xvii. Sudden Visit

417 72 2
                                        

Ps: mulai dari part ini, setiap cerita akan update otomatis (sudah dijadwalkan dengan sistem yah). untuk sementara akan update 2 minggu sekali, kemungkinan akan ada perubahan jadwal menjadi seminggu sekali atau bahkan seminggu 2 kali. Nanti aku kabarin lagi, yaa. Thanks! Happy Reading.





— Φ —




"Lama tidak berjumpa, Kak Jihoon!"

Jihoon hanya memandang kedua orang berlawanan jenis yang kini telah berdiri di hadapannya. Dia tidak berniat untuk membalas sapaan yang jika didengar orang lain mungkin akan terdengar ramah, tetapi tidak untuk Jihoon. Menurutnya, itu hanya basa-basi sampah yang tak akan mempengaruhinya.

Lagipula, ia tidak sedekat itu dengan mereka sekalipun berasal dari garis keluarga yang sama.

"Wah, setidaknya balas sapaanku, Kak."

Jihoon membuang napasnya, "ada perlu apa, Winter?"

Perempuan bergaun rapi khas asal keluarga bangsawannya dengan berbagai aksesoris mewah menempel di tubuhnya sebagai pelengkap itu tersenyum lebar kala Jihoon memanggil namanya. Batinnya, sapaan basa-basi tadi berhasil untuk menarik perhatian Jihoon.

"Tidak ada, aku hanya berniat untuk menyapamu. Sudah lama sejak pertemuan kita terakhir kali, bukan?" Bahkan Jihoon tidak mengingat kapan dan di mana pertemuan terakhir mereka berdua.

"Seharusnya Ayah yang datang ke pertemuan ini, tapi Junho akan segera menggantikan ayah menjadi perwakilan bangsawan keluarga kita dan dia mulai berlatih melaksanakan tugas seperti ayah," oceh Winter menjelaskan hal yang sama sekali Jihoon tak pinta, "aku hanya menemaninya, dan ternyata kau hadir di sini."

"Kak Jihoon penanggungjawab agenda hari ini kalau kau lupa, Winter," lelaki tinggi yang jarak umurnya tak jauh dengan Winter akhirnya bersuara, "bahkan Kak Jihoon tidak menanyakan hal itu, mengapa kau jelaskan tanpa dipinta."

"Memangnya ada masalah? Sekalipun dia tak bertanya, aku akan tetap menjelaskannya karena dia sepupu kita."

Jihoon yang sejak tadi hanya diam dan menyimak mulai tak nyaman dengan kehadiran keduanya. Ia menutup mata lalu membukanya cepat dengan kedua alis yang terangkat, menandakan dia sudah muak dengan kehadiran kedua sepupunya saat ini. Ah, bahkan Jihoon enggan mengakui mereka sebagai keluarga. Sejak awal, ia bahkan tidak dianggap sebagai keluarga lalu untuk apa mereka harus ia anggap sebagai sepupunya?

Junho sendiri sadar Jihoon tidak menyambut mereka dengan baik. Dia bahkan Winter tahu bagaimana keluarga mereka memandang Jihoon, itu sebabnya ia agak sedikit sungkan untuk sekedar menyapa Jihoon. Semua ide ini berasal dari Winter dan ia hanya bisa menurut sebagai adik yang baik.

Sebenarnya, mereka berdua berusaha untuk mendekatkan diri sekalipun anggota keluarga yang lain memandang Jihoon sebelah mata, mereka tidak seperti itu. Keduanya sangat menghormati Jihoon di luar ia dan ayahnya memiliki hubungan cukup buruk dengan anggota keluarga mereka yang lain.

"Bagaimana kabarmu, Kak?" Junho tetap bertanya sekalipun ia tahu reaksi yang dia dapat tidak akan sesuai ekspektasi.

"Bukannya kalian harus segera kembali ke istana?"

Winter menyilangkan kedua tangannya begitu mendengar reaksi Jihoon yang tak ramah, "kau mengusir kami?"

"Iya. Aku tidak berharap akan bertemu kalian."

[iii] Become A KingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang