28. Hope it never end

915 21 3
                                        

Aurora menghempaskan tubuhnya ke ranjang dengan perasaan lega. Akhirnya ujian akhir semester satu telah selesai, tapi tidak selega itu karena dia akan masuk ke tahap semester dua, dan yang terakhir untuk sekolah menengah atas.

Untuk siswa kelas dua belas, Aurora sekarang benar-benar sedang di pusingkan dengan segala try out, belajar tambahan dari sekolah, memikirkan akan lanjut kuliah dimana, dengan jurusan apa.

Kemarin, Ia sempat mengobrol dengan kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya menyuruhnya untuk berkuliah di luar negeri, karena kata mereka ; pendidikan nya lebih terjamin, fasilitas dan tenaga kerja juga prospek disana lebih mendukung di banding di Indonesia. Sebenarnya, Ia mau-mau saja. Siapa yang tidak mau berkuliah di luar negeri, apalagi yang akan Ia tekuni adalah pendidikan kedokteran.

Walaupun di Indonesia banyak universitas yang bagus, tapi kedua orang tuanya tetap ingin Ia mendapatkan yang terbagus dari yang terbagus. Apalagi kondisi finansial yang sangat mendukung, jadi apa salahnya, kan?

Tapi, yang jadi masalah adalah ; bagaimana caranya Ia mengatakan ini semua kepada Marvel? apa mereka bisa berhubungan jarak jauh? sebenarnya memang tidak ada status yang pasti di antara keduanya, atau mungkin memang belum. Karena mereka berkomitmen, hanya ada mereka di hubungan mereka dan mereka nyaman akan hal ini.

Tapi, jika benar hubungan jarak jauh ini akan terjadi, mungkin Aurora akan meminta suatu status yang lebih jelas antara keduanya. Karena Aurora ingin ada komunikasi disini, dia tidak ingin terjadinya miss communication di antara keduanya seperti yang sudah-sudah. Sebenarnya, berhubungan jarak jauh termasuk nightmare baginya. Karena, trust issues juga sih?

Let's think about it later. Sekarang, Ia sudah tidak banyak menghabiskan waktu berdua bersama Marvel karena ujian akhir semester seminggu belakangan ini. Mereka berdua sama-sama fokus pada ujian, dan menurutnya itu adalah hal yang baik. Karena, ini sudah saatnya mereka serius dengan semuanya, right? mereka sudah akan lulus, dan bahkan mungkin ini adalah baru awalan dari semuanya.

Aurora menempelkan ponselnya pada telinga saat tulisan di layar ponselnya berubah menjadi 'ringing.

"Halo, sayang." sapa Marvel terlebih dahulu. Aurora tersenyum mendengarnya, "Halo, sayang. I miss you. A lot." katanya langsung membuat seseorang di seberangnya terkekeh.

"Padahal aku baru aja mau nelpon kamu. Eh kedeluan deh."

"How was your day? kita jadi jarang quality time gara-gara uas. And now its end, I miss you too, more than you."

"Mau ketemu sayang." kata Aurora dengan rengekan membuat Marvel di sebrang sana berteriak tertahan mendengar suara Aurora yang berubah menjadi clingy. Aurora yang mendengarnya terkekeh kecil.

"I love when you are clingy. Okay, mau di bawain apa?"

"I just wanna kiss your lips. Right fuckin now."

"I'm on my way. Wait for me, sayang. I will kiss your fuckin lips, cheek, neck and oh ya, I miss your smell. Okay, bye."

Sambungan terputus membuat Aurora tertawa lalu dengan segera Ia bangkit dari tidurnya dan mengambil sweaternya untuk di pakai lalu menyemprotkan parfume yang sering Ia pakai. Dan tidak lupa untuk memoles sedikit wajahnya agar terlihat lebih fresh.

Ia mencatok sedikit poni nya agar tidak terlihat lepek. Setelah itu, Ia bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kamar. Bertepatan saat dering di ponselnya kembali terdengar, dan tertera nama Marvel disana.

Aurora mengabaikan deringan ponselnya dan dengan cepat menuruni anak tangga lalu membuka pintu rumahnya. Marvel sudah berdiri disana dengan memegang sebuket bunga tulip berwarna merah muda, kesukaannya. Dan satu kantung yang dia tidak tau isinya apa.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 18, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

The in Between Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang