro tidak membuat Aurora tumbuh menjadi gadis manja. Aurora justru tumbuh menjadi gadis yang berjiwa bebas dan menyukai petualangan. Ia gemar mengunjungi berbagai kota dan daerah baru, sekedar menca...
