xix. Insistently

453 72 4
                                        






— Φ —







Tuan Steven menoleh ke arah Jihoon dengan kudanya yang berpacu sejajar dengannya, sedangkan Mashiho berada di depan mereka untuk memimpin perjalanan pulang mereka menuju Klan Magard

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tuan Steven menoleh ke arah Jihoon dengan kudanya yang berpacu sejajar dengannya, sedangkan Mashiho berada di depan mereka untuk memimpin perjalanan pulang mereka menuju Klan Magard. Matanya meneliti Jihoon dengan irisnya, ia merasa ada sesuatu yang terjadi dengan Jihoon sejak kembalinya dia dari kediaman Renjun tadi.

"Kau tak apa?" Tanya Tuan Steven dengan suara yang sedikit kencang.

Jihoon menoleh, tepat setelahnya kedua mata mereka bertemu, memudahkan Tuan Steven untuk membaca isi kepala Jihoon saat ini. "Ada apa, Paman?"

Tuan Steven diam ketika kedua tatapan mereka bertemu dan terkunci. Ia meneliti dengan cermat menggunakan sedikit kekuatan sihirnya, karena dia merasa di dalam tubuh Jihoon terdapat getaran energi sirih meskipun cukup lemah. Sampai akhirnya dia menemukan di mana energi sihir itu tertanam, membuat semua kebingungannya terjawab. 

Sebagai penyihir yang sudah ahli, Tuan Steven tentu dapat dengan menemukan sebuah kejanggalan yang terjadi pada Jihoon.

"Apa yang sedang kau rasakan?"

Jihoon mengerjap ketika mendapat pertanyaan seperti itu. Namun, pikirannya dengan mudah bisa langsung menangkap maksud dari pertanyaan Tuan Steven barusan. "Entahlah, di awal aku merasa yakin bahwa Renjun memiliki andil dalam kekacauan kali ini, tapi tiba-tiba saja aku seperti ragu dengan dugaanku sendiri. Seakan aku sudah tahu jawabannya dan menjadi yakin Renjun tidak ada di balik semua kejadian ini."

Dia atas kuda mereka yang masih melaju, Tuan Steven terus menatap Jihoon lama, memastikan apa yang dia lihat saat ini dari Jihoon tidak salah. "Kau merasa aneh?"

Jihoon mengerjap, "iya ... seperti itu. Pikiranku tiba-tiba saja terasa aneh. Seakan aku sudah paham dengan situasi saat ini, tapi aku bingung kenapa aku bisa berpikir seperti itu."

Kemudian ia akhirnya berhenti meneliti Jihoon. Sesaat ia menoleh ke depan, memastikan Mashiho masih ada di depan mereka sebelum kembali menoleh ke arah Jihoon yang masih setia menatapnya. "Kau telah disihir, tapi itu bukan sesuatu yang buruk."

Ia mengernyit dengan sorot kebingungan begitu mendengar tanggapan Tuan Steven barusan. "Maksud Paman, aku dalam kendali sihir saat ini?"

"Tidak bisa dibilang seperti itu juga," Tuan Steven turut menunjukkan raut bingungnya, "kau sadar dan masih bisa menjawabku berdasarkan apa yang kau pikirkan, itu saja sudah cukup untuk menjelaskan kenapa kau tidak dalam kendali sihir. Hanya saja, aku merasakan ada kekuatan sihir yang sangat kecil di kepalamu."

"Apa Renjun yang melakukannya?"

Tuan Steven mengangguk, "iya, itu energi sihir dia. Sebenarnya aku memang hendak menanyakan ini padamu karena saat tadi Renjun menatapmu lama, aku merasakan ada energi sihir yang dia salurkan melalui matanya. Seperti dia ingin menyampaikan apa yang tidak bisa dia sampaikan sekarang. Kau tahu telepati?"

[iii] Become A KingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang