— Φ —
"Kalian tadi lihat bagaimana reaksi Renjun selama rapat?"
Jihoon yang sedang bersandar pada meja yang hanya setinggi pangkal pahanya saja lantas menoleh sekilas setelah mendengar pertanyaan yang keluar dari Hyunsuk. Ia terpisah dengan yang lain, sedikit menenangkan diri sebelum kembali masuk ke dalam percakapan.
Hyunsuk menolehkan kepalanya untuk menatap Jihoon sebelum tatapan merekea diputus oleh Jihoon sendiri. Lelaki itu kembali menatap ke luar dengan segelas anggur di tangannya.
"Sikapnya selama rapat tadi seolah ia mengetahui sesuatu," jawab Mashiho yang bergabung duduk di kursi tamu yang ada di ruang rapat.
"Tapi apa motifnya?" Tanya Hyunsuk. Ia sedikit memajukan badannya agar lebih menghadap ke arah rekan-rekannya, "dengar, gue percaya ada sesuatu yang Renjun sembunyiin dari kita tapi kemungkinan dia berkhianat dari kita itu sedikit mustahil. Sekarang dia sudah menjadi pemimpin Kaum Penyihir Putih, kan? Posisinya saat ini saja sudah cukup berpengaruh."
"Gue setuju," ucap Yoshi menyuarakan pendapatnya, "seandainya yang dia tuju adalah kekuasaan, perlu posisi setinggi apa lagi jika menurut sistem saat ini sebagai Pemimpin Kaum saja sudah sangat tinggi. Cukup mustahil jika Renjun benar berkhianat dan alibinya adalah untuk meraih kekuasaan tertinggi."
Asahi yang sejak tadi diam kemudian menoleh ke arah dua tetua yang ada bersama dengan mereka saat ini. "Bagaimana menurut kalian, Paman?"
Tuan Steven memainkan jemari kanannya di atas lengan sofa panjang yang sedang ia duduki. Kemudian ia menoleh ke arah Jihoon, "bagaimana menurutmu, Jihoon?"
Pandangannya yang tadi menatap ke langit malam menuju pagi hari kembali beralih ke arah mereka yang sedang berkumpul. Dengan tatapannya yang tidak menunjukkan adanya emosi di sana, Jihoon menjawab, "aku tidak tahu, Paman."
Ia kembali menatap ke luar jendela yang menampilkan langit dini hari. Tidak ada bulan ataupun bintang di atas sana dan Jihoon menikmatinya. Ia lebih tertarik menatap ke luar dibanding bergabung dengan yang lain yang sedang berkumpul di sisi lain ruangan.
Rapat rahasia telah mereka selesaikan sekitar dua jam yang lalu, Tim Eques pun telah kembali ke wilayah mereka masing-masing. Mereka harus sudah kembali sebelum fajar untuk menghindari kecurigaan dari pihak lain yang mungkin akan berpapasan dalam perjalanan pulang.
Mereka kini yang tersisa di dalam ruang rapat memutuskan untuk singgah lebih lama untuk membahas kecurigaan mereka terhadap Renjun, itu semua atas permintaan Tuan Steven.
Sedangkan untuk Doyoung yang tidak hadir, ia diberi perintah untuk membawa Yedam, Haruto, Jeongwoo dan Junghwan yang juga tidak ada di ruangan ini lagi untuk keluar. Tuan Steven merasa mereka tidak perlu berada di dalam ruangan untuk membahas topik yang cukup sensitif dan masih belum jelas kebenarannya mengingat mereka juga berasal dari dunia manusia—kecuali Haruto.
"Jihoon kenapa?" Tanya Tuan John dengan suara dikecilkan, takut yang bersangkutan mendengarnya.
Baik Hyunsuk, Yoshi, Mashiho ataupun Asahi pun sebenarnya tidak tahu alasan di balik perubahan emosi Jihoon yang mendadak menjadi diam setelah rapat selesai. Ia setuju untuk singgah lebih lama di ruangan namun langsung mengasingkan diri dari mereka. Seolah ia tak mau ada orang lain yang mengetahui isi pikirannya saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
[iii] Become A King
FanfictionSejak ditunjuknya ia sebagai raja, Jihoon telah bertekad tak akan seperti ayahnya atau pemimpin terdahulu ketika memimpin. Tak ada yang berhak mengaturnya kecuali rakyatnya sendiri, sekalipun itu para bangsawan. Immortal Kingdom Series III Become A...
![[iii] Become A King](https://img.wattpad.com/cover/305870969-64-k359881.jpg)