Chapter. 65

1.3K 87 7
                                        

Di sebuah pedalaman hutan, di mana cahaya bulan nyaris tak dapat menembus lebatnya rimbun pepohonan, api unggun menyala terang di tengah lingkaran batu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di sebuah pedalaman hutan, di mana cahaya bulan nyaris tak dapat menembus lebatnya rimbun pepohonan, api unggun menyala terang di tengah lingkaran batu. Lidah-lidah apinya menjilat udara malam, memantulkan bayangan bergerak di wajah-wajah kasar para pria yang duduk mengelilinginya. Suara binatang malam bercampur dengan letupan kayu terbakar, menciptakan irama sunyi yang mencekam.

Di antara para pria itu, salah satu dari mereka duduk di atas batang kayu besar, memandangi kobaran api dengan seksama seakan sedang melihat masa depannya sendiri liar, membakar, dan tak bisa dihentikan.

"Tuan, saya mendengar kabar bahwa besok akan ada dua orang bangsawan dari Kekaisaran Zhu yang akan melewati tepi hutan," lapor seorang pria kekar dengan banyak bekas luka di tangannya.

"Persiapkan penyerangan untuk besok," jawab pria itu tenang tanpa menoleh, suaranya dalam dan dingin.

Ia adalah Zhu Weishan, salah satu pangeran kekaisaran Zhu yang kini menjadi buronan kekaisaran. Dulu, ia hidup di istana dengan pakaian sutra halus, makanan melimpah, dan dilayani ribuan pelayan. Kini, ia makan dari rampasan, tidur di tanah, dan hidup dalam persembunyian bersama sisa-sisa orangnya, pengikut setia yang pernah mengangkatnya di masa kejayaannya, kini menjelma menjadi bandit, pembunuh, dan pengkhianat.

Langkah kaki cepat terdengar mendekat dari arah barat hutan. Beberapa pria refleks menggenggam senjata. Dalam sekejap, dua anak buah Zhu Weishan menyergap arah suara itu, dan sesosok lelaki berkerudung terguling keluar dari semak, disambut tebasan tipis yang nyaris melukai lehernya. Ia menangkis dengan cekatan, tapi tetap terkena goresan di bahu.

"Tunggu! Saya membawa pesan!" serunya lantang sebelum serangan lanjutan datang.

Zhu Weishan berdiri, suaranya menghentikan pergerakan semua orang. "Biarkan dia bicara."

"Saya adalah bawahan Perdana Menteri Xi. Perdana Menteri mengutus saya untuk menemui anda, Pangeran."

"Pangeran?" Zhu Weishan mendengus, sudah lama dia tidak mendengar seseorang memanggilnya dengan gelar itu. "Untuk apa Perdana Menteri dari kekaisaran musuh ingin bertemu buronan sepertiku."

Utusan itu menyodorkan sebuah surat yang berisi ajakan untuk bekerja sama untuk menyerang Kekaisaran Zhu.

"Omong kosong," ujar Zhu Weishan seraya melempar surat yang baru ia terima ke api unggun yang sedang berkobar.

"Tuan saya tidak beromong kosong, Pangeran. Beliau serius atas tawaran tersebut," ucap utusan itu mencoba meyakinkan Zhu Weishan." Beliau tahu Tuan masih menyimpan dendam atas apa yang terjadi. Dan beliau tahu, kekuatan Tuan belum sepenuhnya padam."

Zhu menyeringai kecil. Senyum itu bukan tawa, melainkan retakan tipis dari batu yang menyimpan lava. "Kekuatan? Aku hidup dari rampasan. Tidur di lumpur. Anak buahku mencuri roti dari karavan. Kalau dia mengira itu kekuatan..."

"Justru karena itu," potong si utusan. "Perdana Menteri akan menyiapkan pasukan tambahan untuk anda. Selain itu jalur pasokan, informasi dalam istana, bahkan jalan masuk ke ibu kota kekaisaran Zhu."

Rebirth of the Phoenix [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang