OC | Hujan oh Hujan

566 57 4
                                        

Bosan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bosan.

Itulah yang mereka rasakan saat ini.

Sekarang sudah masuk musim penghujan, jadi ga heran kalau sekarang hujan.

Hujan-hujan gini tuh enaknya tidur, atau ga makan mie rebus, bisa juga makan bakso, dan minum yang hangat-hangat apalagi cokelat panas. Sayangnya, anak IPS 1 lengkap ada di kelas semua.

Padahal tadi pagi cuma mendung, makanya mereka pada berangkat. Kalau tahu seharian bakal jamkos, mereka ga bakal berangkat sekolah.

Masalahnya kalau hujan begini tuh mereka ga bisa ngelakuin apa-apa. Mau ke kantin, mushola, bahkan ke kamar mandi pun rasanya malas karena harus nerobos hujan dan kebasahan. Jadi mereka cuma mendekam di dalam kelas.

"Kalo hujan gini gimana kita mau ke mushola?" tanya Ismail sambil melihat kearah derasnya air hujan.

Mushola sekolah itu letaknya di depan, dekat gerbang. Jadi kalau mau kesana, harus melewati hujan dulu. Beda sama kalau pergi ke kantin yang mungkin kebasahan biasa, kalau ke mushola mereka malah bakal basah kuyup. Yang ada malah ga jadi sholat.

"Sholat di kelas aja, Il," kata Hani menyarankan.

"Wudhunya dimana?" tanya Bagas.

"Depan itu 'kan ada selang, wudhu disitu aja. Nanti sholatnya di kelas, yang cewe 'kan bawa mukena sendiri-sendiri. Ntar kalo butuh sajadah lagi, pinjem kelas-kelas sebelah aja," jelas Naura.

"Kan hujan, Ra, wudhu sambil kehujanan terus kecipratan najis malah kaga sah ntar," Hasan menyela.

"Ngotak lah, San! Kan ada selang, kita wudhunya di keramik, selangnya dipegangin gantian. Ntar kalo udah selesai, airnya dikosrok pake kosrokan," Asa menjelaskan sambil mencak-mencak, dia udah siap garuk muka Hasan kalau aja ga ditahan sama Listya.

"Yaudah, ayo!" ajak Raffi yang kemudian mereka semua beranjak buat nyisihin bangku, nyiapin tempat wudhunya, sama nyapu lantai biar bersih. Ga ada karpet, jadi nanti sajadah yang mereka pakai nempelnya langsung ke lantai.

Sekarang anak-anak yang non-islam dan yang lagi red day pada nunggu di depan. Agak kecipratan dikit, tapi mereka bersabar demi nunggu yang didalam selesai ibadah.

"Hujannya deres banget," celetuk Yischa sambil mainin air hujan yang jatuh dari genteng. Tapi habis itu dia kaget saat tiba-tiba sebuah tangan narik tangannya.

"Nyiprat, Cha," kata Joel.

Bajingan! Untung Yischa ga baper.

"Kalo di Australia biasanya hujan gini ngapain, Lix?" Johan iseng bertanya. Ya daripada bosen, mending nanya-nanya aja.

"Sleep."

"Hah? Selip? Hujan-hujan ngapain malah nyelip?" Juno salah dengar, mana mukanya ngegas banget.

"Tidur, anjing!" umpat Eric penuh emosi. Kalau ga ingat dia belum ditraktir Juno gara-gara jadi suporter lomba kemarin, udah dia lempar si Juno ke kubangan air di tengah lapangan itu.

OUR CLASSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang