Pagi ini pukul 08.00. Aku sedang asik memasak didapur. Morgan sedang diruang kerjanya, sepertinya dia bosan. Dan sedang memeriksa semua perihal pekerjaannya disana, selama digantikan oleh wakilnya pak hendra, dia belum memeriksa segala hal tentang hotel nya yang baru di surabaya.
Ting tong..
Suara bel dari luar berbunyi, sepertinya ada tamu ucapku dalam hati. Sekarang hari minggu semua asisten ku suruh libur semua, aku ingin hari minggu ini berduaan dengan morgan pikirku. Segera ku berlari kedepan dan membuka pintu. Dan setelah ku buka, aku terkejut melihat seorang perempuan muda cantik dihadapanku.
Kupandangi wanita didepanku, bertanya- tanya dalam hati siapa dia.
" Cari siapa mba?" Tanyaku pada perempuan tersebut.
" Perkenalkan bu, saya sekretaris pak morgan, nama saya nadya." Ucapnya sambil menjulurkan tangannya.
" Ah ia, maaf saya pikir siapa," ucapku membalas uluran tangannya.
" Silahkan masuk dan duduk dulu ya, saya akan panggilkan suami saya.,"
" Terima kasih bu," ucap nadya lalu duduk di sofa.
Ku berlari kecil segera ke ruang kerja Morgan, dan kudapati suamiku duduk didepan laptopnya.
" Mass," panggilku. Morgan melirik kearahku.
" Ada apa," tanya morgan lalu kembali menatap laptopnya.
" Ada tamu mas, sekretaris kamu datang berkunjung. Mungkin ingin melihat kondisimu." Ucapku memberitahu padanya.
" Nadya .. " tanyanya padaku.
" Ia nadya, siapa lagi memang sekretaris kamu selain dia," ucapku sedikit ketus.
Morgan berdiri perlahan, dan berjalan pelan pelan ke arah pintu, sepertinya dia kesulitan. Kakinya masih belum pulih 100%, ku bantu morgan berjalan. Ku pegangi tangannya. Dan dia sama sekali tidak menolak. Tumben sekali pikirku.
Sampai diruang tamu morgan menyapa sekretarisnya.
" Hei nad,, " ucapnya santai.
" Ya ampun pak morgan, lama tidak bertemu. Gimana pak keadaannya. saya sangat cemas mendengar bapak kecelakaan dan dirawat." Nadya menghampiri bosnya." Khawatir nadya.
" Ya alhamdulillah nad, seperti yang kamu lihat. saya bisa berjalan namun tidak bisa seperti dulu lagi."
" Bapak harus tetap semangat ya, tidak boleh sedih dan menyerah."
Ku lihat mereka duduk dan mengobrol tentang masalah pekerjaan. Bagian sekretaris cantik tidak lupa. Sama istri lupa, aneh sekali kamu mas.
Aku sedih dan kecewa.
Ku buatnya sekretaris morgan minuman dan ku antar kepadanya di ruang tamu.
" Di minum dulu mba.." ucapku menyodorkan secangkir teh pada nadya. Dan duduk disebelah morgan.
" Terima kasih bu," katanya singkat.
Morgan melirik kearahku, seperti tidak nyaman ada aku disampingnya. Bodo amat lah pikirku, enak saja hari minggu ku, melihat kalian diruang tamu. Gagal deh berduaan sama suami
Mereka benar - benar seperti tidak menganggapku ada, entah apa yang mereka
biCarakan.
3 jam nadya berada di rumahku, akhirnya sekretaris itu berpamitan pulang karna sudah mulai siang.
" Pak saya pamit pulang ya karena sudah siang, lekas sembuh dan terima kasih minumannya bu." Kata nadya sopan.
" Sama - sama" ucapku singkat mengantarnya ke pintu depan dan morgan tetap duduk ditempat.
" Terima kasih sudah menjengukku ya nad," ucap morgan pada sekretaris nya.
Ku tutup pintu rumah ketika sekretaris itu sudah pergi. Kulihat morgan masih duduk disofa.
Aku menatap morgan dan meninggalkannya disana dan pergi ke kamar. Morgan merasa aneh dengan tingkah lakuku. Dia mengikuti ku kekamar dengan susah payah.
Ku buka isi lemari pakaianku, ku ganti pakaian rapi. Morgan heran melihatku berganti pakaian dan berkata.
" Mau kemana kamu?" Tanya morgan padaku.
" Memang mas perduli aku mau kemana," jawabku marah.
" Ditanya ko balik nanya," ucap morgan kesal.
" Aku mau kerumah teman." Jawabku ketus.
" Kerumah siapa?" Tanya nya lagi.
" Teman laki - laki," ucapku menatapnya dengan sengaja berkata seperti itu.
" Tidak boleh, kamu tidak boleh kemana - mana." Larang morgan.. mencegahku keluar kamar. Ditutupnya pintu kamar dan menguncinya.
" Apa - apaan sih mas, kenapa dikunci,"
" Kamu itu istriku, kamu harus patuh sama suamimu" Kata morgan tegas.
" Saya mau keluar mas, mana kuncinya," pintaku pada morgan.
" Tidak akan aku berikan kunci ini," dibuangnya kunci kamar keluar jendela.
" Mas,. " Aku syok dibuatnya.
Baru pertama kali morgan seperti ini, sepertinya morgan kesal. Apalagi aku yang melihat sekretarisnya. Biar tahu rasanya cemburu. Batinku kesal.
Ku dekati morgan, ku tatap matanya.
"Kenapa mas, kenapa ketika aku menyebutkan laki - laki lain mas marah, mas cemburu." Tanyaku pada morgan dengan suara meninggi.
Morgan terdiam, tapi matanya menyiratkan kemarahan. "Mas kan lupa tentang aku, kenapa mas bisa cemburu." Tanyaku lagi.
Ku paksa morgan untuk menjawabnya. Tapi morgan tetap terdiam.
Morgan membuka laci dari lemarinya, diberikannya kunci cadangan kamar kepadaku dan berkata.
" Pergilah jika kamu ingin pergi, aku tidak akan melarang mu."
Aku bukannya senang dan pergi dari situ, tapi malah terpaku diam dan menangis sejadi - jadinya.
Morgan duduk di tepi tempat tidur, diam ditempat tak bergeming sedikitpun, pandangannya menatap kebawah lantai.
Aku masih menangis tersedu - sedu. Hatiku hancur ketika Morgan berkata seperti itu. Merelakan ku pergi ke tempat lelaki lain.
Morgan berdiri dari tempat tidurnya dan pergi keluar kamar meninggalkan aku yang masih menangis tersedu sedu.
Ku tatap punggung morgan pergi dari kamar dan meninggalkan aku.
Apa yang terjadi padamu mas, kamu membingungkan aku, terkadang aku merasa kamu mengenalku dan perduli padaku. Tapi terkadang aku merasa kamu ingin menjauh dariku batinku berbicara.
Give me ⭐
KAMU SEDANG MEMBACA
Morgan {End}
Storie d'amoreWah benar lelaki itu tampan sekali ucapku dalam hati. Ku baca nama nya dilayar televisi Morgan prawija. "Khei.... Tidur, jangan nonton televisi nanti sekolahnya kesiangan lagi. Besok kan pertama kamu masuk sma." Teriak ibu dari ruang depan. Ku matik...
