Dua minggu sudah morgan dirawat dirumah sakit, perkembangannya semakin membaik. Tetapi ingatannya tentangku belum juga kembali seperti dulu.
Awalnya morgan tidak bisa menerima kenyataan bahwa kakinya tidak bisa berjalan normal lagi, dia akan pincang selamanya.
Aku terus memberinya semangat untuk tetap bersyukur dan ikhlas menerima semua ketetapan Allah.
Alhamdulillah morgan tetap menjalankan solat, walau ditempat tidur.
" Mau cemilan mas, mas mau makan apa nanti ku belikan keluar?" tanyaku padanya.
" Engga usah makasih." Ucapnya lalu memainkan handphonenya.
Banyak whatsaap masuk ke handphone morgan. Dia terlihat bingung harus membalas dari mana.
" Mas kamu kalau belum siap kerja, jangan memaksakan diri. Wakil kamu pak hendra sudah menggantikan posisi kamu sementara selama kamu sakit. Beliau kan orang kepercayaan kamu. Insya allah dia amanah."
" Saya tahu, hanya ingin mengecek saja," ucap morgan sambil menatapku.
" Mas ingat semua tentang pekerjaan mas, tapi kenapa mas tidak ingat aku?" Ucapku seketika membuat morgan memalingkan wajahnya dari handphone kepadaku.
" Aku tidak tahu." Kata morgan pelan.
" Apa usaha bisnis kamu lebih penting dari aku mas?" tiba-tiba saja perkataan itu keluar dari bibirku.
Morgan terdiam tidak menjawab, hanya sorotan matanya seperti kasihan padaku. Aku memalingkan wajahku. Dan pamit keluar sebentar membeli makan siang untukku dan untuk morgan.
🌺🌺🌺
Dilorong rumah sakit aku berpapasan dengan dokternya morgan, dia menyapaku dan memberitahukan perkembangan morgan.
Semakin hari semakin membaik, dan dokter berkata bahwa morgan lusa mungkin boleh pulang dengan catatan rawat jalan. Morgan harus sering terapi jalan, dan kontrol perkembangan ingatannya.
Aku senang mendengarnya, akhirnya suamiku bisa pulang kerumah. Aku berharap dengan melihat rumah dia bisa segera pulih dari ingatannya.
Kumasuki kamar inap morgan dirumah sakit, aku tak mengetuk pintu. Kudapati morgan sedang berganti pakaian dengan susah payah.
" Bisa ga kalau mau masuk itu ketuk dulu pintunya." Ucapnya kaget melihat ku tiba - tiba masuk.
" Santai mas, aku kan istrimu tidak usah malu lah, aku kan sudah melihat seluruh tubuhmu dari ujung kaki sampai ujung rambut," jawabku santai.
Morgan bersusah payah memakai celana panjangnya, kubantu dia tanpa dia meminta.
" Tidak usah aku bisa," ucapnya sepertinya malu belum mengenakan celana panjang hanya pakaian dalam.
" Diam lah mas, nanti suster keburu datang. Apa sengaja ingin diliat suster," ucapku galak.
Setelah membatu morgan memakai celananya.
Kupakaikan kemeja lengan pendek padanya. tangannya masih diinfus. jadi sulit untuk memakai kaos.
" Nah selesai," aku tersenyum puas pada morgan beres memakaikannya baju.
" Makasih," ucap morgan pelan.
Mogan duduk ditepi ranjang, matanya masih fokus terhadap kakinya.
" Kenapa mas, mau ku bantu berjalan?" Tanyaku.
Morgan mencoba berdiri dan berjalan, baru kakinya mencoba melangkah. Dia hampir tejatuh kalau saja aku tidak sigap memeluknya dengan erat. Kakinya masih gemetar dan masih lemas.
" Hati - hati mas, pelan pelan saja. Nanti juga bisa,"aku memapahnya ke tepi ranjang kembali.
" Kaki ku lemas," ucap morgan terdiam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Morgan {End}
RomanceWah benar lelaki itu tampan sekali ucapku dalam hati. Ku baca nama nya dilayar televisi Morgan prawija. "Khei.... Tidur, jangan nonton televisi nanti sekolahnya kesiangan lagi. Besok kan pertama kamu masuk sma." Teriak ibu dari ruang depan. Ku matik...
