Part ini mungkin akan sedikit kasih pandangan baru ke kalian dan mungkin akan ada pelajaran atau ilmu yang bisa kalian ambil. Aku nulis keadaan dan permasalah di scene ini sedikit terinspirasi dari kisah nyata dan ilmu yang aku dapat. Kalian yang belajar konsentrasi sosial mungkin bisa paham maksudku, ehe.
Bacanya ketika waktu kalian luang aja ya, karena ini akan sedikit nguras pikiran. Happy Reading!
— Φ —
Pagi buta, orang-orang yang sedang menghuni di Istana Rimson dihebohkan oleh kabar dari salah satu orang yang menyampaikan bahwa pusat diserang oleh sekelompok kaum immortal yang menyerang kaum immortal lain. Kebisingan mulai terdengar sebelum matahari terbit, membuat para manusia dan dua werewolf yang sedang mendiami istana terbangun dari tidur nyenyak mereka.
Belum kesadaran mereka terkumpul sepenuhnya, pintu ruang istirahat mereka dibuka dari luar dengan cukup kencang. Doyoung muncul di sana dengan wajah paniknya, namun raut itu langsung berubah lega begitu melihat penghuni ruangan dalam keadaan baik-baik saja.
"Bang, kenapa di luar berisik banget?" Haruto yang paling tanggap diantara yang lain lantas berdiri dan berjalan mendekat ke arah Doyoung yang sudah menutup pintu ruang istirahat mereka.
Yang lain pun segera mengumpulkan kesadaran mereka dan berjalan mendekat ke arah Doyoung yang sudah duduk di bangku panjang yang ada di sudut ruangan dekat jendela. Mereka berkumpul dan menunggu Doyoung buka suara untuk menjelaskan keadaan bising di luar yang membuat mereka terbangun.
Doyoung mengembuskan napasnya dengan sebelah tangannya dibawa untuk menyisir surai yang masih berwarna coklat itu dengan kasar. Ia kemudian menatap keliling ke arah teman-temannya yang masih kelihatan kebingungan. "Tolong, gue mohon kerjasamanya untuk kali ini."
Yedam mengernyit begitu mendengar kalimat ambigu yang keluar dari Sang Raja Duyung itu, "kenapa lu bilang gitu?"
Doyoung masih belum mau menjelaskan penyebab suara ribut di luar sana. Matanya masih berkeliling untuk menatap satu per satu wajah orang-orang yang saat ini ada bersamanya. Tatapannya menyiratkan kerisauan yang amat besar dan hal itu tidak bisa disembunyikan dari mereka semua. Sampai kemudian irisnya berhenti pada Jeongwoo yang juga sedang menatap bingung ke arahnya.
"Bang?" Jeongwoo melambaikan tangannya, membuat kesadaran Doyoung kembali tertarik, "lu oke?"
Doyoung menumpukan tubuhnya dengan kedua tangannya sebagai penyangga menahan di atas lututnya. Ia membungkuk dan menundukkan kepalanya ke bawah, dirinya saat ini benar-benar bingung dan takut di waktu bersamaan. Keadaan sedang sedikit kacau di luar sana, dan dia kembali ada di situasi di mana hanya ada dia untuk teman-temannya saat ini.
Jujur, Doyoung masih trauma. Dia takut melakukan kesalahan yang sama, seperti saat ia gagal menjaga Jeongwoo. Bayang-bayang akan kegagalan itu masih terus menghantuinya sampai saat ini, meskipun Jeongwoo mungkin sudah memaafkannya dan lelaki itu telah menerima perubahannya.
Tapi Doyoung tidak. Sudah berulang kali dia ada di situasi seperti ini tapi keadaan selalu tidak berpihak padanya.
Ia kemudian mengangkat kepalanya, indranya bertemu dengan iris mata Jeongwoo yang setajam serigala. Doyoung bisa merasakan perbedaan pada diri Jeongwoo, ia bisa melihat sosok serigalanya dari iris matanya yang kini berganti menjadi biru.
KAMU SEDANG MEMBACA
[iii] Become A King
FanfictionSejak ditunjuknya ia sebagai raja, Jihoon telah bertekad tak akan seperti ayahnya atau pemimpin terdahulu ketika memimpin. Tak ada yang berhak mengaturnya kecuali rakyatnya sendiri, sekalipun itu para bangsawan. Immortal Kingdom Series III Become A...
![[iii] Become A King](https://img.wattpad.com/cover/305870969-64-k359881.jpg)