The Rebel's Plan

1.7K 176 18
                                        




—¤Φ¤—




1 Tahun setelah Perang Besar di Dunia Immortal



Suara langkah kaki yang dilapisi sepatu bersol tebal dari salah seorang lelaki berpakaian khas prajurit kerajaan memecah keheningan lorong kosong di sebuah bangunan terbengkalai yang berada di wilayah luar benteng Klan Magard.

Letak bangunan tersebut hampir mendekati wilayah Hutan Vitopus dan sudah melewati masa gunanya sejak ratusan tahun yang lalu. Sebuah bangunan yang tadinya dijadikan markas untuk para penjaga beristirahat dan berkumpul selama menjaga di daerah sekitar benteng, kini telah dialihfungsikan oleh sekelompok pemberontak yang dikomandoi oleh seseorang yang perannya cukup penting dalam sebuah klan.

Lelaki yang tadi berjalan di tengah keheningan sampai di sebuah pintu besar yang mulai melapuk dan terlihat sudah tua. Ia terlebih dulu mengetuk pintu kayu tersebut. Setelah mendapat izin dari dalam, barulah dia masuk untuk menemui tuannya yang telah menanti kabar darinya.

Pertemuan dengan tuannya sangatlah rahasia dan telah dipastikan tidak akan ada satupun yang akan mengetahui pertemuan mereka malam ini. Oleh sebab itu, ia harus lebih dulu mengintai keadaan luar ruangan dengan matanya yang setajam elang sebelum menutup pintu tua itu rapat-rapat.

"Aku harap kau kembali membawa kabar yang tidak akan merusak suasana hatiku malam ini." Belum sempat ia berbalik, suara yang cukup menggema dari seseorang yang telah dia abdi langsung menyapa indra pendengarannya. ''Aku tidak pernah kecewa dengan hasil kerjamu selama ini, jadi jangan berikan kabar mengecewakan kepadaku.''

Ia berbalik untuk menghadap kepada tuannya yang telah menanti, duduk di atas kursi mewah berukir yang terlihat kontras sekali dengan ruangan tua tempat mereka bertemu di mana semua barang yang tertinggal di sana tertutup kain putih, dinding pun mulai mengalami pelapukan, serta debu-debu di setiap sudut ruangan. Pakaian dengan corak khas melekat pas di tubuh atletisnya, menambah kewibawaannya yang menyandang gelar Bangsawan dari klannya sendiri. 

Dengan sorot mata yang tak kalah tajam dari tangan kanannya, ia seolah siap memangsa lawan bicaranya kalau-kalau dia menyampaikan berita yang tidak sesuai dengan ekspektasinya. Secara perlahan, ia membuat gerakan memutar pada tangan yang tengah memegang segelas anggur yang menemaninya selama menanti anak buahnya tiba di markas mereka saat ini.

"Kau melaksanakan tugas terakhir yang aku perintahkan, bukan?" Suaranya kembali menggema saat anak buahnya telah sampai, berdiri dengan jarak beberapa meter di hadapannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kau melaksanakan tugas terakhir yang aku perintahkan, bukan?" Suaranya kembali menggema saat anak buahnya telah sampai, berdiri dengan jarak beberapa meter di hadapannya.

[iii] Become A KingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang