Setelah 2 hari dihotel, kami berdua memutuskan pulang kerumah morgan. Diralat rumah kami berdua, semua barangku dipindahkan ke rumah morgan yang sekarang jadi rumahku juga.
Aku berpamitan kepada teman - teman ditempat kontrakanku. Bagaimanapun selama 5 tahun ini, aku bersama mereka berbagi hari yang penuh suka dan duka dirumah itu.
Dan sekarang aku sudah berada dirumah yang asing dimataku. Rumah yang akan menyaksikan perjalanan hidupku bersama morgan.
Morgan sedang memperhatikanku membereskan pakaian yang ku bawa, kumasukan kedalam lemari pakaian yang morgan beli untukku.
" Nanti sama bibi aja sayang diberesinnya, kamu sini aja temenin aku. Akunya jangan dianggurin dong sayang." Ucap morgan sambil menepuk kasur menyuruhku kedekatnya.
" Bentar mas nanggung dikit lagi ya," kataku tersenyum padanya.
Morgan bangun dari tempat tidurnya dan menghampiriku, dipeluknya aku tiba - tiba dari arah belakang. Digendongnya aku ala bridal style. " Mas ih, apaan sih," ucapku malu.
Morgan membawaku kekasur, menurunkan aku disitu. Dipeluk dan diciuminya aku berkali kali tak boleh pergi kemana mana.
" Kalau aku dirumah kamu ga boleh ngapa - ngapain" ucapnya tegas sambil menatapku.
" Memang aku patung," ujarku sebal.
" Mulai minggu depan kamu sudah tidak boleh mengajar, jadi ibu rumah tangga aja ya sayang." Tambahnya lagi membuatku melongo.
Apa - apaan morgan ini, aku tidak boleh mengajar, tidak semudah itu melepas karier ku selama ini. Aku hanya merenggut lesu mendengar perkataannya. Tidak ada kebahagiaan yang tersirat diwajahku.
Morgan menyadari perubahan mimik diwajahku,
" Kenapa sayang, kamu keberatan." Tanyanya padaku.
" Tidak semudah itu melepas karierku, melupakan murid - murid ku mas.
" Nanti kan kamu harus mengurus anak kita sayang, aku ga mau kamu cape. Ditambah aku ingin anakku di urus olehmu, bukan art."
" Aku juga ga mau anakku diurus orang lain, tapi untuk melepas pekerjaanku sekaligus sepertinya aku masih belum rela."
" Nanti kan kamu mengajarkan anak - anak kita sayang, sama aja kan, kamu masih tetap jadi guru bagi anak - anak kita."
" Gimana kamu aja mas," ucapku terdiam lalu mengambil handphone dan memainkannya.
" Kamu marah," tanya morgan mengambil handphone ditanganku.
" Engga."ucapku singkat.
Morgan memelukku dari samping. membelai lembut rambutku.
" Aku bukannya mau mengekang kamu sayang, aku cuma ga mau kamu lelah." Ucapnya
Aku tak mengeluarkan sepatah katapun, sepertinya morgan sadar aku marah. Dia menyentuh daguku dan mengarahkan mukaku padanya. Diciumnya bibirku, tapi aku tak membalas ciumannya.
" Kamu boleh tetap mengajar untuk sekarang ini, tapi jadwal kamu kurangi ya." Ucapnya sambil membelai rambutku.
Ku senang mendengar perkataannya barusan.
Kupeluk morgan dan kucium pipinya.
" Terima kasih sayang, kamu pengertian," ucapku masih tetap memeluknya.
" Yang terpenting adalah kamu bahagia, kebahagianmu adalah kebahagianku." Ujar morgan seraya memelukku dengan erat.
"Aku mencintaimu mas," seketika kata-kata itu keluar dari mulutku.
" I love you too, sayang." Balasnya sambil berbisik ditelingaku.
🌸🌸🌸
Malamnya
22.00
Aku dan morgan hendak tidur, kumatikan lampu kamar kami. Tiba - tiba ada suara bunyi dari handphone morgan.
Wajah morgan berubah ketika menerima pesan teks itu.
" Siapa mas?" Tanyaku penasaran padanya.
" Bukan siapa-siapa khei," katanya gugup.
" Boleh aku lihat," sambil menarik ponsel morgan karena curiga.
Dan ternyata dugaanku benar, pesan itu berupa gambar perempuan tidak mengenakan apa - apa.
Shit,.. perempuan stres. Wajahku merah padam menahan marah, kulirik morgan dan kulihat lagi gambar diponsel suamiku. Ku banting handphone morgan kekasur.
" Siapa sih ini mas" ucapku marah pada morgan.
Morgan terdiam tidak menjawab, pasti dia kenal wanita ini pikirku. Kudesak morgan agar jujur.
" Jujur mas dia siapa, ko berani berani nya ngirim begituan," suaraku hampir teriak.
Morgan berusaha menenangkanku.
" Tenang sayang aku ga da hubungan apa- apa sama dia, aku kenal perempuan itu. Tapi aku sama sekali tidak perduli dengannya sayang"
" Pasti dia suka sekali denganmu mas, sampai seberani itu," ucapku kesal.
" Memang dia menyukaiku, tapi kan aku tidak sayang."
" Blokir mas nomor itu, aku ga mau tau," ucapku marah.
" Ia sayang mas blokir, pasti."
Dia ambil handphone nya yang tadi ku banting.
Dan langsung memblokir nomor perempuan tersebut.
" Mas sudah lihat kan potonya, mas suka?" Tanya ku marah
Morgan malah tersenyum mendengarku berbicara seperti itu.
" Mas ga suka khei, yang mas suka cuma tubuh kamu." Jawabnya sambil berusaha membuka kancing piyamaku.
" Hari ini liburrr." Ucapku dengan cepat membalikan badan.
" Yah ko libur sayang,"
" Hukuman buat kamu karena lihat tubuh perempuan lain,"
" Kan lihatnya juga ga sengaja khei, mana aku tau itu poto bugil." Rajuk morgan.
" Bodo amat," kupeluk guling memunggungi morgan.
" Dosa loh munggungin suami gt,"
" Lebih dosa mana sama suami yang lihat tubuh wanita selain istrinya." Kataku mendelik kearahnya.
" Ya ampun galak sekali istriku ini," ucapnya sambil tertawa renyah sambil tetap memelukku dari belakang walau aku memunggungi nya.
15menit kemudian.
Ku dengar suara nafas berat morgan, sepertinya dia sudah tertidur. Kubalikan tubuhku menghadap suamiku.
Ku tatap morgan sedang tertidur lelap, ku usap kening dan pipinya. Kucium pipinya lalu ku elus-elus. "Kebahagiaanku adalah bersamamu mas hingga maut memisahkan kita, aku ingin kesurga bersamamu mas" bisikku pelan agar tidak membangunkannya.
bintang nya jangan lupa ⭐
KAMU SEDANG MEMBACA
Morgan {End}
Lãng mạnWah benar lelaki itu tampan sekali ucapku dalam hati. Ku baca nama nya dilayar televisi Morgan prawija. "Khei.... Tidur, jangan nonton televisi nanti sekolahnya kesiangan lagi. Besok kan pertama kamu masuk sma." Teriak ibu dari ruang depan. Ku matik...
