Chapter 8

1K 105 5
                                        

"Itu hanya sebuah cerita." Aurora menukas cepat, mencoba merampas kembali tabletnya.

Sial

Aurora mendengus jengah saat menyadari jika dirinya yang mungil ternyata tidak bisa menggapai tablet yang sengaja diangkat tinggi tinggi oleh Dominic. Sebagai gantinya justru Aurora mendadak merasa panas saat tubuh mereka berdua semakin dekat.

"Really?" Dominic berdecak, mundur, mengambil jarak. Jemarinya menggeser layar tablet, matanya melirik sekilas pada Aurora sebelum menunduk, menatap tablet di tangannya, "Pria bertubuh tinggi besar dengan otot kasar di sekujur tubuhnya, dia yang disebut alpha, melompat dengan gerakan cepat dan menangkap tubuh seorang wanita yang sedang terjebak di tebing jurang. Sang alpha memeluk erat tubuh mungil wanita, berbisik serak, "You're safe now, my mate."

Sial
Benar benar ketahuan.

Aurora menelan salivanya, menarik nafas panjang untuk mengusir rasa gugup yang tiba tiba menyerang dirinya.

Rilex, Ara. D mungkin baru melihat bagian itu saja.

"Dan kurasa otakmu memang sedikit kotor dan mesum." Dominic mendengus, jemarinya kembali menggeser layar tablet, "Sang wanita membuka matanya perlahan, sebelum terkesiap saat mendapati tubuh pria shirtless di hadapannya. Tubuh itu terasa begitu hangat membungkus tubuhnya. Ototnya yang seksi, urat urat lengannya yang panas dan juga tatto kepala serigala di dadanya. Jemari sang wanita bergerak menyentuh tatto tersebut sebelum dengan cepat menarik tangannya saat sang pria membuka matanya. Kau baik baik saja? Pahamu terluka cukup parah, mate. Pria itu merenggangkan pelukannya, jemari besarnya mengusap lembut pipi wanita itu. Wanita itu meringis pelan, mendorong tubuh pria shirtless di hadapannya sebelum berbisik serak, di mana aku? Siapa kamu?" Dominic mendengus kasar, berhenti membaca dan mengangkat tablet tinggi tinggi.

"D...." Aurora bergumam pelan, terlintas ketakutan di benaknya, bagaimana jika Dominic marah dan membanting tabletnya, habislah dia. Ia belum menyimpan sebagian besar tulisannya ke halaman online.

"Hanya orang bodoh yang tidak mengerti apa yang kau tulis, Ara. Jelas jelas kau menulis ulang semua peristiwa yang sudah terjadi. Wanita yang terluka di paha, itu kau kan? Lalu pria yang disebut alpha, itu diriku bukan?"

"Itu hanya kebetulan. Sebuah cerita fiksi bisa saja memiliki persamaan nama tokoh, lokasi dan karakter cerita." Aurora mendesah pelan.

"Aku juga curiga, jangan jangan novel yang kau berikan padaku sebenarnya adalah hasil karyamu, bukan?"

"I-itu...." Auora tercekat, tidak menyangka jika Dominic bisa menebak dengan tepat. 

"Dan aku tiba tiba berpikiran jika semua cerita yang kau tulis isinya mesum semua." Dominic menyeringai tengil, menatap tajam ke arah Aurora.

"Hei beruang es, bedakan apa itu mesum dan apa itu adult romance." Aurora mendengus kesal, melipat kedua tangannya di depan dada, mendongak, menatap tajam Dominic.

"Berbeda?" Dominic menaikkan alisnya.

"Tentu saja, ada perbedaan dasar dari keduanya, dan novel yang kutulis bukanlah novel mesum picisan seperti tuduhanmu." Aurora menatap tajam Dominic.

"Really?" Dominic tertawa serak, melangkah maju menipiskan jarak di antara mereka berdua, memaksa Aurora mundur perlahan hingga tubuhnya tidak bisa bergerak karena punggungnya sudah menyentuh dinding kayu.

"Apa maumu, D." Tubuh Aurora menegang saat Dominic merunduk, mendekatkan kepalanya di sisi kepala Aurora.

"Apakah terlintas di benakmu? Sang Alpha akan seperti ini?" Dominic mendekatkan hidungnya di leher Aurora, menghirup aroma manis cherry milik Aurora, sebelum bergesar dan memberi kecupan ringan di tulang selangka Aurora.

The Secret Behind YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang