Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_o0o_
Matahari baru saja naik ke peradabannya, namun para rakyat Kekaisaran Feng sudah berkumpul di sepanjang jalan ibukota. Hari ini adalah hari tibanya para prajurit Kekaisaran dari perang besar yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Sepanjang jalan ibu kota kekaisaran Feng sudah dihias oleh rakyat secara sukarela. Mereka ingin menyambut para pahlawan sebaik mungkin.
Di depan gerbang ibukota, berdiri banyak sekali rakyat dari seluruh kalangan usia. Tak sabar rasanya menyambut keluarga mereka setelah berpisah sekian tahun.
Tak lama menunggu, suara tapak kaki kuda sudah terdengar kian mendekat. " Para pejuang kekaisaran Feng sudah kembali! Buka gerbangnya!" seru Prajurit istana yang bertugas menjadi pengawas gerbang ibukota.
Suara deritan menjadi penanda terbukanya gerbang besar yang menjadi pintu keluar masuk ibukota. Tepat saat pembawa panji kekaisaran Feng yang berada di barisan pertama keluar, rakyat kekaisaran Feng langsung menyerukan kalimat pujiannya.
"Hidup Putra Mahkota kekaisaran Feng!"
"Hidup!"
"Hidup Putra Mahkota kekaisaran Feng!"
"Hidup!"
Suara sorakan itu terdengar kian besar tatkala orang yang mereka berikan pujian muncul menunggang kuda hitamnya.
"Hidup Putra Mahkota kekaisaran Feng!"
"Hidup!"
"Hidup Perdana Menteri kekaisaran Feng!"
"Hidup!"
Kedua orang yang menjadi sasaran sorak-sorai rakyat itu memimpin barisan prajurit menuju istana kekaisaran.
Serupa seperti seluruh rakyat yang merasa bersemangat dengan kembalinya para pejuang perang, Feng Wu Lan dan yang lainnya juga merasakan hal yang sama. Enam tahun lebih mereka berada di tempat yang sewaktu-waktu dapat menghilangkan nyawa dan setiap hari mereka harus memilih untuk membunuh atau dibunuh oleh pihak musuh.
Di sepanjang perjalanan menuju istana, Feng Wu Lan dapat melihat sebagian rakyat kekaisaran Feng mengeluarkan air mata, entah itu terharu karena kembalinya anggota keluarga mereka atau sedih karena anggota keluarga mereka kembali hanya dengan nama saja.
Dari awal perjalanan pulang, Feng Wu Lan mendengar bagaimana para prajurit tidak sabar untuk disambut oleh istri, anak, saudara dan ibu mereka. Pamannya pun merasakan hal serupa, pamannya akan disambut oleh istri dan anak yang ia tinggalkan selama bertahun-tahun.
Lalu bagaimana dengan dirinya? Siapa yang akan menyambutnya pulang? Ayahnya? Ia sudah menyerah sejak lama akan perhatian dari pemimpin kekaisaran Feng itu. Keluarga? Keluarga yang memiliki ikatan darah dari pihak ibunya sudah dilenyapkan.
Bunyi tabuhan genderang mengembalikan kesadaran Feng Wu Lan. Ia tak sadar sudah tiba di istana. Di sana, salah seorang prajurit mengabarkan ke Perdana Menteri Huo bahwa para panglima besar sudah di tunggu di dalam ruang sidang istana.